Kita sering mendengar slogan pariwisata daerah seperti The Spirit of Java atau The Island of Gods. Apakah semua itu hanya pencitraan semata atau branding belak? Ataukah pariwisata daerah tersebut memang dalam kategori extraordinary?

Bagaimanapun, slogan sebagai branding ternyata dianggap penting. Terdapat program survei yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF), yaitu Travel & Tourism Competitiveness Index, di mana menempatkan branding Wonderful Indonesia berada di peringkat 47 slogan terbaik di 2015, jauh di atas Malaysia Truly Asia yang menempati posisi ke-95.

Kabupaten Banyuwangi memiliki branding The Sun Rise of JavaMungkin slogan ini diinspirasi dari matahari terbit di puncak Gunung Ijen, setelah sebuah pencarian pendakian menemukan api biru di dasar kawah; cahaya matahari di puncak Gunung Ijen di saat fajar juga cahaya api biru telah menggerakkan para petualang dan pendaki dari seluruh dunia untuk berkumpul di Banyuwangi.

Mungkin inilah alasan mengapa Banyuwangi disebut Matahari terbitnya Jawadwipa. Ijen begitu sublim, seperti gunung di Wander Above the Sea of Fog karya Caspar David Friederich (1817). Akan tetapi, apakah itu saja?  

Jika kita hendak mendaki ke kawah, atau tinggal di sekitar lereng, kita akan menemukan warung dan resto kopi. Di situlah kita akan sekali lagi menemukan yang terbaik. Sekali lagi, selain sensasi mendaki gunung, mencapai kawah, dan bermandi cahaya matahari di puncak, menikmati kopi yang ditanam di lereng Gunung Ijen. 

Kopi Ijen atau juga disebut kopi Tiwus, jika pengolahannya ditubruk atau dipecah, adalah yang terbaik. Bahkan proses pembuatannya diabadikan di dalam batik bernama "Kopi Pecah". Ia memiliki filosofi bahwa untuk mencapai sesuatu tidaklah mudah dan instan. Seperti biji kopi, ia mesti dipecah dulu, ditumbuk, baru ia dapat diseduh dan dinikmati.

Kopi Ijen juga telah menginspirasi penulis seperti Dewi Lestari untuk membuat kumpulan cerpen berjudul Filosofi Kopi yang kemudian difilmkan. Ia mengambil setting lereng Gunung Ijen dan angel petani kopi bernama Pak Seno dan Bu Seno, sebuah cerita perjalanan merawat perkebunan Kopi Ijen turun-temurun milik keluarga.

Film ini sangat diminati sebab ia menyuguhkan diksi-diksi dan persoalan-persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan keseharian. Sementara itu, filosofi kopi sungguh sangat jelas seperti yang dikatakan El, salah satu tokoh dalam film ini yang diperankan Julie Estel, seorang pereview kopi internasional yang juga seorang penulis, "Membuat kopi tak cuma memakai kepala, tapi juga hati."

Oleh sebab itulah Kopi Tiwus menjadi yang terbaik dan paling sempurna. Hal ini ternyata bukan sebuah adegan dalam film atau karangan fiktif di dalam cerpen, akan tetapi sebuah kenyataan keseharian di dunia nyata, di dalam masyarakat Banyuwangi sendiri.

Di dalam masyarakat Osing, terdapat sebuah filosofi sendiri soal minum kopi, "Sekali seduh, menjadi saudara untuk selamanya." (National Geographic Indonesia, 2016)

Juga soal Kopi Ijen, yang menjadi bahan dasar kopi Tiwus (diolah secara tradisional). Sebuah kenyataan pula bahwa Kopi Ijen merupakan bahan kopi terbaik ke-3 di dunia untuk kopi Espresso (diolah secara modern). (Espresso & Coffee Guide, 2018)

Sejak 1880-an, era kolonial Belanda, kopi dari Jawa telah menjadi pemasok kopi dunia dan mencapai ekspor ke-3 terbesar hingga kini. Di masa kolonial, dibuka 4000 hektare perkebunan di Djampit, Blawan, Pancor, dan Kayu Mas.

Sejak abad 17, kopi daerah ini banyak dinikmati orang di seluruh dunia. Secara umum, kopi dari Banyuwangi diekspor ke Swiss, Saudi Arabia, Qatar, Mesir, Jepang, Italia, Inggris sebesar 378 ton (Urbana.com). Sementara itu, kopi Ijen lebih banyak diminati di Eropa.

Selain kopi Ijen yang kemudian menjadi inspirasi batik kopi pecah dan di-launching pada 2017, November 2019 ini, Banyuwangi juga me-launching motif batik dengan sebutan Blarak Sempal.

Batik Banyuwangi telah ada sejak zaman dahulu, akan tetapi dikembangkan agar lebih kontemporer. Salah satunya dengan menambah warna sembur pada motif batik klasik. Misalnya, efek gradasi atau sembur pada batik motif Gajah Oling yang dijual di banyak outlet atau toko.

Gajah Oling sendiri berarti oling/eling/éling: menyadari, kehadiran semesta yang mahabesar. Selain motif klasik Gajah Oling, ada juga yang disebut sebagai batik motif Gedhegan yang diangkat dari rumah tradisional suku Osing yang berarti dinding dari bambu yang dianyam. 

Rumah gedheg bisa dijumpai di desa Kemiren, yang baru saja mendapat penghargaan dari Gubernur sebagai desa wisata terbaik se-Jawa Timur. Desa ini juga dinobatkan sebagai desa terindah setelah Petitenget di Bali. Desa ini juga menjadi sentra batik di Banyuwangi. Batik dari suku Osing telah diekspor ke Italia, Prancis, Inggris, dan Australia. 

Jika Anda ingin berkunjung ke Kemiren, desa ini dapat dijangkau dari Bali dengan kapal feri dari Gilimanuk. Anda lalu mengambil kereta dari pelabuhan Ketapang tiba di Banyuwangi Baru, lantas lalu memesan ojek 30-40 menit.

Jika menggunakan pesawat dari Jakarta atau Surabaya, Anda bisa tiba di Bandara Blimbingsari lalu menempuh waktu 35 menit dari bandara untuk tiba di Kemiren.

Di perdesaan Suku Osing juga di sentra-sentra batik di sekitar Kemiren, Anda bisa mendapatkan batik dengan motif terbatas (limited edition) atau hanya satu-satunya.

Jika Anda ingin packing yang sangat baik atau jika Anda terburu-buru, Anda bisa langsung ke outlet, contohnya "The Using" yang berada di pintu masuk Hotal Santika. Hotel ini dekat dengan stasiun Banyuwangi Baru. Hotel ini bisa menjadi pilihan menginap jika Anda sedang transit, ingin pergi ke Bali. Selamat menempuh perjalanan ke negeri matahari!