35836_91762.jpg
Memperlihatkan serangan bertubi-tubi dari pemerintah Suriah terhadap basis-basis oposisi di Ghouta Timur, Suriah pada hari Minggu. (cnn.com)
Politik · 4 menit baca

Bara Api di Ghouta Timur Suriah

Konfrontasi antara pemerintah Suriah dan pihak oposisi kembali terjadi. Setelah militer Suriah memperoleh kemenangan besar beberapa waktu lalu di Idlib, kini serangan darat dan udara besar-besar tak terelakkan.

Desingan peluru, bom barrel hingga fosfor kembali menghiasi langit Suriah. Namun, ironisnya memanasnya situasi ini adalah bagian dari resolusi PBB.

Beberapa minggu lalu, Dewan Keamanan PBB mendukung genjatan senjata selama 30 hari ke depan. Mereka mengungkapkan tidak bisa mentolerir kelompok teroris seperti Hay’at Tahrir Syam/Front an-Nusra dan sisa-sisa militan ISIS.

Langkah PBB mengambil tindakan menurut saya tidak dibenarkan. Pasalnya, PBB terkesan gegabah dan terburu-buru mengambil tindakan walaupun menurut mereka tindakan ini sebagai langkah membrangus benteng terakhir teroris. 

Tapi tetap saja Ghouta adalah salah satu basis perlindungan masyarakat sipil. Artinya, akan timbul korban dalam jumlah besar.

Narasi lain genjatan senjata itu guna menyediakan jalur suplai bantuan kepada warga sipil. Memang benar, jika konflik tak terkendali Suriah melahirkan krisis kelaparan berkepanjangan, hal ini bisa kita saksikan di kanal-kanal YouTube bagaimana nasib anak-anak Suriah yang mati kelaparan akibat embargo rezim. 

Akan tetapi, jika memang begitu, alangkah baiknya PBB mengambil langkah strategis mengevakuasi warga sipil terlebih dahulu mencegah timbulnya korban jiwa dan langkah ini lebih rasional.

Entah apa pertimbangan selain genjatan senjata dan suplai bantuan kemanusiaan Dewan Keamanan PBB. Kemungkinan resolusi ini ingin segera mengakhiri konflik, mencari solusi bersama dengan pihak-pihak yang bisa berdialog, merundingkan masa depan negara yang sudah seperti neraka itu. Apakah hanya dengan menumpas teroris di Ghouta akan mengakhiri krisis?

Belum tentu, selain kelompok teroris HTS dan ISIS dan faksi-faksi lainya, Free Syrian Army (FSA) adalah elemen oposisi paling kuat, baik dari segi dana dan jumlah anggotanya yang sangat besar, pasalnya FSA terbentuk dari gerakan dalam pemerintah sendiri yang ingin Bashar al-Assad lengser. FSA mendapat dukungan luas baik dari kalangan militer dan kelompok Sunni yang kemudian tergabung dalam gerakan dan cabang-cabangnya.

Jika pemerintah memberangus dua elemen sekaligus, maka akibatnya fatal, kekhawatiran kemungkinan bergabungnya kelompok teroris dengan FSA yang tentunya makin mempersulit pemerintah dan dunia internasional. Di samping karena FSA adalah alat kekuatan blok negara-negara Teluk.

Akibat dari diberlakukannya genjatan senjata ini, hanya dalam beberapa hari saja telah menewaskan ratusan warga sipil. Perlu diketahui, genjatan senjata belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan pemerintah bahkan masih jauh, untuk menutupi keberutalan dan tindakan keji rezim Bashar al-Assad atas warga sipil, mereka berupaya menggiring sebuah opini bahwa teroris sudah terhimpit dan menunggu waktu menyerahkan diri.

Bagaimana seharusnya PBB bertindak atas memanasnya situasi di Ghouta Timur? Menurut saya, seharusnya sebelum diberlakukan genjatan senjata, harus memenuhi beberapa prosedur demi menjamin keamanan dan suplai bantuan medis dan makanan bagi masyarakat.

Dan harus melakukan perundingan dengan melibatkan negara-negara Teluk, tercapai kesepakatan hingga langkah tuntas penyelesaian konflik bila perlu tanpa konfrontasi sekalipun karena negara Teluk (Arab Saudi, Qatar dan lainnya) adalah salah satu pemain kunci, mendanai sekaligus mempersenjatai Free Syrian Army dan bahkan sebagian dari faksi teroris.

Langkah ini dilakukan bila pemerintah ingin menumpas kelompok teroris, al-Qaida, HTS dan ISIS. Kedua, mengevakuasi masyarakat sipil yang tinggal diwilayah itu, karena data sementara menunjukkan kurang lebih 400.000 warga sipil memilih tetap tinggal.

Menunggu Langkah Konkrit

Arah negara ini belum dapat dipetakan secara pasti, sebab tarik ulur, tuntutan pihak bertikai masing-masing tidak dapat dipenuhi. Seperti saya tuliskan pada tulisan sebelumnya, jika oposisi hanya ingin Bahar al-Assad mundur dari jabatan presiden karena satu-satunya langkah proses rekonsiliasi berjalan jika Bashar al-Assad mundur dan tuntutan politik lain dipenuhi.

Sementara, militer dan milisi-milisi regional rela menumpahkan darah membela posisi Bashar al-Assad. Karena apabila Bashar lengser situasi politik akan semakin pelik sebab secara otomatis sekutu (blok Barat) keluar sebagai pemenang. Setidaknya inilah yang saya perhatikan dari peta konflik Suriah.

Langkah konkrit dari PBB untuk menyelesaikan konflik hingga kini masih diupayakan, bertahun-tahun sejak meletusnya konflik, beragam upaya dari perundingan mulai dari mempertemukan langsung antara delegasi pemerintah dan oposisi  pun sudah dilakukan. Namun, tetap belum ada harapan.

Baru-baru ini tindakan sepihak Rusia, Iran dan pemerintah Suriah sendiri berupaya mencegah intervensi langsuh Amerika Serikat. Tindakan ini agar tidak memperkeruh sekaligus menyerahkan penyelesaian pada satu kekuatan, namun lagi-lagi Rusia, Iran dan Hizbullah adalah sekutu-sekutu berat presidan Bashar al-Assad.

Mungkinkah Amerika Serikat dan Rusia dapat bersanding dan sepakat menyelesaikan konflik? Menurut saya, cara ini sulit untuk terwujud, walapun Donald Trump berhubungan baik dengan Vladimir Putin tetap sajak langkah politik atas nama kepentingan tidak bisa diganggu gugat. Amerika dan Rusia ibarat minyak dan air yang tidak akan bersatu, dan ingin menjadi paling dominan satu dengan lainnya.

Akhirnya, Suriah menjadi ajang unjuk gigi, siapakah yang lebih kuat dan paling mendominasi. Wilayah utara dan timur Suriah telah rata dengan tanah, butuh puluhan tahun untuk merestorasi infrastruktur dan prekonomian negara yang terlampaui hancur total.

Intensitas konflik tetap tak terkendali, negara-negara terlibat pun mulai mengalami guncangan ekonomi domestik, prekonomian Rusia mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir adalah konsekuensi logis dari pendanaan perang yang begitu besar. 

Begitu juga Iran, bertahun-tahun terlibat langsung dalam konflik Irak dan Suriah, kini negara itu mulai diguncang dengan pelambatan ekonomi, harga bahan-bahan pokok dan buntutnya demonstrasi besar-besaran yang terjadi beberapa waktu lalu.