CommunityDevelopment
2 bulan lalu · 183 view · 5 menit baca · Lingkungan 53179_92520.jpg
Areal Program DMPA-Hortikultura KT Karya Trans Mandiri

Bank Dunia, Dataran Kempas, dan Delima

Kelompok masyarakat peduli api
Mekar Jaya itu namanya
Menjaga alam sekitarnya
Dari bahaya kebakaran

Desa makmur peduli api
Harapan para petani
Mengubah pola pikirnya
Petani menjadi pengusaha

Hutan paru-paru dunia
Tanggung jawab kita bersama
Janganlah terulang kembali
Peristiwa masa yang lalu

Bumi kita hanya satu
Jangan engkau merusaknya
Bila bumi menangis
Derita untuk kita semua

Di hadapan para tamu, Supari menyanyikan lagu ciptaannya di atas. Judulnya: "Bumiku Hanya Satu".

Kupejamkan mata, menghayati isi setiap baitnya. "Lirik yang indah," pikirku. 

"Kelestarian alam adalah tanggung jawab kita bersama," ungkap Supari menyimpulkan isi lagunya.

“Setuju, Pak!” celetuk Haryo Pambudi (KLHK) sambil mengacungkan jempolnya.

Tiba Saatnya

Suasana langit mendung. Aku melirik pada jam dinding di ruang tamu kantor desa, jarum menunjukkan tepat pukul 12.00 WIB.

"Yuk, tamu sudah datang,” ajakku. Kami pun bergegas ke luar, bersama dengan rintik hujan menyambut tamu yang telah tiba.

“Mari bapak-ibu, silakan masuk.” Kepala Desa Dataran Kempas, Asbar, mempersilakan rombongan tamu untuk masuk ke aula desa.

Acara pun dimulai. Mewakili tamu, Haryo Pambudi memberikan sambutan. Kepada seluruh hadirin, ia menyampaikan maksud dan tujuan dari kunjungan.

"Kunjungan ini dalam rangka meninjau program DMPA milik perusahaan PT Wirakarya Sakti (WKS). Kami ingin menawarkan kerja sama dengan pihak perusahaan, yaitu kolaborasi antara DMPA dengan program 'The Bio Carbon Fund Initiative for Sustainable Forest Landscapes (ISFL)," jelas Haryo.

Program ISFL) adalah dana multilateral, didukung oleh pemerintah donor dan dikelola oleh Bank Dunia. Ini mempromosikan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan salah satu upaya, yaitu usaha peningkatan mata pencaharian masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan.


Kemudian, Haryo memperkenalkan satu per satu tamu dari luar negeri yang didampinginya. "Yang pertama ialah seorang wanita, namanya Katie Ohara, dari Bank Dunia. Lalu yang berikut ini merupakan delegasi dari 2 negara donor. Perkenalkan, namanya Daniel Kandy, dari 'USA Department', dan Elianor Whitle dari 'United Kingdom'."

Lalu dilanjutkan sambutan dari WKS, diwakili oleh Alvin Sandi dan Bambang Kisworo. Mereka pun menyampaikan profil perusahaan beserta program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan.

Bambang menjelaskan, “Berdasarkan SK IUPHHK-HT Nomor: SK.346/Menhut-II/2004, tanggal 10 September 2004, luas areal konsesi yang diberikan ialah 293.812 Ha. Lokasi unit manajemen berada di 5 Kabupaten Provinsi Jambi, yaitu di Kabupaten Tanjung Jabung barat, Tanjung Jabung Timur, Batanghari, Muaro Jambi, dan Kabupaten Tebo.”

“Untuk pemberdayaan masyarakat, perusahaan memiliki program unggulan, yakni DMPA. Ini adalah sebuah program pemberdayaan masyarakat yang diluncurkan oleh APP Sinar Mas dalam rangka menciptakan kemandirian warga desa dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi, dengan pengelolaan usaha yang ramah lingkungan. WKS sejak tahun 2017 juga dipercaya sebagai ketua forum CSR se-Provinsi Jambi, dengan jumlah anggota mencapai 350 perusahaan,” tambah Alvin.

Berkeliling ke Lokasi Program DMPA

Sesi makan siang pun tiba. Setelah selesai makan, pukul 14.00 WIB, kami membawa tamu ke lokasi DMPA, Kelompok Tani Karya Trans Mandiri (KT.KTM). Lokasi tersebut tidak jauh dari kantor desa, berjarak 1 km saja.

Di sana tamu dimanjakan oleh pemandangan aneka tanaman hortikultura. Ada tanaman kangkung, cabe, gambas, terong, jagung, tomat, mentimun, dan pare. Ada juga labu madu yang mulai menua, terlihat tertata. Labunya berada di lorong jalan masuk menuju areal hortikultura. 

Elianor pun tak ingin melewatkan spot ini, Ia mengambil gawainya dan mengajak beberapa orang yang dekat dengannya untuk berswafoto. Terlihat ada beberapa ibu sedang memanen mentimun, dan juga bapak-bapak yang mengerjakan 'packaging' pupuk kompos.

Di lokasi KTKTM ini, Katie, Daniel dan Elianor banyak melakukan wawancara kepada anggota kelompok tani. Untuk mengumpulkan dokumentasi tentunya. 


Sebelum meninggalkan lokasi, Daniel mengajak anggota KTKTM untuk foto bersama. Terlihat muka-muka yang 'sumringah' saat kamera membidik mereka.

Kelompok Tani Mekar Jaya ialah tujuan kunjungan lokasi DMPA kedua. Di sini, di meja bundar, kecil saja ukurannya, kira-kira diameter 1 meter, melalui interpreter aku berbincang dengan Katie, Daniel, dan Elianor.

Aku dijadikan narasumber karena bertanggung jawab terhadap pemberdayaan masyarakat dari WKS. Mereka menanyakan bagaimana awal cerita perjalanan program DMPA Desa Dataran Kempas. 

Semenjak adanya wacana program DMPA di Desa Dataran Kempas pada April 2017 lalu, potensi-potensi yang ada pada masyarakat desa mulai bermunculan. Ide-ide usaha produktif dituangkan melalui wadah focus group discussion (FGD) program DMPA.

Disepakatilah program DMPA produksi kompos, budi daya jahe merah, ternak domba, hortikultura, dan budi daya ikan nila. Program DMPA ini berada di bawah naungan Bumdes Desa Dataran Kempas. Nama Bumdesnya Gerbang Nusantara.

Program DMPA di Dataran Kempas melibatkan berbagai kalangan masyarakat, laki-perempuan, tua dan muda. Ibu-ibu tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Saat awal program, melibatkan total 165 orang masyarakat.

November 2017, ialah implementasi program untuk pertama kalinya. Di tahun 2018, Dataran Kempas mampu memproduksi pupuk kompos sebanyak 12.000 ton yang dijual ke WKS. Nilainya mencapai Rp13.620.000.000.

Program produksi kompos menyerap tenaga kerja berjumlah 262 orang, dengan gaji rata-rata per orangnya Rp2.500.000. Dengan demikian, masyarakat sudah berkecukupan karena adanya lapangan.

Kami pun bergegas membawa tim, melanjutkan kunjungan ke Desa Delima, yang juga merupakan lokasi kunjungan terakhir. Desa Delima merupakan desa binaan DMPA WKS Distrik-1, di mana Bumdesnya pada tahun 2018 lalu berhasil meraih penghargaan sebagai Bumdes terbaik nasional.

Dari Dataran Kempas ke Desa Delima, menempuh waktu sekitar 30 menit. Akhirnya kami tiba. Kami disambut oleh seluruh aparat Desa Delima dengan penuh kehangatan, meskipun waktu sudah sore hari ketika kami tiba. 

Di sini tamu berdiskusi dengan Kepala Desa dan Direktur Bumdes Delima, Suhono dan Zuvita namanya.

Interpreter menyampaikan pertanyaan bahwa mereka (Bank Dunia) ingin mendengar cerita sukses Bumdes Karya Bersama yang berhasil meraih penghargaan sebagai Bumdes terbaik nasional tahun 2018.

Kades Suhono pun mengisahkan, “Melalui 11 unit usaha Bumdes yang dijalankan, tahun 2018 lalu, Vita bersama dengan tim Bumdes-nya berhasil meraih laba bersih senilai Rp690.690.138, dan berkontribusi untuk Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar Rp138.000.000. Total omzet yang dikelola Bumdes mencapai Rp3.500.000.000.”

"Semua pencapaian ini tidak terlepas dari support Kades dan Sekdes. Karena merekalah, generasi milenial seperti saya yang istilahnya masih bau kencur, namun diberi kepercayaan besar. Kami buktikan!" tambah Vita.

“Dari 11 unit usaha kami adalah unit usaha produksi kompos, minimarket, hortikultura, pengembangbiakan sapi, budidaya ikan lele, produksi alat cooper (mesin pencacah), produksi bak mobil truk, produksi abon lele, retribusi pasar, isi ulang air minum dan sewa ruko,” jelas Vita kembali.


Kontribusi unit usaha yang paling besar atas pencapaian Bumdes di tahun 2018 adalah unit usaha produksi Kompos yang merupakan program pemberdayaan masyarakat dari PT Wirakarya Sakti Distrik 1. Sepanjang tahun 2018, produksi kompos mencapai 2.000 ton, setara dengan Rp2.270.000.000. Demikian Zuvita menceritakan dan mengakhiri keterangan yang diberikan.

Impresif

“Impresif, saya rasa ini kata yang tepat untuk kami mengapresiasi pencapaian pihak perusahaan dalam menjalankan program DMPA. Semoga program seperti ini akan menginspirasi perusahaan-perusahaan lain yang ada di Indonesia,” jelas Interpreter menyampaikan kesan yang dirasakan oleh tim (Bank Dunia).

“Kami (Bank Dunia), dalam waktu dekat ini, akan ke sini kembali. Tunggu kami ya,” pesan Daniel mewakili teman-temannya.

Akhirnya tim pun berpamitan dengan aparat Desa Delima, dan juga kepada kami yang mendampingi. Semoga kunjungan ini adalah jalan untuk menjadikan Dataran Kempas dan Delima mendunia.

Artikel Terkait