2 years ago · 325 view · 4 menit baca · Lingkungan banjir-rob-terjang-semarang_20160610_000230.jpg
Foto: tribunnews.com

Banjir Rob: Salah Siapa?

Banjir rob di Kota Semarang semakin menunjukkan keangkuhannya. Pada tahun 2016 banjir rob menghantui Kota Semarang sejak bulan Juni. Hingga saya menulis esai ini pun masih terjadi banjir rob pada Jalan Kaligawe. Lokasi yang rawan akan datangnya banjir rob yaitu di bawah fly over jalan tol, depan Terminal Terboyo, depan Jalan masuk Kawasan Industri Terboyo dan di depan Polsek Genuk.

Keempat titik tersebut merupakan sepanjang Jalan Kaligawe Semarang dan termasuk Jalur Pantura sebagai penghubung antar Kota.

Pada tanggal 20 Juni 2016 Wali Kota Semarang Bapak Hendrar Prihadi menetapkan status tanggap darurat bencana rob yang bersifat sementara. Pemerintah berupaya menghisap air rob penyebab banjir tersebut menggunakan 13 unit pompa, serta dibantu oleh warga sekitar untuk membuat tanggul sementara menggunakan karung yang berisikan pasir. Namun upaya Pemerintah yang di bantu warga sekitar masih belum dapat mengatasi masalah tersebut.

Sebelum banjir rob merajalela Pemerintah tak hanya diam saja, tetapi Pemerintah Kota Semarang telah melakukan upaya untuk menanggulangi banjir rob yang seakan sudah menjadi identik dengan Kota Semarang.

Berbagai macam upaya Pemerintah meliputi Normalisasi Kali Banjir Kanal Barat maupun Timur, pembangunan Waduk Jatibarang dan waduk-waduk lainnya, peninggian sepanjang Jalur Pantura Kaligawe, pemaksimalan Polder Tawang, perbaikan drainase dan penanaman tanaman di taman-taman kota juga telah dilaksanakan tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal untuk dapat menanggulangi banjir rob di Kota Semarang.

Siapa yang patut untuk dipersalahkan? Padahal dampak dari banjir rob sangat merugikan yaitu banjir rob di Kota Semarang dapat menenggelamkan keempat titik di Jalan Kaligawe yang memang menjadi langganan banjir rob.

Tenggelamnya jalanan ini mengakibatkan antrean panjang mobil pribadi, mobil angkutan, bus, maupun sepeda motor sepanjang 30 Km dari arah Demak menuju Semarang maupun arah sebaliknya karena untuk menghindari jalan yang terendam banjir cukup dalam.

Kondisi kemacetan tersebut dikhawatirkan akan mematikan jalur perekonomian Kota Semarang yang memerlukan suplai kebutuhan perdagangan dari wilayah timur seperti Demak, Kudus, Pati, Jepara dan kota-kota lainnya.

Ketika jalanan terendam air hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan akan merusak jalan (berlubang) karena air rob merupakan air luapan dari laut yang bersifat asin dan korosif sehingga dapat mempercepat kerusakan jalan dan bagian-bagian kendaraan yang terbuat dari logam seperti velg, knalpot dan lain sebagainya.

Efek dari jalan yang berlubang akan menimbulkan terjadinya kecelakaan ditambah lagi dengan jalan yang berlubang cukup dalam tidak terlihat oleh genangan air yang menutupi lubang tersebut, sehingga sangatlah riskan apabila sepeda motor yang terperosok ke lubang kemungkinan bisa tertabrak oleh kendaraan yang di belakangnya ataupun berakibat kecelakaan tunggal oleh karena jatuhnya sepeda motor ke dalam lubang tersebut.

Selain kecelakaan hal yang terjadi pada saat jalanan tergenang air rob yaitu mogoknya mesin sepeda motor bahkan mobil, jika sudah terjadi mogok maka dapat dikatakan bahwa mesin kendaraan dalam kondisi mati total dan harus dilakukan perbaikan dibengkel terdekat.

Aktivitas warga yang ingin berangkat kerja pun terganggu apabila terjadi mogok maupun terjadi kemacetan panjang, aktivitas instansi maupun perusahaan yang berada sepanjang Jalan Kaligawe  juga akan mendapat imbasnya seperti air robnya akan memasuki Perusahaan dan dapat menghambat produktivitas sebuah Perusahaan.

Jika air masuk kedalam rumah akan menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan kumuh. Bangunan-bangunan yang terendam oleh banjir selama berbulan-bulan akan mengakibatkan rusaknya dinding-dinding pada bangunan tersebut sehingga sangat mudah hancur bahkan runtuh. Kerusakan pada perabotan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, televisi, lemari menimbulkan kerugian yang tak cukup sedikit.

Sulitnya untuk mendapatkan air bersih juga merupakan dampak dari bencana banjir rob. Air dari banjir rob ini membawa bibit penyakit karena air tersebut telah tercemar dengan bakteri ataupun kuman dari air sungai, air selokan, sampah, maupun septic tank akan membaur dan menyebabkan bibit penyakit meliputi:

  1. Infeksi penyakit kulit.
  2. Terjangkitnya virus Leptospirosis (kencing tikus). Penyakit ini menyerang organ hati, ginjal, paru, jantung dan otak sementara itu virus tersebut masuk dengan mudah melalui selaput lendir hidung, mata, dan pada permukaan kulit yang sedang luka dan lecet-lecet.
  3. Hepatitis A juga bisa dibawa oleh air yang kotor dan penuh kuman penyakit ini menyerang hati.
  4. Penyakit Demam berdarah dapat menyerang dikala lingkungan lembab dan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
  5. Penyakit pencernaan  seperti diare, muntaber, kolera dan tifus menyebar melalui perabotan atau alat memasak yang terkena bibit penyakit dari air rob dan masih banyak penyakit lain yang diakibatkan oleh air dari banjir rob.

Pemerintah sudah mengupayakan sedemikian rupa untuk menanggulangi bencana banjir rob tersebut. Tetapi perlu ada dukungan dari warga masyarakat juga untuk melestarikan lingkungan terutama hutang mangrove yang semakin hari kian habis, di samping itu perlu adanya kesadaran warga masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai. Hal-hal kecil tersebut berpotensi besar untuk terjadinya banjir rob.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat, 29% dari 128 ribu hektare hutan mangrove di Jawa Tengah dalam kondisi rusak. Data tersebut membuktikan bahwa masyarakat Kota Semarang kurang mempedulikan nasib hutan mangrove terbukti di kelurahan Trimulyo yang berdekatan dengan laut terlihat bahwa hutan mangrove sudah ditebangi menjadi tambak-tambak warga.

Maka dari itu perlu adanya sosialisasi kepada warga masyarakat pesisir pantai Semarang agar melestarikan hutan mangrove dan merehabilitasi mangrove karena manfaat mangrove sebenarnya sangat penting untuk mencegah abrasi pantai dan menahan gelombang air laut.

Sementara itu kebiasaan buruk warga yaitu membuang sampah diselokan sehingga akses untuk mengalir ke sungai terganggu dan sering terjadi sampah yang tenggelam ke dasar sungai sehingga menyebabkan dasar sungai menjadi dangkal dan harus ada langkah pengerukan sungai secara berkala jika tidak ingin disambangi banjir rob.

Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, yang seharusnya dilakukan yaitu Pemerintah diharapkan menjalankan agenda yang sudah terencana dan menambahkan agenda penanaman mangrove yang telah terzonasi dengan baik.

Sementara itu, warga masyarakat khususnya masyarakat di pesisir pantai Kota Semarang membantu Pemerintah merehabilitasi dan jika sudah tumbuh diharapkan untuk menjaga, merawat dan melestarikan hutan mangrove tersebut dan mengurangi kebiasaan buruk membuang sampah di sungai.

#LombaEsaiKemanusiaan