CommunityDevelopment
3 minggu lalu · 654 view · 4 menit baca · Lingkungan 69882_20772.jpg

Bank Dunia Meliriknya

Mendengar kata "Bank Dunia", spontan aku menyela, “Ini sedang tidak bercandakan, Pak?”

“Iya, serius, Ben. Minggu depan jadwal kunjungannya. Tolong komunikasikan dengan teman-teman di desa.”

Jujur aku kaget saat atasan menyampaikan adanya rencana kunjungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Bank Dunia ke desa binaan kami pada minggu ke-5, tepatnya 27 Februari.

Dengan bersemangat di tengah teriknya panas matahari, kukebut sepeda motor yang setia mengantarku agar segera sampai di desa untuk mengabarkan rencana kunjungan tersebut kepada kepala dan sekretaris desa yang kujumpai di kantor saat itu.

Tentu, ekspresi kades dan sekdes tidak jauh berbeda dengan ekspresiku saat mendengar rencana kunjungan ini.

“Kunjungan ini dalam rangka apa, Bang Ben?" tanya Pak Sekdes.

“Dalam rangka The BioCarbon Fund Initiative for Sustainable Forest Landscapes (ISFL), Pak,” celetukku.

“Apa itu, Bang?” Pak Kades menambahkan. Aku pun menjelaskan apa itu ISFL.

ISFL adalah dana multilateral, didukung oleh pemerintah donor dan dikelola oleh Bank Dunia. Ini mempromosikan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan salah satu upaya, yaitu usaha peningkatan mata pencaharian masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan.

“Jadi mereka datang ke sini dalam rangka meninjau program pemberdayaan masyarakat dari perusahaan PT Wirakarya Sakti di Desa Dataran Kempas kita ini, Pak. Nanti kita akan ajak mereka berkeliling ke program-program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) kita, ya. Kita akan sampaikan keberhasilan desa dalam mengentaskan kemiskinan melalui program DMPA,” jelasku.

“Semoga dari kunjungan ini, Bank Dunia terkesan dan bersedia mendonorkan dana ISFL di desa kita ini, pak. Tidak main-main, komitmen Bank Dunia pada Pemerintah Indonesia untuk dana ISFL tersebut sebesar Rp1.000.000.000.000 lho.” Begitu aku sampaikan pada kades dan sekdes. Mereka pun angguk-anggukkan kepala tanda paham.

"Perkenalkan, namaku Benni Tambunan. Saat ini tugas pekerjaanku ialah pelaksana pemberdayaan masyarakat. Motoku dalam bekerja adalah Belajar, Belajar, dan Belajar”. Izin nulis di sini sebagai bentuk kebanggaanku pada Darkem. Iya, Dataran Kempas.

Desa Dataran Kempas adalah desa binaan PT Wirakarya Sakti Distrik-1 yang merupakan unit perusahaan dari APP Sinar Mas Forestry yang memasok bahan baku kayu eksklusif untuk pabrik pulp dan kertas Asia Pulp & Paper. 

Desa Dataran Kempas berada di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi. Usia desa ini terbilang masih muda, menjadi desa definitif pada tahun 2012.

Semenjak adanya wacana program DMPA di Desa Dataran Kempas pada bulan April 2017 lalu, potensi-potensi yang ada pada masyarakat desa mulai bermunculan. Ide-ide usaha produktif dituangkan melalui wadah Focus Group Discussion (FGD) program DMPA.

Disepakatilah program DMPA produksi kompos, budi daya jahe merah, ternak domba, hortikultura, dan budi daya ikan nila. Program DMPA ini berada di bawah naungan Bumdes Dataran Kempas. Bumdes Gerbang Nusantara namanya.

DMPA adalah sebuah program pemberdayaan masyarakat yang diluncurkan oleh APP Sinar Mas dalam rangka menciptakan kemandirian warga desa dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi dengan pengelolaan usaha yang ramah lingkungan.

Pada November 2017, program DMPA mulai diimplementasikan. Semua bantuan yang diimplementasikan perusahaan dalam bentuk material, sehingga kebutuhan sarana produksi masing-masing program semuanya sudah dipenuhi oleh perusahaan. Nilai realisasi program DMPA di Desa Dataran Kempas mencapai Rp250.000.000.

Program DMPA di Dataran Kempas melibatkan berbagai kalangan masyarakat, laki-perempuan, tua dan muda. Ibu-ibu tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Saat awal program, melibatkan total 165 masyarakat.

Saat itu, November 2017, ialah implementasi program untuk pertama kalinya. Namun belum sampai genap satu bulan, pada Desember, DMPA Desa Dataran Kempas mendapat kunjungan tamu dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) yang pesertanya berasal dari ISEI Pusat Jakarta dan ISEI Cabang Jambi, juga dihadiri oleh Bupati Tanjab Barat, Saprial, sebagai tuan rumah.

Apresiasi tim ISEI terhadap Desa Dataran Kempas sangat luar biasa, atas kemampuannya dalam menggali dan mengoptimalisasi potensi yang ada pada masyarakat yang berwujud usaha produktif. 

Bahkan imbas dari kunjungan tim ISEI ini, Desa Dataran Kempas mendapat banyak perhatian oleh stakeholder, baik dari pemerintahan maupun swasta. Kunjungan demi kunjungan hampir setiap hari terlihat; selalu ada yang bertamu ke desa ini.

2018 adalah tahun prestasi bagi Desa Dataran Kempas. Prestasi demi prestasi diraihnya, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bahkan di tingkat nasional, prestasi sudah diraih.

Prestasi yang membanggakan. Program DMPA produksi pupuk kompos, tahun 2018 lalu, berhasil mengentaskan kemiskinan di Desa Dataran Kempas. “Yang tadinya ada sejumlah 24 KK masyarakat miskin, sekarang sudah nol, Pak,” demikian Pak Kades Asbar menceritakan.

Tahun 2018, Darkem mampu memproduksi pupuk kompos sebanyak 12.000 ton, senilai Rp13.620.000.000, dan mampu menyerap tenaga kerja berjumlah 262 orang dengan gaji rata-rata per orangnya Rp2.500.000. Dengan demikian, masyarakat sudah berkecukupan karena adanya lapangan pekerjaan; tidak ada yang miskin lagi.

Prestasi berikutnya adalah Desa Darkem berhasil mendapatkan penghargaan tingkat Nasional. Penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya M.Sc sebagai desa peraih Kategori Program Kampung Iklim Utama.

Tentu, untuk mendapatkan penghargaan ini, banyak persyaratan di lapangan yang harus dipenuhi. Bukan hal yang mudah, namun Darkem membuktikannya.

Oh iya, tahun 2019 ini, Desa Dataran Kempas dinominasikan mewakili Provinsi Jambi sebagai satu-satunya desa untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru. Wow, takjub! Doakan, ya, semoga Dataran Kempas bisa mendapatkan penghargaan tersebut.

Kembali ke acara kunjungan Bank Dunia. Pesertanya, selain didampingi oleh KLHK dan stakeholder di Provinsi Jambi, ternyata ada juga peserta dari 2 Negara Donor ISFL. Semoga hasil yang manis untuk Dataran Kempas setelah kunjungan ini.

Agenda utama kunjungan kali ini adalah meninjau pemberdayaan masyarakat di desa dan dampak positif mengenai potensi kredit karbon yang dapat dimanfaatkan perusahaan PT Wirakarya Sakti sebagai pengguna kompos dan potensi kredit karbon yang dapat diperoleh masyarakat untuk menghitung serapan karbon dari kotoran sapi, dikarenakan kotoran sapi merupakan salah satu bahan untuk pembuatan pupuk kompos.

Aku bangga menjadi bagian dari perusahaan APP Sinar Mas. Tetap komitmen untuk pemberdayaan masyarakat demi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat nyata.