Kali kesekian kuhentakkan pronasi telapak kaki ini di bumi Borneo. 

Namun, untuk pertama kali kuhisap dalam-dalam udara kalengan dan bau khas karpet "belalai gajah" yang menghubungkan "burung besi"dengan koridor bandara yang baru saja diresmikan tersebut. 

Sebelumnya adalah bandara lama yang kadang kita sering mendapatkan bawaan bagasi kita, tas traveling atau kopor sobek terbuka resletingnya. 

Dengan rileks kunikmati akomodasi yang sudah level internasional tersebut dengan membawa pertanyaan receh yang tak begitu penting. 

Namun, cukuplah menggelitik di ranah pembahasan libertarian dan Marxisme.

Pertanyaan receh yang menggelitik tersebut adalah: bagaimana mendamaikan kebebasan individu yang liberal dengan kewajiban moral yang sedikit  "menuntut" untuk keperluan dan kebahagiaan orang lain.

Pertanyaan tersebut erat hubungannya dengan altruisme, liberalisme dan Marxisme. 

Di mana altruisme sebagian darimereka menganggapnya sebagai tindakan yang kurang logis dan irasional yang memberatkan bagi neraca untung-rugi.

Altruisme adalah ajaran universal. Jauh sebelum definisi dan arti kata keren "altruisme" (sebuah sikap yang tidak mementingkan diri sendiri terhadap kebutuhan orang lain).

Definisi altruisme secara gamblang dirumuskan oleh sosiologis kenamaan, Auguste Comte pada abad ke-19.

Ternyata prakteknya sungguhlah sudah tua. Salah satu praktek altruisme yang akan kuselidiki adalah aroma kedermawanan masyarakat Banjar saat mendukung acara "haul" atau peringatan kematian.

Peringatan kematian seorang ulama besar Banjar, Syeikh Muhammad Zaini Abdul Ghani al Banjari atau yang terkenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul.

Sebagai pembanding peristiwa yang sarat altruisme yang tua usianya tersebut adalah peristiwa persaudaraan Muhajirin-Anshor .

Altruisme ini  pernah terjadi dan digambarkan oleh Surah Al Hasyr ayat ke-9 yang jauh ada sebelum definisi resmi oleh pendiri sosiologi Aguste Comte tentang definisi altruisme.

Konsep ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Altruisme telah menjadi topik utama bagi penelitian psikologi evolusioner, biologi evolusioner, etolog serta cabang ilmu lainnya.

Penggambaran jiwa altruisme (ikhlas berbagi) masyarakat Banjar idealnya dimiripkan saat terjadi peristiwa persaudaraan Muhajirin- Anshor. 

Di mana para tamu acara "haul" tersebut dianalogikan dengan para Muhajirin (yang hijrah). Adapun tuan rumah (Anshor) sang penolong dianalogikan dengan masyarakat Banjar.

Kenapa altruisme menjadi bahasan menarik di kalangan libertarian dan Marxisme?

Adalah sosiolog Amerika kelahiran Rusia, Pitirim Sorokin, akan memberikan sebagian jawaban yang multitafsir ini.

Sorokin mempelajari gejala positif dalam tindakan manusia, terutama mengenai altruisme: 

A scientific study of positive types of social phenomena is a necessary antidote to that of negative types of our cultural, social and personal world. The moral effect alone fully justifies a further investigation of persons and groups of good will and good deeds.” 

Dengan penegasan itu, Sorokin sudah mulai mempelajari dimensi-dimensi kebaikan posiivisme sosiologi dalam realitas. Sorokin menamai hal itu dengan istilah amitology. 

Dalam karyanya yang terbit pasca Perang Dunia II, Sorokin (1948:60) mendefinisikan altruisme sebagai:

The action that produces and maintains the physical and/or psychological good of others. It is formed by love and empathy, and in its extreme form may require the free sacrifice of self for another.” 

Motif pengorbanan, empati dan cinta dari definisi di atas  cukup menarik untuk mendampingi upaya rekonstruksi dan pemulihan masyarakat Barat yang baru saja rusak akibat Perang Dunia Kedua. 

Sama motifnya dengan rekonstruksi kelompok Muhajirin yang porak-poranda pasca Hijrah.

Pun, begitu dengan motif altruisme masyarakat Banjar, merekonstruks massa (tamu) acara "haul" yang membludak itu.

Sorokin yang menjadi Guru Besar Sosiologi pertama, pada tahun 1951 mendirikan  Harvard Research Centre for Creative Altruism.

Lembaga ini  khusus untuk mengkaji bagaimana altruisme beserta komponennya dan cinta altruistik nya dapat dibenamkan dalam sebuah kerasnya individualistik-materialisme.

Auguste Comte mendefinisikan altruisme sebagai “living for others”, yang dalam bahasa Prancis ditulis sebagai “vivre pour autrui”.

Altruisme yang berakar dari bahasa Prancis, autrui, menjelma berdefinisi lebih dalam menjadi:

“… It follows that happiness and worth, as well in individuals as in societies, depend on adequate ascendancy of the sympathetic instincts. Thus the expression, Living for Others, is the simplest summary of the whole moral code of Positivism.” 

Comte menekankan bahwa altruisme merupakan prasyarat moral bagi terbitnya zaman positivisme; zaman di mana manusia mencapai tingkat tertinggi dalam rasionalitasnya di tengah pacu materialistik untung-ruginya.

Hal itu sekaligus tanda menguatnya humanisme karena keberhasilan mengatasi beban dari tahap pengetahuan teologis dan tahap pengetahuan transendental dari masa sebelumnya. 

Dalam pemikiran Comte, altruisme ditempatkan sebagai gejala sekuler, humanisme dalam puncaknya. Kenapa sekuler?

Karena sudah melampaui batasan transedental agamis. Altruisme ini malah cenderung ke arah positivisme sosialis.

Apalagi jika dipraktiskan, ketika pandangan ekonomi dan kebijakan sosial materialistik telah memandang rendah, bahkan mengesampingkan peran altruisme dalam kemaslahatan masyarakat. 

Kaum Libertarian jauh-jauh hari menegaskan bahwa “tidak ada makan siang gratis” untuk memberikan sinisme dan menihilkan altruisme. 

Bahkan Marxisme juga pernah dan sudah merendahkan altruisme sebagai hal yang tidak ilmiah sehingga tidak mungkin dijadikan sebagai basis program sosial. 

Ringkasnya, altruisme sebagai ide maupun praktik makin dipinggirkan. Ia dianggap baik hanya sebatas cakrawala etis normatif.

Namun, ia tidak pernah dipertimbangkan untuk dijadikan landasan bagi pemikiran intelektual apalagi kebijakan sosial. 

Apa yang dilontarkan Libertarian dan Marxisme ada benarnya, ketika altruisme terbangun atas modus keterpaksaan dan rentan mencari timbal-baliknya. 

Libertarian dan Marxisme menyorot sisi mutlak kemandirian dan swasembada serta negativisme altruisme pada sisi probabilitas penyelesaian masalah yang berbasis kedermawanan.

Nietzsche, libertarian yang pernah memandang “belas kasih” dan“pengorbanan diri” dalam altruisme sebagai lambang kelemahan manusia, atau bagian dari mental budak.

Apalagi jika dipandang pada sisi bahwa setiap orang harus bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan, altruisme mereka anggap telah menempati sisi negativisme paling gelap.

Dengan mempertimbangkan berbagai keraguan, sinisme dan skeptisisme tersebut, Seglow (2004:1-9) mengatakan bahwa altruisme menjadi soal moral yang penting dewasa ini karena globalisasi telah mengubah “state of nature” kehidupan masyarakat. 

Menurut Seglow bahwa kita hidup dalam “a world of strangers”, sebuah dunia di mana melalui tindakan, baik sengaja maupun tidak, kita dapat mempengaruhi atau bahkan mengubah nasib manusia lain, manusia yang tak pernah kita jumpai.

Termasuk efek altruisme yang bisa dijadikan tunggangan politis, karena memang rentan untuk ditunggangi dengan kekuatan bantuan yang menggiurkan dan serba gratis.

Kembali menengok persaudaraan Muhajirin-Anshor yang memiliki konsekuensi prilaku altruisme level tinggi yang melahirkan sebuah sikap saling tolong dalam "ultras brotherhood" (persaudaraan hingga tingkat waris) dan "ultras ultruisme" (ikhlas berbagi) yang gahar. 

Keadaan ini sebagaimana pernah Aristoteles katakan  dalam “Nicomachaean Ethics” yang menyebut secara tidak langsung bahwa tindakan yang kemudian ditafsirkan sebagai altruisme gahar seperti dalam konsep persahabatan atau persaudaraan Muhajirin-Anshor ataupun altruisme masyarakat Banjar.

Persahabatan menurutnya adalah tindakan yang diarahkan demi orang lain dan hanya tertuju pada orang lain bukan kepada diri sendiri. 

Baik altruisme masyarakat Banjar ataupun altruisme Muhajirin-Anshor, keduanya bersifat temporal dalam sebuah kurungan waktu dan tempat. 

Tidak ada lagi waris-mewarisi dalam hubungan persaudaraan setelah upaya rekonstruksi selesai di Madina.

Pun, begitu dengan altruisme masyarakat Banjar, setelah acara usai tidak ada lagi makan, bensin, ojek, penginapan, pijit, layanan kesehatan gratis.