2 tahun lalu · 180 view · 3 menit baca · Keluarga bara_rokok.jpg

Bara Rokok Itu Panas, Bung!

Setiap hari saya ketika saya mlipir dari kantor menuju shuttle bus, saya melewati deretan ruko dan sepanjang ruko banyak sekali para perokok sedang beraksi dengan gayanya masing – masing. Ada yang geleng – geleng kepala sambil menghembuskan asap rokok “mas sampean ki menungso dudu nogo", kui kebul dudu geni” biasa wae tho le ngudud, ada yang memandang rokoknya sambil dipilin – dipilin saya jadi ragu itu rokok apa akik kok ngeliatnya kayak gitu.

Di depan deretan ruko tersebut disediakan tong sampah setiap sekitar 4 meter dan ketika pagi harinya saya lewat situ, tahu dimana puntung – puntung berakhir?? di antara tong sampah yang segede ban bis Sumber Kencono.

Saya heran itu para perokok apa pas merokok kecolok rokok matanya, mau nyedot rokok ke bibir tapi luput ke mata sehingga gak lihat itu tong sampah di depan mata dan itu terjadi hampir setiap hari, sehingga saya berpikir jangan – jangan merokok bisa menyebabkan kebutaan partial alias sebagian, bagian selain tong sampah bisa terlihat pas tong sampah seperti ada kekuatan gelap yang menutupi matanya sehingga tong sampah jadi tak terlihat.

Apapun itu , hal tersebut menambah kebencian saya terhadap benda yang namanya rokok.

Anti rokok, ya saya memang anti rokok, tapi itu tidak menghalangi saya berteman dengan para perokok, bahkan teman – teman terdekat saya adalah perokok berat. Saya tidak pernah melarang mereka merokok dekat saya, dengan senang hati saya menghisap rokok dan mengimani peran saya sebagai perokok pasif, karena bagi saya itulah salah satu harga pertemanan yang harus saya bayar.

Tidak merokok sampai kapanpun itu adalah prinsip saya, dan prinsip itu terbentuk kuat sejak rokok dengan pasti menggrogoti paru – paru bapak saya, sehingga sampai pada suatu waktu pak dokter bilang sama bapak saya “pak panjenengan mandeg le ngudud po bapak pengen ketemu kalih Gusti Yesus cepet - cepet”, karena bapak ternyata masih pengen main catur dengan manusia di pinggir jalan pecinan dan bukan dengan malaikat di pelataran akhirat akhirnya bapak stop merokok.

Bagi saya merokok itu tidak baik untuk kesehatan, saya tidak mencoba untuk membuktikan nya dengan menyajikan banyak penelitian yang mendukungnya toh segala kesimpulan dari penelitian bahwa merokok itu berbahaya bisa diruntuhkan hanya dengan kata kata

“nyatanya mbahku ngerokok sampe umur 90, sehat – sehat aja” haa mungkin mbahmu punya ajian tolak kebul, ketika menghisap rokok, asap hanya mlipir bentar di paru – paru klinteran dilit njuk..haahhh, njepat metu dadi kringet.

Saya juga tidak akan jauh mengulas tentang gerakan anti rokok (tembakau) vs pendukung rokok (tembakau), karena bagi saya mereka punya agenda serta kepentingan masing – masing dan yang jelas bukan untuk menegakan Pancasila. Tapi saya tahu apa efek rokok terhadap keluarga saya, ya saya memang sangat sedih ketika bapak saya sakit parah akibat kebiasaan merokoknya, tapi minimal dia sakit karena pilihan dia untuk hidup sebagai perokok.

Tapi yang benar – benar menghancurkan saya adalah melihat ibu saya yang sedih dan harus pontang – panting ngurusin bapak yang sakit, ibuku sudah cukup berat hidupnya, banting tulang dan memeras darah buat anak – anaknya tidak perlu ditambahi ngurusi bapakku yang sakit gara – gara merokok. Bapakku yang mbeling itu sehat aja sudah nyusahin ibuku apalagi penyakitan, itulah yang benar benar mendorong saya untuk tidak merokok sampai akhir hayat.

Membayangkan sayya  ngrepotin, nyusahin dan bikin sedih keluarga dan orang – orang terdekat gara – gara saya sakit akibat dolanan kebul menahan saya untuk tidak merokok, cukup kebul bancakan dari teman – teman saya saja yang saya hisap. Dan saya yakin ibu saya sangat sedih ketika apabila anak – anaknya mengulangi kesalahan bapaknya untuk jadi perokok.

Bagi orang yang belum melihat sendiri akibat merokok dengan mata kepala sendiri atau merasakan sendiri saya tidak heran kalau mereka merokok. Karena mereka seperti para tukang nyil – nyilan ( ugal - ugalan) di jalan raya, yang tidak akan berhenti I sebelum njempalik dan njedir lambene ngambung aspal atau melihat orang yang mengalaminya.

Tapi bagi orang – orang yang sudah tahu dan merasakan sendiri akibat rokok terhadap keluarga , teman atau orang – orang terdekat dan masih ngerokok...lha itui baru luar biasa, luar bisa koplak.

Bara rokok itu panas bung!! Bara rokok itu bisa membakar bukan hanya paru paru dan uang tetapi kebahagian keluarga juga bisa terbakar oleh panasnya bara rokok. Pepatah “jangan bermain api bila tidak mau terbakar berlaku “untuk hal ini.

Saya adalah saksi kejamnya bara rokok, syukur bara rokok belum terlanjur menghanguskan keluarga saya dan masih bisa terselamatkan ,belum tentu pada orang atau keluarga yang lain.  Jauhilah rokok, karena "Bara Rokok Itu Panas Bung!!.

Note : Buat para perokok yang malas membuang sampah pada tempatnya tolong lakukan improvement agar merokok dengan konsep “puntungless”, bakarlah rokok dan sedot se filter – filternya sampai habis tanpa sisa nek ra tulung dileg tegesane. Shalom