Malam yang dingin dihinggapi kesunyian belaka. Suara jangkrik pun dengan eloknya menusuk hingga ke gendang telinga. Di sebuah ruangan yang kecil dengan buku yang berserakan kesana-kemari seorang gadis berwajah tirus mengerjapkan matanya berkali-kali.

Bibirnya sedari tadi komat-kamit seperti sedang merapalkan mantra. Salah, bukan seperti itu, ia hanya sedang mempelajari tiga lembar materi pelajaran yang tadi siang baru diajarkan oleh gurunya di kamarnya itu. Sangat sepi, seolah bunyi tenggakan salivanya juga menjadi pengiring suasana di sana.

Ia pun sesekali membuka gadget-nya, memastikan apakah ada pesan masuk dari sahabatnya. Ya, sudah empat hari ini sahabatnya itu menghilang seperti tanpa kabar.

Di-tap kontak bertuliskan ‘Kenzie’ dari smartphone-nya itu. Namun, nomor yang dituju itu sudah tidak aktif. Perasaannya kini kian kesal sekaligus bingung. Bagaimanapun juga, ia merindukan sikap hangatnya itu.

2: 10 AM

Drtt drtt drtt tringg tringg tringg!!!!

“Hoammmm, ini masih jam dua pagi, kau ‘tak perlu membangunkanku, mengerti?” ucap Sonia parau pada nada dering yang membangunkannya di pagi-pagi buta. Gadis itu meng-check layar hp-nya malas. Demi apapun itu, netra hazel-nya masih sangat mengantuk.

“Sebentar!” pekiknya keras.

“Kenzie!” Sonia terkejut tatkala menyadari apa yang ada di layar hp-nya itu.

“Aku ada di depan rumahmu,” ucap orang itu di seberang telepon sana.

“Hah?” cengo Sonia. Ia berdiri sejenak, otaknya mencoba berpikir dua kali lipat.

“Iya, coba lihat saja lewat jendela kamarmu,” pinta cowok yang digadang bernama Kenzie itu.

“Oh, iya,” jawab Sonia. Ia pun bergegas ke depan rumahnya dan dibukalah pintu di sana. Betapa terkejutnya ia, karena terlihat seorang cowok bertubuh jangkung yang tersenyum lebar padanya. Siapa lagi jika bukan sahabatnya, Kenzie. Ya, sahabat, tidaklah lebih.

“Yang benar saja, ini masih larut malam,” senggol Sonia pada pinggang cowok itu.

“Ya, maaf. Kau juga jadi terganggu,” usak Kenzie pada surai Sonia.

“Ini jam dua pagi loh, ya. Bisa-bisanya kau ke sini? Bagaimana jika ibumu tahu?” khawatir Sonia.

“Tidak apa-apa,” jawab Kenzie.

“Eumm ... jika berkenan, kau masuk saja ke rumahku? Ada orang tuaku di dalam kok,” pinta Sonia.

“Tidak perlu, kita di teras saja,” tolak Kenzie pelan.

“Oh, okey. Apa kau kedinginan?” tanya Sonia.

“Son, bagaimana kalau beberapa minggu ke depan Kenzie mu ini tidak menemuimu?” ujar Kenzie tanpa menjawab pertanyaan Sonia.

“Hah?” Sonia mengeryitkan dahinya.

“Maaf, benar-benar tidak bisa. Jangan hubungi dahulu,” lirih Kenzie.

“Tapi … sudah empat hari kau pun tidak menemuiku? Minggu ini juga sedang UAS. Kau tidak ikut?” heran Sonia.

“Maaf, tidak bisa. Oh ya, ini ada bingkisan. Kalau kau sedang rindu, kau bisa membukanya,” ucapnya.

“Tapi, Ken.” Sonia pun tiba-tiba memeluk tubuh Kenzie erat. “Kau ini, kenapa sedari tadi juga meminta maaf padaku, hiks,” lanjutnya, sambil terisak.

“Sudah, kau bisa kembali tidur. Aku harus pulang, sampai jumpa.” Kenzie yang sudah membalas pelukan itu pun kini segera melepaskannya. Ia tidak bisa berlama-lama di sini.

“Hikks,” sedih Sonia seraya melepas pelukan itu. Ia pun hanya bisa menatap punggung bidang itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.

Flashback on

Satu tahun yang lalu,

Terlihat seorang cowok berambut hitam lurus dengan memakai baju olahraganya tengah berdebat mengenai sesuatu pada orang di depannya. Di sebuah lapangan basket sekolah yang lumayan sepi, karena sudah masuk ke jam pelajaran selanjutnya. 

“Hei! Bisakah kau berbicara tanpa tergagap seperti itu?” ejek seorang cowok dengan dimple di pipi kirinya itu. Benar saja, di hadapannya kini terlihat seorang gadis yang sepertinya keberatan membawa beberapa bola basket.

“Maaf, aku tidak bisa,” jawabnya.

“Kau ini payah, lihatlah! Kalau kau seperti ini terus, kau akan dimanfaatkan oleh oknum teman-temanmu itu,” kesalnya.

“Kenapa kau peduli padaku? Bahkan, aku tidak menyukai orang terkenal sepertimu, mengerti!” ucap gadis yang berseragam olahraga itu keras.

“Sombong sekali, kau!” cecar cowok itu.

“Kau, apa yang kau inginkan? Oh ya, kau hanya akan membuang waktumu jika mengatakan hal itu padaku,” ucapnya datar seraya menatap lurus ke depan.

“Kau keras kepala sekali, heum?” sindir cowok itu karena merasa diabaikan. 

“Terserah!” ngotot gadis itu tetap pada pendiriannya.

greppp!

Sonia, gadis itu memandangi lengannya yang kini dipegang oleh cowok popular itu. Netra hazel-nya menatap bergantian antara lengannya dan wajah yang tampan milik cowok di depannya tersebut.

“Yaampun, a—aku hanya membawa beberapa bola basket ini ke gudang. Asal kau tahu? Kau ini menggangguku, paham?” tatap gadis itu tajam pada Kenzie. 

“Ckck, menyebalkan!” decak Kenzie kesal sambil melepaskan pegangannya itu.

“Minggir,” sergah Sonia. Ia pun menyenggol bahu kiri cowok itu keras.

“Heii! Dasar aneh! Hidup sendiri sana kau!” teriaknya keras! Sampai, membuat seorang tukang kebun sekolah menatapnya heran.

Flashback off

Sonia POV

Ya, aku mengenalnya sejak hari itu. Waktu itu aku dan Kenzie masih kelas 10. Hingga, kami kelas 11 dan akan kenaikan kelas 12 seperti sekarang ini. Kami dekat karena ia suka kesal saat melihatku membawa bola basket ke gudang sekolah setelah pelajaran olahraga selesai. Katanya sih, aku  ini terlalu penurut, tertutup, keras kepala, dan aneh.

Aku tidak tahu, mengapa Kenzie bagitu memperhatikanku. Padahal, aku tidak suka dengan cowok yang terlalu tampan, sempurna, dan terkenal. Bagaimana bisa aku bersama dengan orang yang seperti itu. Jantungku ini merasa begitu sesak untuk sekadar membayangkannya.

“Nak, apa yang kau lakukan di luar?” tanya ibuku yang tiba-tiba melihatku hanya duduk termenunung di teras pada waktu yang tidak biasa ini.

“Oh, maaf, Bu,” jawabku kemudian beranjak dari dudukku.

“Apa, itu?” Ibuku penasaran pada botol kaca yang entah itu berisi gulungan kertas yang mana dikemas dengan begitu cantiknya. Ya, di dalamnya juga bertabur glitter berwarna ungu dan putih.

“Ini dari Kenzie, Bu,” ungkapku pada Ibuku.

“Kenzie? Bukannya yang temanmu itu? Oh, kenapa kau terlihat menangis?” selidik ibuku.

“Tidak apa-apa, Bu.” Aku tersenyum simpul.

“Aneh sekali, kenapa ia menemuimu jam segini?” geleng ibuku heran.

“Tidak tahu, Bu. Ayo, sebaiknya kita kembali ke kamar,” ucapku seraya menutup pintu depan rumahku tadi.

Sonia POV end.

Sebentar lagi liburan musim panas. Ujian Akhir Sekolah juga sedang diadakan. Sonia sudah siap mengendarai sepedanya ke sekolahnya. Ia pun memandangi botol kaca yang berisi gulungan kertas di nakas tempat tidurnya. Ia benar-benar tidak ingin membukanya. Hanya setelah ia bertemu dengan sahabatnya itu.

“Beberapa minggu katanya?” gumam Sonia seraya memakai sepatunya.

“Hufthh, hari ini terik sekali, aku harus semangat!” Sonia yang sudah di depan rumahnya, dengan segera menjalankan sepedanya itu. Jarak dari sekolahnya dan rumahnya tidak begitu jauh. Jadi, ia memilih naik sepeda.

Ujian sekolah hari ini memang luar biasa, karena ia harus mengerjakan soal Geografi yang tentunya pelajaran yang begitu ia sukai. Jangan tanya, ia dan Kenzie adalah satu jurusan, yaitu IPS. Hanya saja, beda rombel kelas.

Jam sekolah pun terbilang menjadi semakin cepat, karena tes ujian biasanya hanya memakan waktu sampai waktu dzuhur saja. Sonia pun kini sudah bersiap pulang. Namun, sembari ia mengendarai sepedanya dan kebetulan melewati ke sebuah toko buku yang ada di perkomplekan rumahnya. Ia pun jadi teringat akan sesuatu pada Kenzie.

“Apa kau mau membeli novel bertema fantasi?” tanya Kenzie sambil tersenyum.

“Tidak, aku tidak suka genre itu. Eumm … kau anak basket ternyata suka baca begituan, ya?” tanya Sonia sambil ber-smirk. 

“Ya, kali … aku anak basket, tapi badboy, begitu?” Kenzie menaikkan alisnya yang satu.

“Bukan begitu, maksudku … kau ini terlalu sempurna bagiku,” celetuk Sonia. Demi Tuhan, Kenzie terkesiap, pipinya kini bersemu merah akan apa yang Sonia baru saja ucapkan. 

“Biasa saja, kau ini jangan terlalu memujiku. Asal kau tahu, semua orang memang mengatakan padaku jika aku ini sempurna tanpa cacat. Tapi ….” Kenzie menggatungkan ucapannya.

“Tapi?” Sonia mengernyit pelan.

“Hehe, tidak apa-apa.” Kenzie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Terlalu lama melamun, tanpa sadar perjalanannya kini malah berhenti di sebuah danau yang di sekelilingnya terdapat pepohonan yang cukup rindang. Ia pun sengaja berdiri di jembatan sana. Menyenderkan sepedanya di sebuah pohon yang tidak jauh dari ia berdiri.

“Hufthhh, mengingatkan saja,” hembus nafasnya pelan.

Di danau ini juga, di jembatan ini lebih tepatnya. Sonia tidak jarang menghabiskan waktu bersama Kenzie. Ia pun tersenyum getir mengingat perasaan apa yang sebenarnya yang sedang ia alami. Mengapa ada cowok famous yang mau dengannya? Bagaimana bisa ada orang seperti Kenzie yang mau jadi sahabatnya? Bahkan, beberapa teman sekelasnya ‘tak lupa para penggemar Kenzie begitu mengecamnya karena ia dirasa tidak pantas. Ya, Sonia berpikir jika ia sudah terhinggapi rasa pada Kenzie. Tapi, ini sangat sulit diungkapkan. 

“Bodoh, mengapa aku tidak ke kosnya saja, ya?” Karena terburu penasaran, Sonia pun bergegas ke rumah kos Kenzie.

Namun, saat ia sudah sampai di gang kos Kenzie. Ia melihat jika di gerbang sana terlihat Kenzie yang sedang bersama dengan gadis yang seumuran dengannya. Keduanya begitu bahagia, dilihat oleh matanya, gadis itu seperti sedang membawa sebuket bunga yang besar kepada Kenzie.

“Di-dia,” mata hazel Sonia pun perlahan meneteskan cairan beningnya.

Beberapa menit selanjutnya, cowok jangkung itu menyadari kemunculan Sonia yang menatapnya kecewa.

“Sonn!!!” teriak cowok itu dan mengejarnya.

“Bagaimana ini?” Ia pun mengusak rambut kepalanya kasar sambil terengah-engah karena Sonia sudah dengan cepat melajukan sepedanya.

Menjalin sahabat sebagaimana laki-laki dan perempuan itu adalah hal yang sulit. Namun, untuk detik ini juga, Sonia sudah tidak bisa menahannya. Ia pun kini hanya bisa kembali kerumahnya.

****

“Inikah yang dinamakan berbohong?” tanya Sonia seraya menatap botol kaca dengan gulungan kertas di dalamnya itu.

Hari sudah semakin petang. Sonia sekarang dengan sibuknya akan mengubur benda itu di bawah pohon kelengkeng samping rumahnya. Sonia hari ini hanya sendirian di rumahnya. Orang tuanya sedang ada perlu di luar kota. Jadi, ia bisa bebas melakukan apapun di rumahnya itu.

“Hiks, aku mencintainya! Mengapa ia lakukan hal ini padaku, hiks,” tangisnya sembari menggali tanah di sana dengan sebuah sekop. Tiga menit kemudian, Sonia sudah menyelesaikan kegiatannya yang mengubur botol itu. 

Dadanya terasa sesak jika mengingatnya. Ia pun masih termenung di sana tidak bergerak sedikitpun.

“Maaf.” Terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Sonia. Ia pun mendongakkan kepalanya.

“Ken,” lirihnya. Bisa dilihat di depannya kini ada Kenzie yang sedang menatapnya dengan sedih.

“Kau tidak membuka isinya?” heran cowok itu.

“Kenapa kau berbohong padaku? Sudah, kau kau ‘tak perlu sampai berbohong padaku. kenapa kau—“ucapnya terpotong.

“Ya, tadi memang pacarku. Maaf, aku baru bisa mengatakan ini,” ungkapnya. Sonia hanya menatap nyalang pada orang di depannya itu.

“Kau hanya perlu membuka surat terakhir Kenzie. Mengapa kau tidak membukanya? Ia sangat mencintaimu. Ia ingin mengatakannya padamu. Ia ingin kau tahu perasaanya selama ini. Tapi … hanya dengan cara itu. Ya, karena Kenzie mu sudah tiada,” tunduk cowok itu.

Deggggg….

“Kau bilang apa? bukannya yang sedang berdiri di depanku ini Kenzie?” tatap Sonia nanar.

“Aku bukan Kenzie. Aku Rendy, saudara kembarnya. Ia meninggal karenaku, ia sudah menyelamatkanku selama ini. Beberapa hari lalu seperti yang kau bilang, Kenzie sudah menghembuskan nafas terakhirnya karenaku. Aku tahu, kau pasti tidak kenal denganku, karena kami di sekolah yang berbeda,” bebernya.

Sonia kini seperti menangis dalam diam, hatinya benar-benar seperti diterkam oleh ribuah pisau.

“Aku sangat membencinya selama ini, karena ia adalah anak yang berprestasi dan luar biasa. Hufthhhh … ia juga menjadi kebanggan siapapun. Namun, ia begitu menyayangiku, ia adalah kakak terbaikku. Meskipun, kami hanya lahir selang beberapa menit saja,” jelasnya lagi seraya menghela napas beberapa kali

“Kau?” Sonia menggelengkan kepalanya tanda bingung.

“Jadi, Kenzie mengalami kelelahan yang luar biasa karena harus merawatku yang depresi. Ia harus bekerja, dan memperlakukanku sebaik mungkin dengan bolak-balik dari dari dokter ke rumah. Nah, tepat itu juga, sebuah kereta menabraknya dan ia meninggal di tempat kejadian,” lanjut Rendy.

“Ti-tidak.” Sonia merasakan jika kakinya kini seperti layu.

“Ya, orang tua kami juga baru saja meninggal. Jadi, ia yang harus merawatku yang ‘tak berdaya itu. Biadabnya aku, mata dan hati ini terlalu keras untuk mengakui kebaikannya itu. Oh ya, jika kau berasumsi cewek tadi adalah kekasihku, kau benar. Karena aku bukan Kenzie, karena yang Kenzie suka adalah kau,” imbuhnya.

“Tidak mungkin, hiks. Apa kau sedang berbohong? Kau Kenzie, ‘kan?” Sonia kini menjatuhkan lututnya ke rumput di sana. Dengan tangannya yang masih bergetar ia pun mengambil kembali botol tadi.

Dibukalah tutup botol itu, diambilnya gulungan kertas yang berwarna senada dengan glitter yang ditabur di dalamnya tersebut. Satu hal, bulan purnama malam itu begitu menyinari tulisan yang telah ditulis almarhum Kenzie.

“Apa kabar, Son? Maaf, jika aku baru memberitahumu. Kau sudah makan, tidur, dan belajar dengan cukup, bukan? Aku tahu, jika selama ini aku seperti pengecut karena tidak pernah menyatakan perasaanku. Sejak hari itu, dan hari-hari berikutnya yang kita habiskan bersama. Kau adalah tempat bagiku untuk menghilangkan rasa sakitku. Aku mencoba baik-baik saja di hadapan semua orang. Tapi, nyatanya, aku merasa jika aku tidaklah orang yang mampu membuat mereka bahagia. Aku mencintaimu, aku hanya takut saja jika kau memang benar-benar tidak menyukaiku. Ya, setidaknya aku bisa dekat denganmu, dan melihat indah paras dalam dan luar dirimu, aku menyayangimu. Aku berjanji, setelah UAS, kita harus mengabiskan waktu bersama lagi.”

Tesss…, air mata Sonia sudah tidak bisa terbendung lagi.

Sungguh, Sonia belum bisa menerima ini. Ia harus menemuinya besok. Meskipun, Kenzie nya itu sudah berselimut tanah. Sonia merindukannya dan ia kini mengakui jika ia memang mencintainya. Ia juga baru menyadari, mengapa Rendy begitu mirip, baik wajah, cara bicara, dan posturnya. Hanya saja, Rendy ada bekas luka di bagian pipi kirinya.  

“Jika kemarin mengapa aku menemuimu tepat jam dua pagi, karena hari  ini juga aku harus ke bandara. Aku harus ke luar pulau, aku akan ikut paman dan bibiku kesana,” jelas Rendy.

“Baiklah, sebentar, kenapa kau begitu mirip dengan Kenzie, suaramu juga. Kau hanya akan mengingatkanku saja, haha” tawa Sonia garing. Suasana hatinya sudah tidak begitu buruk seperti tadi.

“Oh, ya. Kau jangan sungkan menelponku. Terlebih, jika kau rindu Kenzie,” tawar Rendy.

“Tidak, aku tidak akan, hehe. Sudah cukup, kau kan punya kekasih, bagaimana bisa aku melakukan hal tersebut? Kau juga harus move-on. Kau jangan sedih lagi, kita sama-sama kehilangan malaikat itu, Kenzie maksudku,” tukas Sonia pelan.

“Terimakasih, kau juga,” balas Rendy kemudian berlalu.

“Sama-sama,” jawab Sonia yang kini menyeka air matanya yang sudah kering.

Dua minggu kemudian,

Sonia berniat mengunjungi makam Kenzie. Ya, ia benar-benar akan menemuinya. Ia pun berpikir sejenak, mengapa selama ini tidak ada yang tahu jika Kenzie meninggal. Setidaknya di sekolahannya itu ada yang mengetahuinya, mengapa begitu tertutup, begitu.

Sonia pun mencoba menerimanya, setidaknya perasaannya sudah terbalas.

makam

“Aku mencintaimu,” gumam Sonia sambil mengusap pusara Kenzie. “Terimakasih sudah membalas perasaanku. Do'aku, semoga yang terbaik untukmu,” lanjutnya.

.

.

.

Selesai

****