Pamong Sanggar
2 minggu lalu · 188 view · 5 menit baca · Cerpen 87096_39086.jpg
Ilustrator: Daioe

Bapak Saya Bukan Pak Paijan

Kata Ibu, saya adalah potret dari bapak saya. Kalau ada yang bilang anak seperti bapaknya, mungkin saya adalah salah satu yang mewakilinya. Bapak saya berambut keriting dan sorot matanya tajam bagai matahari yang baru saja bersinar di langit timur. Dan kata Ibu pula, bapak saya itu sama persis seperti saya.

Di jalanan pagi waktu itu saya memanggil orang yang lalu lalang dengan sebutan bapak. Sayang sekali Pak Paijan tidak menanggapi panggilan saya, yang membuat ibu saya murka dan sedih waktu itu, kemudian berbisik kepada saya, “Itu bukan bapakmu, bapakmu berambut keriting dan memiliki sorot mata tajam bagai matahari bersinar di langit timur, persis seperti kamu, Le!”

Saya memang hanya menemukan sosok kakek penyayang anak-anak pada masa kecil saya waktu itu. Meski semua anak-anak kecil di kampung nyaman dan bahagia di dekatnya, namun saya tetap mencari sosok bapak yang tak pernah saya jumpai sejak saya lahir. Berbulan-bulan bapak saya tak kunjung pulang. Sampai sang bulan beranjak menjadi tahun pun bapak saya tetap saja tak kunjung pulang.

Kakak-kakak saya senang sekali dengan ketidakpulangan Bapak, mungkin karena  mereka menjadi bebas bermain sesuka hati tanpa ada yang memarahi bila berbuat kesalahan. Tetapi tidak demikian dengan saya. Saya sungguh merindukan sosok bapak tiap kali kakak-kakak saya berceloteh tentangnya.

Saya tidak tahu pasti apa alasan bapak meninggalkan saya saat saya masih di kandungan Ibu. Tapi saya dapat merasakan kesedihannya kala itu, demikian pula dengan kesedihan Ibu saat ditinggalkan Bapak pergi entah kemana, meskipun saya hanya bisa mengintip sedikit celah hati mereka dari dalam rahim Ibu.

Berpisah untuk sementara waktu mungkin adalah jalan terbaik untuk nantinya dapat kembali berkumpul. Namun sampai hari kelahiran saya tiba, tepat saat matahari terbit waktu itu, bapak saya tetap saja tak kunjung pulang. Dan Bapak pun akhirnya hanya mewariskan rambut keriting dan sorot matanya yang tajam bagai matahari baru bersinar di langit timur kepada saya.

Pak Paijan adalah seorang petani yang sering saya jumpai. Setelah Ibu mengatakan rambut bapak saya keriting, saya menjadi mengerti bahwa Pak Paijan atau orang-orang lain yang lalu lalang yang pernah saya panggil bapak adalah bukan bapak saya. Pak Paijan berambut lurus, maka ia bukan bapak saya. Dan sejak saat itu pulalah, saya akhirnya bisa membedakan antara rambut keriting dan rambut lurus.

“Bapak!” Begitu saya memanggil bapak saya di sebuah cermin agar bapak saya pulang. Saya melihat wajah saya dengan cermat di sebuah cermin tiap kali ada kesempatan tanpa malu-malu dan memanggilnya untuk pulang. Bila saya adalah potret bapak saya, maka saya pun berpikir untuk mencoba mengenalinya dengan melihat diri saya di cermin, terutama pada bagian rambut dan mata saya. 

Tak sekedar mirip secara fisik, saya pun juga berpikir mungkinkah bapak saya juga mencari-cari figur bapaknya di masa kecilnya seperti saya? Dan ternyata dugaan saya tidaklah meleset. Dari pembicaraan ibu dan kakak-kakak saya tentang Bapak, baru saya ketahui bahwa ternyata Bapak hanya diasuh oleh kakek neneknya karena ia adalah seorang yatim piatu tanpa seorang pun saudara. 

Saya memang tak begitu mengerti dengan percakapan itu, tapi saya menjadi sedih tiap kali memikirkan bapak saya, meskipun saya menjadi merasa lebih beruntung berada dalam kehangatan keluarga besar saya. Kakek, Nenek, Ibu dan keempat kakak saya.

Dari cerita yang bisa saya tangkap, bapak saya telah kehilangan ibunya pada saat ia berusia dua tahun karena sakit, dan ia pun juga ditinggalkan bapaknya pergi entah kemana di masa penjajahan sebelum negeri ini merdeka. Kakek dan neneknyalah yang akhirnya mengasuhnya dengan penuh kasih sayang bersama dengan tante dan juga pamannya. Saudaranya pun akhirnya menjadi melimpah tiap kali sepupunya lahir ke dunia satu per satu.

Ternyata bapak saya juga mencari-cari bapaknya di masa kecilnya. Terlunta-lunta tanpa arah tujuan di pinggir jalan mengikuti Pak Kusir baik hati yang menemukannya. Dengan koreng di kakinya yang semakin parah dan gatal, ia terus mencari dan mencari di antara hilir mudik tentara Jepang waktu itu. 

Bapak masih terus berharap dapat bertemu dengan bapaknya, sama sepertiku. Sampai pada suatu waktu tiba-tiba ia mengakhiri pencariannya, bukan karena lelah dan putus asa, tapi saat ia telah menyadari bahwa setiap anak yang ditinggalkan bapaknya apa pun alasannya, dialah yang sebenarnya dikatakan anak-anak Allah yang ada di Bumi dan akan mendapatkan kasihNYA langsung bila ia ikhlas menerima jalan hidupnya.

Pak Kusir yang baik hati itu pun akhirnya merawat bapak saya untuk beberapa waktu. Sampai sebuah keajaiban terjadi di sudut sebuah taman kota saat sang kakek menemukannya kembali dan merengkuhnya dalam pelukannya yang hangat. Bapak saya akhirnya tak lagi mencari bapaknya, kasih Sang Pencipta telah cukup menghidupi jiwanya. Tapi bagaimana dengan saya? Apakah saya merasa kurang kasih sayang di antara Ibu, Kakek, Nenek dan Kakak-kakak saya karena masih terus mencari dan merindukan bapak saya?

Senja akhirnya beranjak mengantar sang rembulan pada malam yang dingin, dengan banyak pertanyaan dalam pikiran saya. Dan kesunyian semakin sempurna ketika bintang-bintang semakin redup disapu awan kelabu. Saya masih sibuk mencari bapak saya dalam petualangan imajinasi saya. Membayangkannya berada di suatu tempat yang jauh dan memandang ke langit malam yang sama. Dan itu ternyata cukup ampuh mengobati kerinduan saya akan sosok bapak bagi saya.

“Bapak!” Saya memanggilnya sekali lagi sambil menatap satu bintang yang masih menampakkan sinarnya. Saya masih memiliki harapan yang kuat untuk dapat bertemu Bapak dan tak lagi memanggil Pak Paijan dengan sebutan Bapak. Karena itu menyakiti hati ibu saya. 

Dalam gendongan Ibu pada suatu hari, saya hampir saja menyerah dengan gemuruh kerinduan dalam nadi saya kepada Bapak. Saya dapat merasakan sakit di hati Ibu, tiap kali saya menanyakan tentang bapak saya. Maka saya pun akhirnya menahan diri untuk bertanya lagi. 

Saya memang benar-benar tidak tahu pasti apa alasan dari Ibu dan Bapak sampai ada perpisahan di antara mereka, tapi saya tahu persis bahwa mereka adalah dua sosok pemaaf karena saya telah melihatnya dengan jelas pada sebuah cermin yang ada di hati saya. Dan mereka telah mewariskan itu pada darah saya. 

Dalam gendongan Ibu pada suatu hari itu, saya akhirnya bertemu dengan sosok bapak saya itu dan dia berdiri tepat di depan saya. Tapi Ibu mengatakan bahwa dia bukan bapak saya dengan suara bergetar, namun sayangnya saya tak percaya padanya kali ini dan langsung berlari menghambur ke dalam pelukannya, “Bapak!”

Saya tak harus melihat seberapa keriting rambutnya dan setajam apa matanya. Saya telah mengenalinya jauh sebelum perjumpaan ini. Sakit hati Ibu pun akhirnya memudar melihat kebahagiaan kami dan akhirnya tersenyum seraya berkata, “Ya, dia bapakmu, Le!” 

Saya adalah potret dari bapak saya. Kalau ada yang bilang anak seperti bapaknya, mungkin saya adalah salah satu yang mewakilinya. Bapak saya berambut keriting dan sorot matanya tajam bagai matahari yang baru saja bersinar di langit timur. Lihatlah, rambut dan sorot dari mata bapak saya sama persis seperti saya. Dan bapak saya bukanlah Pak Paijan.