1 tahun lalu · 358 view · 5 min baca · Media 84024_75799.jpg
www.pexels.com/photo/apple-applications-apps-cell-phone-607812/

Bara dalam Sekam Intoleransi

Bapak tak pernah capai mengingatkan ibu, betapa tak eloknya bila seorang muslim mengucapkan selamat hari raya kepada umat yang beragama lain. Konon, ibu memiliki sahabat karib yang beragama Kristen. Setiap hari raya Idul Fitri, sahabat ibu beserta keluarganya bertandang ke rumah. Turut sumringah menyambut hari kemerdekaan kaum muslim di lingkungannya.

Ketika Natal tiba, keluarga kami selalu mendapat kiriman ayam panggang utuh. Demikian persahabatan ibu terus terjalin dengan pincang. Rumah berkomposisi keluarga, sebagai wahana belajar paling dasar sudah tak memberiku pendidikan tentang toleransi. Rumah sudah intoleran sejak dini.

Saya tumbuh besar dan mulai menyangsikan wejangan bapak. Buku-buku yang saya baca lebih banyak mengutuk pandangan eksklusif dus memberi pengertian betapa pentingnya menyulam keharmonisan antar-umat beragama. Mengucapkan selamat hari raya kepada umat lain merupakan salah satu upaya sederhana dalam menjaga keharmonisan yang dicita-citakan masyarakat Indonesia dan bahkan dunia.

Narasi-narasi para intelektual baik muslim maupun nonmuslim memberi saya keyakinan bahwa betapapun oknum intoleran gencar melakukan propaganda dengan dalih agama. Lebih banyak lagi kaum moderat yang mahfum betapa toleransi ialah satu keniscayaan yang tak pernah alpa dari kehidupan keberagama(a)n di Indonesia. Tapi saya agak sanksi. Media sosial mempertontonkan hiruk-pikuk intoleransi yang kian hari kian banyak digandrungi masyarakat di jagad maya.

Goenawan Mohamad dalam Tentang Teks dan Iman, sebuah pidato yang disusun untuk ulang tahun Penerbit Mizan tahun 2001 (Pada Masa Intoleransi, 2017) membuat praduga yang perlu saya kutip agak panjang, “…di sebuah masyarakat yang dengan cepat, bahkan langsung, bergerak dari suatu keadaan praliterer ke dalam keadaan pascaliterer, dari suatu lingkungan yang tak hendak membaca, di mana media televisi mengisi hampir, setidaknya dalam dugaan saya, 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan sekolah menengah”.

Di tahun-tahun belakangan, media televisi mendapat rival yang cukup pesat perkembangannya. Minat masyarakat Indonesia terhadap konsumsi ponsel pintar terus menunjukkan kurva peningkatan. Dus diimbangi dengan kepemilikan akun-akun media sosial. Ponsel pintar sudah bukan lagi barang mewah, ia masuk ke segala penjuru daerah. Menjadi kawan keseharian masyarakat, baik yang berpendidikan menengah juga rendah.

Narasi Sakit Medsos

Orde media sosial seperti saat ini menjadi belati yang menusuk sendi-sendi keharmonisan antar-umat beragama. Ini semata-mata karena belum seimbangnya kuantitas kaum moderat dan kaum intoleran dalam memanfaatkan media sosial sebagai medium propaganda. Kaum intoleran lebih mudah kita jumpai lalu-lalang di media sosial sebab mereka memang serius mengonsep tampilan akunnya. Dus, mengoptimalkannya sebagai medium propagandis.

Perjalanan waktu menguatkan apa yang dituliskan Susan Buck-Morss dalam bukunya yang bertahun 2000, Dream World and Catastrophe (Pada Masa Intoleransi, 2017). Huruf dan desain grafis memberi massa sebuah “identitas”, dan “identitas” ini merupakan cara baru dalam mengorganisasikan massa. Orang menjadi bagian dari suatu kolektif dengan mengikuti tanda itu (hal. 70).

Akun-akun memilih nama beken dengan tak lupa mencatut hal-hal agamis. Sudah bukan rahasia, di era orde media sosial, agama memang menjadi komoditas yang menarik untuk dipertontonkan dan dalam program jangka panjang jelas diperjualbelikan. Di instagram, kita boleh menyebut di antaranya @IndonesiaTanpaPacaran, @gerakannikahmuda, @gerakanremajaberhijrah, @kajiansemangat, dan masih banyak akun-akun yang membawa visi serupa.

Saya mempelajari postingan di akun-akun tersebut dengan rasa sakit hati yang penuh. Postingan yang memuat unsur intoleransi berserakan. Hasil berselancar menunjukkan ada benang merah yang kuat antar-akun tersebut. Postingan @IndonesiaTanpaPacaran misalnya akan mudah kita jumpai juga di akun @gerakannikahmuda. Begitupun sebaliknya.

Akun-akun ini telah diikuti oleh ratusan ribu akun khalayak jagad maya. Menyasar kaum muda milenial, akun-akun ini pandai menyusun agenda promosi. Banyaknya pengikut akun-akun ini tentu memudahkan pengelola-penggagas untuk menyusun gerakan massa yang melibatkan pertemuan fisik. Indonesia Tanpa Pacaran dengan berani telah menggelar Deklarasi Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran di beberapa kota di Indonesia.

Berkelindan dengan umat agama lain misalnya, sebagian besar akun-akun yang tersebut di atas memuat postingan ihwal tidak seharusnya umat islam merayakan hari valentine. Kalimat-kalimat plesetan nun nyinyir khas kaum muda milenial diproduksi pengelola media sosial pujaan umat maya ini. “Gw gamau valentinan! Maunya pengantenan yang bajunya couplean…” (postingan di akun instagram @gerakannikahmuda, 14 Februari 2018).

Narasi demikian jelas sakit. Saya tentu saja tidak yakin para pengikut akun instagram tersebut paham bahwa narasi begitu ialah bentuk sederhana intoleransi. Para pengikut jelas lebih dulu terpikat-terpukau dengan kalimat kedua. “…maunya pengantenan yang bajunya couplean”. Narasi-narasi yang demikian muncul di beragam akun yang memiliki visi sejenis.

Video pendek memuat ceramah Ustaz Buya Yahya: Jangan Mengagungkan Valentine Day yang diunggah di akun instagram @kajiansemangat pada tanggal 12 Februari 2018 lebih menyedihkan lagi. Bagaimana seorang ustaz dengan penuh kesadaran mengatakan valentine merupakan budaya “kaum kafir”. Penggunaan sebutan “kaum kafir” ini sungguh melukai saya sebagai seorang muslim. Bagaimana pula, seorang ustaz dengan sembrono menyebut kaum yang mengindahkan valentine ini dekat dengan api neraka.

Saya sendiri tak punya cukup pertimbangan untuk membantah propaganda mereka ihwal pelarangan merayakan valentine. Yang hendak saya kutuk ialah pilihan kalimat yang sakit. Guna menjaga marwah budaya kaum agama lain – dalam hal ini ihwal valentine –, kita tidak seharusnya menggunakan kalimat-kalimat yang potensial disalahtafsirkan. Lebih-lebih, saya rasa tidak perlu mendengung-dengungkan betapa merayakan hari ini hari itu haram dengan menjelek-jelekkan kaum lain di media sosial yang riuh itu.

Selaras dengan hal-ihwal itu, beberapa kawan yang coba saya tanyai bagaimana pandangannya soal mengucapkan selamat hari raya kepada kaum beragama lain beranggapan hal itu tidak seharusnya dilakukan. Beberapa di antara mereka kerap mendapat ucapan selamat hari raya dari kaum agama lain dus kadangkala mereka sadar betapa tak adilnya diri mereka. Kendatipun demikian, pandangan tentang pentingnya mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain tak berhasil melampaui belenggu pandangan awal mereka.

Media perpesanan whatsapp, sejauh pengalaman saya riuh sekali dengan pernyataan-pernyataan intoleransi berdalih agama. Ihwal mengucapkan selamat hari raya kepada umat beragama lain, kita akan dihadapkan pada hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. Padahal perlu sekali mengaitkan hadis ini dengan latar belakang kemunculannya. Untuk kemudian melakukan tafsir ulang supaya sesuai dengan kondisi sosial mutakhir.

Optimalisasi Medsos

Betapapaun media arus utama: televisi, media cetak dan kemudian disusul versi daring terus berupaya membingkai berita dengan asas keberagaman. Kita perlu lebih banyak akun media sosial yang dikelola secara serius oleh kaum moderat. Untuk menyebut di antaranya @fnf.indonesia, @sabdaperubahan, @wahidfoundation, @nugarislucu. Akun-akun moderat yang mempropagandakan perdamaian dan keberagaman itu saya kira masih kalah massif geraknya dibanding akun-akun bermuatan intoleransi.

Akun-akun bermuatan intoleransi dalam sehari memposting puluhan desain visual bertabur kata-kata magis bagi para pengikutnya. Sementara akun-akun moderat tak ajeg membuat postingan. Saya pikir memang perlu berbuih-buih untuk mengimbangi gerakan-gerakan intoleransi melalui media sosial. Guna mendapat lebih banyak simpati dari publik jagad maya.

Kendatipun Wahid Foundation katakanlah fokus terhadap penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan untuk menyemai benih-benih toleran, ia tetap butuh mengelola media sosialnya dengan optimal guna menjangkau lebih banyak lagi kaum muda milenial. Barangkali lebih tepatnya, menyelamatkan kaum muda milenial dari kemungkinan terjangkit penyakit intoleransi.

Menyitir Goenawan Mohamad, ibarat buku merupakan ujud kalam atau argumen yang dituliskan yang lemah berbisik (Pada Masa Intoleransi, 2017: 84). Kendatipun lebih kaya ketimbang kata yang dipajang dan diteriakkan, kata-kata yang seolah hadir secara fisik melalui desain visual, gambar hidup, fotografi menjangkau sejumlah besar manusia sekaligus.

Massa seolah merupakan kekuatan yang bersatu dalam kecenderungan selera, kesamaan, yang bisa digerakkan, atau terdorong untuk bergerak. Lalu terciptalah kekuatan atau kekuasaan. Sudah saatnya kaum moderat turut membentuk kekuasaan baru di orde media sosial.[]

Artikel Terkait