Mungkin orang selevel nabi juga akan kebingungan menghadapi bangsa ini.

Suatu hari saya sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta menggunakan travel. Saat itu kebetulan hanya saya sendiri yang berada di travel itu. Saya tidak merasa begitu kesepian karena sopir yang membawa mobil travelnya cukup ramah dan enak diajak bicara.

Saat itu kami sudah keluar dari tol dan sudah memasuki wilayah Jakarta, mobil yang kami tumpangi menghadapi lampu lalu lintas yang masih menyala hijau, sampai kami mendekat garis zebra cross lampu tersebut tiba-tiba berubah merah. Tentu saja sopir mendadak menginjak rem, yang sialnya membuat mobil sedikit melewati zebra cross, namun masih tidak melewati lampu merah.

Pak sopir yang satu ini cukup disiplin dengan langsung memundurkan mobil kami ke belakang garis zebra cross. Akan tetapi kemudian seorang polisi (mungkin oknum) datang menghampiri mobil kami dan mengetuk jendela depan. Saya memperhatikan kejadian ini dari bangku belakang sopir.

“Selamat siang.” Kata dia.

“Siang, Pak." Kata sopir.

“Perhatiin rambu jalan dong!” Kata pak polisi lagi.

“Iya, Pak, tadi sudah diperhatikan, tapi tadi jadi merah pas saya sudah deket, Bapak kan lihat sendiri.” Jawab sopir.

Polisi tersebut langsung bertanya, “Mana surat-suratnya?”

Pak sopir dengan tenang mengeluarkan satu folder besar sekumpulan surat perjalanan yang saya kira khusus dibawa oleh para pengemudi mobil travel, bahkan mungkin BPKB mobilnya juga dibawa di sana. Pak polisi langsung memeriksa berkas tersebut dan lekas mengembalikannya. “Saya tilang yah!?” kata polisi itu tiba-tiba.

“Wah jangan, Pak, ini kan lengkap surat-suratnya...” kata sopir.

“Iya tapi kamu tidak taat aturan.” Kata polisi itu lagi.

Bagi saya, tentu saja polisi itu sudah bertindak keterlaluan, karena bila surat-surat lengkap dan tidak melanggar aturan, kenapa harus ditilang?

Berikutnya saya tidak begitu jelas mendengar mereka membicarakan apa yang jelas saya melihat sopir menyelipkan selembar uang berwarna hijau yang saya asumsikan uang 20,000-an ke tangan polisi tersebut. Setelah itu polisi seperti sengaja berteriak agar didengar penumpang (yang hanya saya), “Ya sudah, sekarang maju, perhatikan rambu lalu lintasnya!”

Begitulah apa yang terjadi di pagi menjelang siang hari di tengah kota Jakarta. Ketika saya tanya kepada sopir soal peristiwa barusan, dia hanya bilang dengan santai, “Biasa, Mas, belum sarapan.”

Saat itu saya jadi berpikir, budaya seperti tadi bukanlah sesuatu hal yang sederhana. Itu adalah sebuah hasil dari rumitnya kehidupan yang dialami seseorang. Jika polisi tidak mendirikan sebuah plang operasi atau khusus pemeriksaan kendaraan bermotor, maka bisa dikatakan peristiwa yang dilakukan oknum tadi adalah pungutan liar.

Tapi yang menjadi persoalan, mengapa hampir kita semua menganggap wajar hal itu. Lalu yang menarik lagi, adalah jawaban sopir tadi. Berbicara soal sarapan, jika saya tidak salah, beberapa kali Sujiwo Tejo pernah menanggapi follower di akun twitternya dengan kicauan: “Kamu belum sarapan?” Itu adalah kicauan yang dilayangkan si Dalang Edan kepada followernya atau siapa saja yang men-tweet terlalu serius.

Mungkin benar, entah teori dari mana, tapi sahabat saya pernah bilang logika (berpikir) tanpa logistik (makanan) sama dengan chaos. Hal itu ada benarnya, orang yang sedang lapar cenderung senang marah-marah dan kurang santai. Karena tidak ada asupan nutrisi yang cukup, menjadikan otak sulit untuk berpikir dengan jernih.

Lantas, apakah bisa dikatakan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa yang belum sarapan? Kalau dengan mudah kita bisa temukan orang yang senang mroyek sana-sini, atau nyuap dan disuap, serta lipat uang-uang receh di dalam birokrasi, maka bisa jadi jawabannya adalah: ya. Terkadang saya sendiri sering heran, di Indonesia ini, hampir semua hal bisa diakali untuk mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri.

Masih cerita dari sopir travel ini, katanya ada sebuah perusahaan yang mempekerjakan karyawannya hingga belasan juta rupiah untuk pekerjaan yang sama dengan dia, yaitu mengemudikan mobil. Kemudian saya pun bertanya apakah si bapak sopir ini ikut melamar, dan ternyata dia pun melamar.

Namun ada hal yang aneh. Ternyata HRD dari perusahaan tersebut mematok harga sekian juta bagi pelamar jika ingin lamarannya diterima dan dipastikan mendapatkan panggilan. Entah logika macam apa yang dipakai, orang datang melamar untuk cari uang, malah diminta uang. Gila!!!

Jika hal tersebut benar adanya, maka si karyawan HRD itu juga termasuk orang yang belum sarapan. Resmilah bangsa ini mendapatkan predikat itu kiranya. Bayangkan saja, praktik lipat melipat uang receh itu berlangsung sampai ke berbagai elemen. Itu adalah sektor swasta, entah bagaimana dengan sektor negeri, kiranya mungkin tidak jauh beda, meskipun saya hanya bersu’uzan.

Bangsa yang belum sarapan akan sangat kesulitan untuk maju, karena hari-harinya akan diisi untuk mencari sarapan yang terlewatkan, akibatnya adalah siap melakukan apa saja asal perut bisa kenyang, kemudian tidur bisa nyenyak. Banyak yang mengambil cara sulit dan siap berjuang untuk itu, namun tidak sedikit juga yang memilih cara gampang dan malas seperti mencuri atau menjadi penjahat di masyarakat.

Bagi bangsa yang sudah sarapan, harinya akan lebih sibuk untuk berinovasi, karena perutnya sudah kenyang dari pagi, badan mereka tidak lemas dan otak mereka segar. Tidak terlintas sedikit pun sepertinya untuk mencari sarapan tambahan dengan cara-cara yang tidak semestinya. Pokoknya, bangsa yang sudah sarapan lebih siap hidup dan tidak akan mengambil hak orang lain karena sudah mendapatkan haknya.

Inilah kenyataannya, tidak akan lahir kemerdekaan berpikir atau bertindak, selama perut masih lapar. Hal ini menjadi terlihat semakin sulit, karena berat menjadi pengangguran di negeri ini, negara tidak akan mau menanggung siapa pun yang belum punya kerja.

Secara geografis seharusnya kita akan selalu merdeka dalam hal pangan, dari darat dan laut berlimpah bahan makanan. Namun sayang, petani dan nelayan yang seharusnya menjadi pahlawan pangan pun malah kelaparan, atau mungkin dilaparkan oleh pihak tertentu.

Maka dari itu, saya ingin katakan bahwa sarapan itu sangat penting bagi bangsa ini, selain sehat, hal itu juga membuat kita bisa berpikir lebih baik, dan setidaknya mampu menghindarkan diri dari perbuatan semena-mena. Masalah bangsa ini bukan mental, tapi lapar. Rasa lapar yang lama-lama tidak bisa terkendali merambah berbagai macam hal. Semoga saja saya, Anda, dan kita semua termasuk orang-orang yang tidak lupa untuk sarapan.