Berbicara kehidupan tak lepas dari yang namanya pelajaran dan pengalaman hidup. Pengalaman hidup sendiri merupakan pelajaran terbaik dari segala sesuatu hal yang pernah kita lalui sebelumnya, sehingga dapat menghasilkan suatu pelajaran berarti.

Sedangkan pelajaran secara formal sendiri dapat kita peroleh lewat suatu pendidikan di sekolah tempat kita menimba ilmu. Sekolahlah tempat kita menimba ilmu, tak peduli swasta, negeri, ataupun apalah namanya itu, Bapak dan Ibu Gurulah yang akan memberikan kita ilmu.

Peran Bapak dan Ibu Guru tak perlu diragukan lagi, karena guru adalah seorang yang berjasa dalam kehidupan kita. Ilmu, pengetahuan, dan pengalaman rela ia berikan demi keberlangsungan kehidupan anak bangsa.

Guru merupakan sosok panutan yang sepatutnya digugu dan ditiru, begitulah biasanya orang menafsirkan kata guru (digugu dan ditiru). Dedikasi pengorbanan dan perjuangannya demi mencerdaskan kehidupan anak bangsa selalu terukir di hati kita, begitulah salah satu tujuan bangsa menurut Undang-Undang Dasar 1945.

Dahulu, pandangan guru sebagai teladan yang patut dihormati dan disayangi sangatlah melekat bahkan tak lekang oleh waktu. “ Itukan dulu,” kataku dalam hati, “Lalu bagaimana saat ini?” Ya, kita semua tahu, kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan masa lalu.

Di masa lalu, Bapak dan Ibu Guru menegur murid adalah hal yang wajar, bahkan terkesan biasa sebagai bentuk perhatian mereka terhadap para muridnya. Bahkan tidak hanya menegur saja, terkadang mencubit seorang murid yang agak sedikit bandel memang pelu dilakukan pada waktu itu.

Memang hal yang berbau fisik tidak selamanya dibenarkan, tetapi lihatlah hasilnya seorang yang biasa ditegur dengan nada keras ataupun dicubit oleh seorang guru akan mengerti apa maksud dan tujuan guru tersebut.

Mereka akan terbiasa untuk berintrospeksi diri atas kesalahan apa yang ia buat sehingga bisa membuat seorang guru menjadi jengkel, tidak sedikit pula murid tersebut akan memiliki mental yang kuat saat dewasa nanti.

Dulu, tak jarang orang tua para murid mendukung apa yang dilakukan oleh para guru. Mereka beranggapan hal yang dilakukan oleh para guru sudah benar, apabila anak mereka melakukan kesalahan maka harus diberi hukuman, bahkan jika perlu orang tua juga akan memberi hukuman setelah mengetahui anaknya berbuat kesalahan saat di sekolah.

Tidak lain dan tidak bukan tujuan guru dan orang tua sebenarnya sama yaitu mendidik dan mengajarkan hidup disiplin, bertanggung jawab, dan introspeksi diri terhadap diri sendiri mengenai kesalahan yang telah ia buat untuk diperbaiki dan tidak diulang lagi.

Lihatlah kondisi pendidikan negeri kita sekarang saat ini. Banyak sekali kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan. Entah orang akan menganggap apa itu? Mungkinkah sudah menjadi sebuah tradisi baru? Atau mungkin hanya sekadar tiru-tiru?

Seorang siwa yang menantang gurunya sendiri mungkin beranggapan dirinya seorang yang pemberani. Seorang yang memukul gurunya sendiri mungkin mungkin beranggapan akan memiliki kebanggan tersendiri.

Akankah hal tersebut akan berlanjut? Miris, ya itulah kondisi yang menggambarkan wajah pendidikan Indonesia akhir-akhir ini. Guru seperti tidak memiliki harga diri lagi, seseorang yang seharusnya dihormati malah mendapat perlakuan yang sangat tidak terpuji.  

Bahkan, orang tua para murid sendiri yang tidak tahu apa-apa langsung marah ketika mendengar cerita dari anaknya sendiri, bahwa mendapat perlakuan yang kurang baik di sekolah oleh gurunya sendiri.

Lalu, dengan mudahnya orang tua tersebut akan emosi, dengan gagahnya datang ke sekolah bersama anaknya dan mencari guru yang dimaksud. Keluarlah suara yang lantang dengan nada keras dari orang tua tersebut untuk memarahi guru yang bersangkutan.

Tak jarang pula jika benar-benar tak terima terhadap perlakuan si guru terhadap anaknya, orang tua tersebut akan menantang bahkan tak segan menghajar si guru tersebut.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Apakah salah para murid? Ataukah salah para guru? Atau mungkin sistem pendidikan dan pemerintah yang harus bertnggung jawab? Pertanyaan yang selalu terbenak di dalam pikiranku.

Tak mungkin kita dengan mudah langsung menyalahkan para murid, karena murid sekarng sangatlah berbeda dengan murid zaman dulu. Tak mungkin juga kita menyalahkan para guru karena ilmu yang kita peroleh juga berasal dari Bapak dan Ibu Guru.

Bapak dan Ibu Guru tak seperti dulu, mungkin itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan kondisi mereka saat ini.

Ingin berbuat tegas kepada muridnya tapi takut si murid tak terima. Ingin mendidik dengan dasar kedisiplinan kepada para muridnya, mungkin si orang tualah nanti yang tak akan terima. Merasa bimbang dan takut salah itulah mungkin yang terbenak di dalam pikiran mereka.

Untuk itu kita sebagai murid juga harus sadar, tidak mungkin semerta-merta Bapak dan Ibu Guru melakukan sedikit tindakan berbau fisik karena dasar kebencian kepada kita.

Pasti ada tujuan mulia dibalik itu semua. Pasti ada maksud mulia di balik itu semua. Kita harus sadar dan mengerti bahwa hidup tak boleh seenaknya sendiri, ketika kita melakukan suatu kesalahan kita juga harus siap menerima suatu hukuman.

Terbiasalah untuk terbentur, terbentur, terbentur, agar kelak kita akan terbentuk menjadi pribadi yang lebih mulia, mapan dan bijaksana dalam menghadapi kehidupan.