Dalam buku-buku teks pelajaran sekolah, kita sering membaca bahwa Indonesia negeri yang ramah. Itulah mengapa wisatawan mancanegara senang datang ke Indonesia. Saya percaya itu, setidaknya di Aceh ada ungkapan peumulia jamee (memuliakan tamu).

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman, bangsa ini mulai kehilangan keramahan. Cepat emosional ditambah caci maki. Bahkan terhadap artikel/esai bangsa ini sering marah tanpa mencoba memahami substansi tulisan.

Kemarahan dibalas kemarahan, terjadi saling mencaci dan menghina. Begitulah fenomena yang sedang terjadi. Akibatnya, keramahan terkikis dan intelektual entah ke mana. Barangkali makhluk berpikir makin langka.

Makhluk pemarah yang kini lebih banyak ketimbang makhluk pengasih. Manusia memang diciptakan bersuku dan bangsa yang berbeda. Bukan untuk saling menghina atau saling memarahi.

Keragaman kita merupakan takdir yang tidak mampu diubah siapa pun. Kita mesti hidup dengan keragaman itu atau silakan cari planet. Saling mengenal dan mengasihi adalah modal kita berkomunal. 

Dalam interaksi majemuk, kita mesti memahami satu sama lainnya. Sikap memahami itu yang sering kita abaikan. Manusia terkadang hanya ingin dipahami, namun sukar sekali memahami orang lain.

Lalu marah datang. Mereka tidak sesuai dengan keinginannya. Bukankah pada saat itu ia juga tak mau tahu keinginan mereka? Kemarahan terus disimpan, suatu hari kemarahan itu malah menyerang dirinya sendiri.

Serangan marah pada diri sendiri dapat mendatangkan depresi. Bagi orang lain melahirkan dendam. Keputusan-keputusan yang diterbitkan saat marah bukan hanya merugikan orang lain, akan tetapi pada diri sendiri.

Ya, Indonesia menuju bangsa pemarah. Bukan tak boleh marah pada perilaku-perilaku koruptor, pada kejahatan, namun jangan sampai kemarahan itu malah menambah daftar kejahatan baru.

Kemarahan yang tidak produktif malah bersifat destruktif. Marah produktif menghasilkan karya dan prestasi. Kita boleh marah melihat kemajuan yang diraih barat. Lalu kita bercita-cita mengalahkan mereka dengan karya dan prestasi.

Selama ini, yang kita saksikan malah kemarahan yang tidak produktif. Marah di media sosial sejatinya tidaklah produktif. Hanya merongrong kesucian hati yang harusnya dibersihkan setiap saat.

Ketika hati sudah kotor, sudah rusak, sudah terinfiltrasi, bersiaplah kelakuan akan mengikuti. Kita makin jauh dari fitrah dan khitah sebagai manusia maupun warga negara Indonesia. Kita telah dikalahkan diri sendiri. 

Kita semua pernah marah, minimal malah terhadap diri sendiri yang sering marah. Marah pada keadaan yang tidak sesuai, marah pada teman dan bos kantor. Bahkan suami-istri pun tak terhindari dari marah. 

Tak ada orang yang senang dimarahi, namun sangat banyak orang yang senang memarahi. Superego yang dijatahi pada setiap orang memang harus dikontrol. Tanpa kontrol, ia akan merusak interaksi sesama manusia.

Konflik sesama makhluk Tuhan terjadi. Bencana pun datang. Sifat bencana tidak memilih apakah secara gender maupun usia maupun warna kulit. Rentang waktunya tak bisa diprediksi kapan akan berakhir.

Marah makin menjadi-jadi setelah ditambah dendam. Dalil pembenaran dijadikan stimulus melakukan tindakan yang terkadang nirkemanusiaan. Manusia bermetamorfosis menjadi binatang liar. 

Saling memangsa tak terelakan. Yang lemah hanya bisa pasrah, perkasa berarti dapat memaksa kehendak sesuka hati. Dan rentetan kerugian lainnya akan kita tuai apabila marah dibiasakan.

Kini saatnya kita merenung bersama. Bangsa ini, perlukah menjadi bangsa pemarah atau bangsa ramah? Pilihan ini harus kita pastikan. Menghadapi provokator, kita cukup berdiam diri. 

Terhadap para pencaci, kita cukup tersenyum. Para pencaci akan merasa gagal apabila yang dicaci tidak membalasnya dengan cacian pula. Hidup ini terlalu berharga apabila dikotori dengan cacian dan amarah.

Terlalu banyak hal produktif yang bisa kita lakukan. Terutama mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain. Menjadi bangsa yang bukan hanya jago kandang, namun bangsa yang memimpin bangsa lainnya.

Cepatlah sadar, ada skenario agar kita menjadi bangsa pemarah. Dengan amarah, kita makin bodoh bukan makin cerdas. Skenario saling marah sesama anak bangsa dirancang karena ada indikasi kita bakal memimpin dunia.

Bayangkan saja, kita memiliki SDA dan SDM yang sama melimpahnya. Betapa takutnya bangsa lain seandainya kedua potensi itu dimaksimalkan. Wajar apabila infiltrasi konflik SARA sangat sering singgah.

Mudahnya anak negeri marah dimanfaatkan oleh mereka yang tak ingin Indonesia maju. Perdebatan yang terjadi terkadang bukan terkait ide dan gagasan. Anehnya, polemik berhari-hari. 

Sementara terkait ide dan gagasan sangat jarang diperdebatkan. Misalnya apakah NKRI sebaiknya diganti dengan negara federal. Tapi diskusi bersifat akademis memang tabu dilakukan di media sosial.

Bahkan karya tulis (buku) dirazia oleh ormas, pemerintah diam saja. Sebaliknya, pembaca dan pembawa buku malah ditangkap bak pengedar narkoba. 

Ketika tahun politik datang bangsa ini lebih sering marah. Hanya karena beda pilihan politik bangsa ini tiba-tiba jadi pemarah. Marketing politik melihat kemarahan itu sebagai potensi membolak-balikkan isu.

Sentimen agama yang paling sering dijadikan awal kemarahan. Konflik atas nama agama kerap menjadikan orang-orang beragama tak lagi beragama. Selalu ada alasan agar saling marah.

Diakui atau tidak, bangsa ini sudah jadi bangsa pemarah. Nyaris semua isu ditanggapi dengan kemarahan. Bahkan urusan orang pindah agama yang merupakan hak personal direspons dengan kemarahan.

Kapan kita berhenti marah? Jangan serahkan masa depan bangsa ini pada kemarahan.