Mahasiswa
6 bulan lalu · 222 view · 3 menit baca · Budaya 36023_53115.jpg
Dunia.tempo.co

Bangun Masjid untuk Apa?

Tidak bisa dimungkiri, dalam konteks Indonesia, kehadiran masjid adalah sesuatu yang lumrah. Ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan masjid telah berdiri. Beberapa di antaranya dalam proses pembangunan, belum termasuk musala. Plis, jangan minta data akurat.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa masjid menjadi sesuatu yang penting bagi umat Islam. Namanya juga tempat ibadah. Hampir tiap elemen masyarakat berlomba-lomba dalam mengucurkan dana, menyumbang tenaga, dan tentu saja berdoa bagi kelancaran pembangunan.

Kalau digali argumentasi teologisnya, mungkin merujuk pada kutipan ayat fastabiqul khoirot yang tertera dalam surat al-Baqarah dan al-Maidah,  iasa diartikan dengan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Atau, bisa jadi, sebagai upaya mengumpulkan amal jariyah; yang pahalanya tidak terputus, bahkan jika yang terlibat sudah meninggal dunia.

Tetapi di sisi lain, coba perhatikan, ketimpangan sosial (masih) begitu kentara. Kemiskinan merajalela. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Banyaknya masjid sebenarnya menunjukkan bahwa ada dana yang siap digelontorkan. Sebenarnya bukan hanya pembangunan, tapi juga 'tata rias' masjid. Masjid dibangun dan dihias mewah. Betapa indahnya. Alasannya, (a) perbaikan konstruksi masjid, (b) memperindah masjid, biar tetangga berminat datang meramaikan, (c) memberi kenyamanan pada jamaah. Sungguh mulia. Ada tambahan?


Kata Karen Armstrong, pembangunan tempat ibadah selalu dikaitkan dengan sesuatu yang bernilai sakral. Lebih jelasnya begini, karena ibadah adalah hubungan dengan sesuatu yang sakral, maka tempat ibadah harus mempunyai nilai sakralitas, yang mampu membawa ketenangan bagi tiap-tiap individu yang sedang beribadah. Bukan tempat biasa.

Bagaimana cara mengetahui bahwa tempat tersebut mempunyai nilai sakralitas? Menurutnya, akan ada orang-orang, bisa jadi orang saleh, terpandang, visioner, yang 'ditampakkan' oleh Yang Sakral itu tadi.

Pernyataan tersebut bisa diterima, bisa juga tidak. Masjid di Indonesia, bisa jadi, beberapa di antaranya dibangun melalui proses ini. Tidak sekadar membangun, akan tetapi melihat berbagai aspek yang mengharuskan masjid dibangun di tempat tersebut.

Sebagian yang lain tidak melalui proses tersebut. Artinya, seperti disebut di atas, orientasi pembangunan masjid adalah pahala. Atau, jangan-jangan, pamer kalau punya harta banyak? Kepentingan sesaat? Kelompok? Maaf karena su'udzon.

Begini, pernahkah kita berpikir untuk apa dibangun masjid jika sudah ada banyak masjid yang berdiri? Untuk apa menghias masjid jika jamaahnya tidak ada, malas-malasan?

Karena saya tidak setuju, saya sampai pernah tidak mau terlibat sama sekali dalam proses renovasi masjid dan musala. Malah curhat. Ah, lupakan.

Kemudian, ketika dihubungkan dengan kondisi perekonomian rakyat Indonesia yang sebagian besar berada di jurang kemiskinan, maka bukankah lebih baik jika alokasi dana untuk pembangunan dan proses mempercantik masjid dialihkan untuk mengentaskan kemiskinan?

Setahu saya, gerakan pembebasan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, selain dimulai dengan penanaman dan perkuatan alidah, juga terfokus pada proyek pengentasan kemiskinan. Mendobrak sistem ekonomi yang merugikan satu pihak.

Di periode Makkah, adakah masjid yang didirikan? Bukankah perintah salat dimulai ketika perjalanan Isra' Mi'raj Nabi saw. Artinya, itu terjadi ketika Nabi saw belum hijrah. Masih di Makkah.

Sekali lagi, yang menjadi fokus utama adalah akidah dan prinsip egalitarian. Ini yang menjadikan Islam dibenci oleh kaum musyrikin Makkah. Lah mereka para pelaku bisnis, mana mau berbagi kekayaan.

Setelah kedua persoalan tersebut dinilai 'cukup' (artinya, sudah terinternalisasi dalam masing-masing jiwa para sahabat), ditambah faktor tekanan dari kaum musyrikin Makkah, Nabi saw dapat perintah untuk hijrah. Setibanya di Yatsrib, Nabi saw langsung mendirikan masjid. Kalau tidak salah alurnya seperti itu. Mohon maaf kalau salah. Dan mohon dikoreksi dan dibenarkan.


Nah, kemudian, jika ditarik ke fenomena yang terjadi, di mana maraknya pembangunan masjid tidak diimbangi dengan dientaskannya persoalan kemiskinan, maka bukankah kita melangkahi alur sejarah yang telah dicontohkan Nabi saw?

Nabi saw ngurus ekonomi dulu, kesetaraan dulu, baru bangun masjid. Kita sebaliknya, bangun masjid dulu, urusan perekonomian, apalagi kesetaraan, entah tersimpan di kotak brankas mana. Lalu, masjid dibangun untuk apa? Lantas, mengecam orang-orang yang tidak ke masjid. Lah, mereka sibuk nyari uang. Mereka belum sejahtera secara finansial.

Loh, jangan jadikan itu alasan untuk tidak ke masjid. Jika imanmu kuat, dalam kondisi apa pun dan bagaimana pun, engkau akan terikat dengan masjid.

Sikap keagamaan kita yang kurang tepat, orang lain yang kena semprot. Atau amannya, bisa jadi kita sama-sama salah. Maka alangkah lebih baiknya jika kita sama-sama memperbaiki sikap keagamaan kita.

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, selama kita telah melanggengkan struktur yang menindas, mengaku mengikuti sunnah rasul, padahal sisi paling fundamental yang beliau ajarkan tidak kita terapkan, betapa munafiknya kita. Eh, kok bawa-bawa 'kita'? Maaf, saya.


Artikel Terkait