52987_27507.jpg
koleksi sendiri
Sejarah · 7 menit baca

Bangsa Pelaut dan Ingatan yang Dihancurkan
Peringatan Hari Maritim Nasional, 23 September

''Jika manusia Indonesia dipisahkan oleh pulau-pulau, maka lautan adalah pemersatunya.”

Ini bukan hanya soal perspektif. Ini tentang sejarah dan ingatan yang kian tenggelam. Karam bukan melulu karena ketidaktahuan, tapi juga tersebab keliru mengambil simpulan dari narasi besar percakapan anak-anak bangsa.

Kita sering kali, misal, menafsir laut sebagai pemisah. Dalam komunikasi keseharian orang rantau, kalimat-kalimat seperti “Kita dipisahkan oleh lautan”, “Luasnya samudra menjauhkan kita”, dan contoh lainnya ikut membentuk selapis kesadaran bahwa laut adalah benar sebagai entitas yang mencipta jarak dan mengasingkan suku bangsa yang satu dan yang lainnya.

Mengapa demikian? Ilmu geografi sejak dini mengajarkan bahwa sebelum negeri ini bernama Indonesia, nusantara dulunya adalah sebuah benua besar yang diterjang banjir raksasa. Gelombang lautan menenggelamkan Sundaland sebagai induk daratan hingga tersisa 5 pulau besar dan puluhan ribu pulau kecil. Logika macam ini menjadikan samudra bagian dari malapetaka.

Kebenaran teori banjir purba tentu saja masih bisa terus diuji. Dihadapkan pada narasi teologis yang menempatkan samudra sebagai penciptaan pertama dari alam raya.** Bukankah tidak semua bagian dari ilmu pengetahuan mendatangkan guna secara kontekstual?

Barangkali itu pula yang menjadi dasar mengapa dalam tradisi tua kita, para leluhur mewariskan mantra agar yang datang pada para pencari pengetahuan hanyalah ilmu yang bermanfaat. Perdebatan lebih lanjut dalam dunia akademik soal nilai moral ilmu pengetahuan memunculkan polemik aksiologis yang terus direproduksi sampai hari ini.

Begitulah saya kira sedikit soal dalam perspektif kita memandang lautan. Bagi sebagian kita, malahan laut menjelma lokus menakutkan yang siap menelan. Kecantikan yang dikandungnya sekaligus menyamarkan bahaya. Tsunami besar di Aceh akhir tahun 2006 menambah suram perbendaharaan ingatan akan kelamnya lautan. Ini jadi soal yang besar dan mengancam.

Selain soal perspektif, ada pula yang hilang secara masif dari kenangan masa kecil kita yang dicerabut paksa oleh hasil karsa manusia itu sendiri (baca: teknologi). Dulu, senandung "nenek moyangku bangsa pelaut" begitu hidup sebagai tutur yang berdenyut dalam nadi kanak-kanak. Dinyanyikan saat kumpul bocah, di siang yang panas juga di malam kala purnama tiba, dengan riang gembira. 

Hari ini sejumlah senandung nasional dan lokal tak lagi hadir di ruang-ruang kelas. Kurikulum terlalu padat dan mampat oleh logika dan eksakta yang disusun untuk menjawab kebutuhan pasar. Bangunan rasa dan estetika manusia dianggap tak begitu penting malahan kontra produktif terhadap asas efisien dan efisiensi yang dituntut dunia kerja. 

Syair "Beta Pattirajawane, penjaga pala yang dijaga datu-datu, kikisan laut berdarah laut, ketika lahir dibawakan datu dayung sampan" juga ragam senandung yang memuja kebesaran samudera memang bukan sumber utama memori kolektif bangsa. 

Namun, terasa ada yang sistemik yang merubuhkan cara pandang kita dalam menimbang lautan. Ada tubuh yang memunggung, ada orientasi berbangsa yang dibelokkan, ada fokus pembangunan yang dialihkan, hal ini telah dibaca lebih dari 50 tahun lalu oleh Soekarno.

Mengupas Sejarah

Indonesia adalah bangsa pelaut. Nenek moyangnya berjaya di lautan. Kapal-kapalnya membelah samudera hingga Madagaskar. Pengaruh armadanya dalam jaringan pelayaran dunia pernah menggetarkan. 

Kalimat-kalimat itu tercatat dalam banyak referensi dan terus menerus dikampanyekan, bahkan jadi semacam postulat dalam narasi sejarah kita. Ia diterima nyaris tanpa penolakan, namun di saat yang sama, selama puluhan tahun, ia berhenti di jargon, tidak hidup dalam denyut jantung keseharian kita. Apa pasal?

Bersiaplah, karena kita akan mengupas kulit bawang sejarah yang tiap lembarannya membuat mata tergenang. 

Sebagai pengingat agar kita tak tersesat, mari melongok pidato Soekarno pada pertemuan ratusan pelarung laut di Jakarta pada 23 September 1964, hari yang menurut penulis buku "Bangsa Pelaut: Kisah Setua Waktu", Wenri Wanhar, terlupa oleh negara. 

“Kita ini dahulu benar-benar bangsa pelaut. Bahkan bangsa kita ini sebenarnya tersebar melintasi lautan dari satu pokok asal. Tersebar melintasi lautan, mendiami pulau-pulau antara pulau Madagaskar dan pulau Paskah dekat Amerika Selatan. Melewati beribu-ribu mil, melewati samudera, bahar, yang amat luas sekali. Di situlah bersemayam sebenarnya bangsa Indonesia."

Lalu apa yang jadi sebab kita menjauhinya? Simak ini:                         

Belakangan kita menjadi satu bangsa yang berdiam adem-adem di lereng-lereng gunung. Belakangan, saudara-saudara, tatkala kita terdesak dari pantai-pantai oleh bangsa asing yang mendiami pantai-pantai kita, kita menjadi bangsa yang hidup adem tentrem di lereng-lereng gunung, adem tentrem kadiya siniram banyu wayu sewindu lawas.

Menurut Bung Karno, kolonialisme meminggirkan rakyat kita jauh ke pedalaman. Belanda merebut bandar-bandar di pesisir untuk monopoli perdagangan. Mereka juga membangun benteng pertahanan dan kantor administrasinya. 

Di Bengkulu, tepat diatas bukit buatan memunggungi Samudera Hindia, East India Company (EIC) tahun 1714-1719 membangun Marlborough sebagai benteng pertahanan. Rakyat terdesak mencari selamat ke pedalaman.

Bukan hanya kolonialisme, pun dalam sejarah perebutan kuasa lokal. Kita ingat, dalam kisah kerajaan Melayu di pesisir Batanghari, paska dua kali serangan pasukan Chola dari Thailand dan didudukinya bandar-bandar dagang pantai timur Sumatera oleh VOC, Raja Melayu memindahkan pusat kerajaannya ke daerah hulu Dhamasraya dan menjadi cikal bakal kerajaan Pagaruyung. 

Namun yang lebih terstruktur adalah paska Soekarno jatuh, Soeharto membangun ingatan baru yang mempersonifikasi diri sebagai bangsa agraris. Dalam buku-buku sekolah, Soeharto disebut sebagai anak petani dari desa Kemukus dan keturunan dari Sultan Agung, Raja Mataram yang telah menghancurkan bandar-bandar dagang di sepanjang pantai timur Jawa. 

Kebijakan pembangunan diarahkan dari alam berpikir agraria. Berbagai Repelita digariskan dengan tanah sebagai tumpu harapan. Tak salah memang, tapi juga tak berkeadilan. Menatap daratan dengan melupakan lautan seperti mengasihi ayah dengan mencampakkan ibu. Yang tak adil, pasti akan terseok. Kita melihatnya tumbang di awal tahun 98.

Lalu laut menjadi anak tiri dalam pembangunan kita. Tempatnya di sudut, dalam remang yang miskin daya juang. Sekian lama kita terpesona daratan dan pembangunan dicabar atasnya. 

Hutan dirambah diambil kayunya, bukit dikeruk demi kapur, gunung dikepung untuk mineral dan pariwisata. Jalan-jalan dibuka, diperhalus dan dihubungkan ke segenap penjuru. Jembatan dibentangkan menaklukkan sungai, selat dan perairan. Moda transportasi udara makin menceraikan kita dari buai gelombang samudera.

Manusia pun bergerombol di kota-kota, berebut akses kehidupan. Penetrasi teknologi dan campurtangan kebijakan mengubah desa. Indonesia tiba-tiba menjadi lanskap yg satu, dengan wajah utama daratan dan laut tertinggal di punggung. 

Lalu kita tiba di masa kini. Banjir bandang, tanah longsor, perubahan iklim merobek tatanan. Hutan menggundul, bukit tandus dan gunung-gunung bergolak. Manusia  terdesak oleh sumber daya yang tak imbang. Orang-orang berebut tanah dan kerja. Tak sedikit yang kelaparan. Aneka penyakit baru yang tak pernah ada sebelumnya, datang. Peradaban berguncang. 

Lalu kita mulai bertanya, kemana mengadukan airmata? Dalam gelisah itu, kita pun memutar punggung, menemukan lautan yang lama bersetia. 

Di kepala berkelebat cerita-cerita mahsyur. Kisah tua tentang sebuah bangsa yang berani. Dikenal dalam beberapa nama yang satu jua. Sriwijaya, Melayu, Samudra Pasai, Majapahit. Mereka jaya di lautan. Kekayaannya meliputi samudera dan daratan. Peradabannya menjadi rahim karya-karya yg berkilau hingga jauh ke masa datang. 

Seorang kawan dari negeri Hasanuddin, sang Ayam Jantan Dari Timur, bercerita tentang jalan hidupnya sebagai pelaut. Penguasa perairan yang menggenggam kuasa tak berbilang. Setiap melempar jangkar, 200 juta dikantonginya dan puluhan buruh nelayan yang ikut bersuka cita. 

Tak perlu berebut karena laut maha kaya. Tak perlu korupsi karena laut terbuka bagi siapa saja. Seperti senandung dari masa kecil, laut menyediakan diri untuk dijelajahi. Kau beri ia kail, dibalasmu dengan ikan selaksa. Kau beri ia kerang terbuka, diberimu intan mutiara, begitu kira-kira.

Konstruksi Memori Bangsa Pelaut

Ingatan kelam tentang lautan di awal tulisan ini, bukan untuk dihapus. Tapi diterima dengan lapang dada, karena demikianlah sejatinya cinta. Lautan adalah Ibu yang sedia menerima apa pun yang dimuntahkan anak-anak bangsa kepadanya. Sampah, limbah, bahkan sumpah serapah. 

Bukankah demikian pula cinta kita pada Indonesia? 

Mencintai negeri ini adalah tentang luka dan kadang putus asa, tapi rasa itu ada terus menggedor dada. Indonesia bukan negeri sempurna yang mudah kita terima. Ia kerap dilanda kegentingan, hiruk pikuk dan huru hara. Di dalamnya butuh upaya dinamis. Perlu rasa optimis. Cinta yang butuh diuji berkali-kali.

Demikianlah terma bangsa pelaut. Akronim pelarung yang dinamis, tentang sesiapa yang mengarungi samudera, menempuh perjalanan, menaklukkan jarak, menyambangi negeri-negeri dan kota-kota tak bernama. 

Terma bangsa pelaut meniscayakan pergerakan sepanjang hidupnya. Upaya yang tak henti mengenali penjuru bumi. Menyebar kebaikan dan ilmu pengetahuan. Mereguk kesejahteraan dan kemakmuran.

Indonesia sedari dulunya memang bukan wangsa yang pasif, berdiam diri dan merasa cukup dengan kenyamanan. Nenek moyangnya tualang. Sejarahnya kembara. Majapahit dan Sriwijaya adalah tuah negeri samudera. 

Ini bukan romantisme sejarah. Ini adalah "Historia Docet" Sejarah yang memberi pelajaran, bahwa masa depan kita berasal dari masa lalu dan untuk memenangkan masa kini, mari kembali menjadi bangsa pelaut. 

Tak salah kiranya jika kita tutup senarai ini, sekali lagi dengan gemuruh pidato Soekarno: 

Negara yang rakyatnya cuma hidup, hidup adem tentrem kadyo siniram banyu waju sewindu lawas di lereng-lereng gunung, kerajaan yang demikian itu tidak bisa menjadi kuat, apalagi menjadi sejahtera. Jikalau negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawin juga dengan laut.

** Menurut Kitab Kejadian (Genesis), Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari dan bagian pertama yang diciptakannya adalah samudera raya. Sejalan dengan ini, dalam Kitab Suci Alquran juga disebut bahwa segala sesuatu yang hidup berasal dari air (Surah Al-Anbiya:30).