Barbie adalah mainan yang sangat identik dengan anak perempuan. Wujudnya berbentuk perempuan dan acap kali dimainkan oleh anak perempuan. Banyak dari kita yang berpikir bahwa bahasan tentang Barbie tidak jauh dari pembahasan mengenai tubuh dan sifat Barbie, yang sangat feminin.

Tanpa kita sadari, sebenarnya, Barbie merupakan simbol dari pemberontakan budaya yang sangat ditentukan oleh kacamata laki-laki. Budaya yang didominasi oleh pencitraan gadis dan perempuan yang tidak realistis dan berlebihan. Suatu budaya yang sebenarnya menampilkan sosok perempuan sebagai objek seksual dan keindahan semata.

Bayangkan saja jika sosok Barbie sungguh menjadi perempuan yang hidup maka ukuran pinggangnya akan sebesar ukuran kepala, dengan ukuran cup bra 34 DD, tinggi dua meter, dengan ukuran panjang pinggang hingga kaki yang lebih panjang dari ukuran panjang pinggang hingga kepala, dan lengan yang sama panjangnya dengan panjang kakinya.

Menjadi suatu hal yang ironis saat Barbie yang menyimbolkan pemberontakan tersebut, malah terlihat mengukuhkan “sosok perempuan sebagai objek seksual dan keindahan semata.”

Dengan menggambarkan seorang perempuan yang langsing, berambut panjang, dan bermata biru, seolah-olah boneka ini menyampaikan bahwa “seperti itulah perempuan yang sempurna.” Dalam hal ini, peran Barbie tidak hanya sebagai teman bermain gadis-gadis kecil. Tetapi juga sebagai suatu “artefak” yang memengaruhi pola pikir anak-anak.

Namun, terlepas dari itu semua, sebagai boneka, Barbie berusaha untuk menyentuh segala kalangan dan merepresentasikannya melalui keberagaman boneka Barbie. Ada Afro-American Barbie, ada Asian Barbie, ada Latino Barbie, dan lain sebagainya. Tetapi, apakah penggambarannya sesuai dengan kondisi masyarakat yang diwakili? Apakah Mattel Inc. sebagai produsen Barbie telah menggunakan tolok ukur yang sesuai untuk setiap jenis Barbie?

Topik perbincangan yang ditimbulkan oleh Barbie tidak jauh berbeda dengan perbincangan yang dihadapi oleh feminis multikultural di mana setiap perempuan memiliki latar belakang yang berbeda dan dengan permasalahan yang berbeda. Maka dengan demikian setiap perempuan membutuhkan solusi yang berbeda pula antara satu dengan yang lainnya.

Sekiranya, sosok Barbie yang berusaha menggambarkan sosok perempuan abad ini juga menghadapi perbincangan yang sama di mana saat Mattel berusaha menampilkan sosok Barbie Latino, namun sayangnya, dengan tolok ukur Barbie kulit putih. Maka timbul pertanyaan baru, “Tidakkah Barbie malah menjadikan perempuan kulit putih sebagai tolok ukur?”

*****

Boneka Barbie lahir berdasarkan keprihatinan Ruth Handler—pendiri Mattel Inc.—saat melihat putrinya bermain dengan boneka kertas yang diperlakukan seperti orang dewasa. Sekitar tahun 1950-an, boneka berbentuk bayilah yang paling banyak beredar di pasaran. Dari sini, Ruth melihat peluang untuk membuat mainan bagi anak-anak usia lima tahun ke atas.

Mimpi Ruth ini menjadi semakin kuat saat dia dan keluarganya—suami Ruth, Elliot Handler dan putri mereka Barbara yang namanya kemudian menginspirasi nama Barbie—berlibur ke Jerman dan melihat boneka “Bild Lilli” yang merupakan perwujudan dari tokoh kartun perempuan bernama Lilli.

Sekembalinya dari perjalanan tersebut, Ruth merancang ulang boneka Lilli menjadi boneka perempuan cantik bernama Barbie. Pada tanggal 9 Maret 1959, tepatnya pada acara International America Toy Fair di New York, Barbie secara resmi diperkenalkan. Tanggal tersebut juga menjadi hari lahir yang resmi untuk Barbie.

Acara perkenalan ini tidak hanya sekadar memperkenalkan sosok Barbie saja, tapi sekaligus memperkenalkan latar belakang Barbie yang dibuat secara khusus. Lagi-lagi bisa dikatakan bahwa Barbie merupakan mainan pertama di dunia dengan latar belakang yang dibuatkan khusus untuknya.

Dikatakan bahwa Barbie merupakan putri pasangan George dan Margareth Roberts. Barbie sendiri lahir dengan nama Barbra Millicent Roberts. Barbie dan orangtuanya tinggal di kota Willows, Wisconsin. Dikatakan juga bahwa sedari kecil Barbie sudah memiliki sifat-sifat perempuan yang “unggul” seperti gambaran masyarakat.

Sifat-sifat tersebut ialah sifat keibuan, tutur kata yang halus dan sopan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Selain itu, Barbie juga disukai oleh banyak pria di kotanya. Dari latar belakang Barbie yang demikian ini, saya mau melihat lebih jauh tentang sifat dan karakteristik Barbie, tidak hanya dari apa yang digambarkan oleh Mattel, tetapi juga oleh beberapa film Barbie.

Barbie sendiri bukanlah fenomena pascaperang dunia II. Barbie lahir dari kecenderungan di Eropa Barat, saat modernisasi menemukan bentuknya, industrialisasi berjalan, dan kelas menengah atas muncul. Saat di Prancis muncul boneka-boneka gaya, yang diberi nama “Parisienne”, yang tidak dijadikan sarana bermain anak-anak namun sebagai sarana peragaan busana.

Boneka “Parisienne” ini kemudian disamakan dengan realitas budaya adibusana (haute couture) sebagai lawan dari pakaian-pakaian yang diproduksi secara massal. Boneka mode ini yang kemudian ikut memengaruhi keberadaan Barbie sebagai boneka penentu arus mode.

Kedekatan antara anak perempuan dengan bonekanya, dan perempuan dewasa dengan kebutuhan berpenampilannya. Beberapa alasan inilah yang menjadi penyebab Barbie digambarkan dalam sosok perempuan.