Akhir-akhir ini issue bangsa, bahasa, dan nasab, sempat menyibukkan banyak orang. Siapa yang unggul ?

Konon, bahasa Arab, bangsa Arab adalah pilihan Tuhan. Di akhirat kelak, bahasa Arab yang berlaku. Malaikat berbahasa Arab. Penghuni surga berbahasa Arab. Siapa membenci memusuhi bangsa Arab adalah munafiq. Bahasa Persia, India, adalah bahasa di neraka.

Nasab, keturunan yang bersambung kepada Nabi, memiliki hak perlakuan khusus yang berbeda dengan manusia lain. Membencinya sama dengan membenci Nabi. Di neraka tempatnya dstnya.

Narasi seperti itu, terdengar riuh meramaikan issue bodong. Disuarakan lantang merujuk sebagai ajaran Islam. Dengan copy paste dalil, riwayat, tafsir sana sini. Tanpa kajian memadai. Menjadi bunga-bunga medsos yang ganjil. Ya, ganjil! Karena dikaitkan dengan Islam. Yang dasar utama ajarannya, universal, rahmatan lil’alamin (Surat Al Anbiyaa 107).

Klaim di atas, didasarkan pada berbagai catatan riwayat. Namanya juga riwayat. Sering kali tidak jelas sumbernya. Bisa juga palsu atau dipalsukan. Bisa juga sengaja dibuat untuk kepentingan politik, ekonomi, interes pribadi, kelompok dll.

Hal seperti itu biasa terjadi pada catatan sejarah secara umum. Tidak terkecuali sejarah Islam. Bahkan juga pada sejarah dan ahadits Nabi SAW Setelah dalil berhamburan, perdebatan pun makin riuh. Ngotot berdalil-dalilan.

Riwayat ini, hadis ini, lemah. Yang kuat yang ada di kitab saya. Pihak di seberang mengatakan sebaliknya. Ujungnya mudah ditebak. Capek berdebat, masing-masing kekeuh berkutat pada kitabnya atau ustadz, habib, kiyai yang diyakini sebagai kebenaran. Selalu begitu dan begitu selalu.

Akibatnya, yang awam yang polos, bingung sekaligus bengong.

Di simpang jalan, tanpa rambu, tanpa pemandu. Bertanya-tanya, ajaran apa gerangan ? Islamku kok jadi riweuh pisan begini ya ?!

Al Qur’an ditetapkan Allah sebagai “huda la roiba fihi”. Petunjuk tanpa keraguan. Jalan yang mubin, terang benderang. Tempat kembali, manakala musafir tersesat jalan. Pastinya, tanpa bingung. Bagi yang tulus mencarinya.

Kita simak bagaimana perspektif Al Qur’an memandang issue sederhana beraroma sara itu. Terkait bangsa, suku, Islam tegas. Anti rasis. Anti perbudakan, sejak kelahirannya. Itu pula sebabnya, mengapa sejak awal kerasulan, pendukung setia Nabi, adalah para mustadh’afin. Kelompok tertindas yang dihinakan. Siapa saja membaca sejarah Rasul, akan terkesan kuat. Bagaimana perlakuan hormat dan cinta Nabi, terhadap Bilal yang budak dan Salman yang ‘ajam (bukan Arab).

Meski Arab Saudi, ditenggarai merupakan bangsa terakhir di muka bumi yang menghapus praktik perbudakan. Raja Faisal Al Sa’ud (1964-1975) dikenal sebagai penentang dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah, juga dikenal sebagai penghapus sistim perbudakan di Arab Saudi.

Agaknya perbudakan disana terkait kultur dan tidak ada hubungan dengan ajaran Islam. Tidak mudah memang mengislamkan Arab.

Arab, memang sama sekali bukan tolok ukur keislaman. Allah SWT menciptakan manusia bersuku berbangsa li ta’arafu, untuk berkomunikasi saling mengenal. Ditegaskan, yang mulia diantara kamu adalah yang lebih taqwa.

(Surat Al Hujuraat, ayat 13).

Li ta’awanu ‘alal birr, untuk bergotong royong dalam kemaslahatan bersama.

(Surat Al Maidah, ayat 2).

Untuk berlomba dalam khairat kebaikan (Surat Al Baqoroh ayat 148).

Larangan tegas memandang rendah,

mengolok satu kaum atas kaum yang lain. Allah sebutkan pula, jangan-jangan yang kamu olok, justru lebih baik daripada kamu (Surat Al Hujuraat ayat 11).

Begitulah Allah berpesan dan memberi peringatan pada manusia yang beriman.

Ayat-ayat di atas, sangat terang benderang. Tidak perlu tafsir berbelit rumit. Tidak juga menuntut kecerdasan di atas rata-rata. Cukup dengan kejujuran dan ketulusan untuk memahaminya.

Tidak ada isyarat, tersurat maupun tersirat, adanya perbedaan dalam arti tinggi rendah kedudukan sebuah bangsa atau suku di mata Allah. Semua bangsa, suku, ciptaan Allah yang sama. Allahu Ahad. Tuhan Yang Esa.

Banyak klaim terkait bahasa Arab,

sebagai bahasa pilihan Allah. Berbagai dalil riwayat dicopy paste begitu saja.

Benar Al Quran menggunakan bahasa Arab (Surat As-Syura, 192).

Walakin, Al Qur’an juga menyebutkan tidak ada satu kaum yang Allah tidak mengutus Nabi/RasulNya (Surat An-Nahl ayat 36/Al Baqoroh 213).

Sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW sebagai pamungkasnya, tak terhitung banyak jumlahnya para Nabi/Rasul Allah. Setiap utusan Allah swt, menggunakan bahasa sesuai bahasa kaumnya (Surat Ibrahim ayat 4).

Yang dikenal dan disebut dalam Al Qur’an, seperti kitab Taurat, Injil, Zabur. Para Nabi Bani Israil, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Dawud ‘alaihimus-salam, menggunakan bahasa yang tergolong dalam bahasa Ibrani (Suryani, Aramea, Qibti).

Artinya, bila Al Qur’an menggunakan bahasa Arab, sekedar satu-satunya dari sekian banyak bahasa yang telah digunakan Allah sebelumnya dalam wahyu Suci Kitab Allah. Pastinya, bahasa Bani Israel justru lebih banyak digunakan dalam Kitab Suci Allah.

Bahwa setiap bahasa memiliki kelebihan dan kekurangan satu dibanding lainnya, wajar-wajar saja. Pakar sejarah bahasa, bisa menjelaskan hal itu.

Bagaimanapun bahasa adalah hasil budaya manusia. Bukan ciptaan Allah!

Allah menciptakan manusia dan manusia menciptakan bahasa.

Mengapa Al Qur’an perlu menegaskan bahwa Al Qur’an berbahasa Arab? Menurut hemat penulis, tidak dimaksudkan untuk mengunggulkannya dari bahasa lain.

Penegasan itu perlu. Karena bila diterjemahkan ke berbagai bahasa, itu adalah terjemahan Al Qur’an dan bukan Al Qur’an. Bagi seorang peneliti, seyogyanya selalu merujuk kepada bahasa asli dari sebuah Kitab Suci.

Hal ini penting, agar mendapatkan makna yang lebih mendekati sebenarnya. Sehubungan dengan nasab ,tidak berbeda dengan Bangsa dan Suku. Sangat jelas Al Quran menggambarkan. Bahkan seorang anak Nabi langsung juga dikecam. Seperti yang terjadi pada anak Nabi Nuh (Surat Hud,40).

Apalagi sekedar keturunan bergenerasi. Kalau keturunan Nabi, dijadikan dasar keunggulan nasab, pertanyaannya adakah manusia yang bukan keturunan Nabi ? Bukankah Adam as juga seorang Nabi Allah ? Benar, dalam surat Al Ahzab 33, disebutkan Ahlul Bait Nabi sebagai suci.

Sebagai idiom agama, kalimat Ahlul Bait dalam ayat tersebut, adalah sangat khusus dan terbatas. Haditsul kisaa’ yang sangat populer, menjelaskan siapa saja yang dimaksudkan dengan kalimat Ahlul Bait.

Melakukan penafsiran extensif, dimaknai sebagai termasuk dzurriyah, keturunan bergenerasi (berjuta-juta habaib) tanpa batas, bukan saja tidak masuk akal dan tendensius, melainkan absurd.

Dalam perkembangannya selama lebih 1000 tahun, membuktikan penafsiran ekstensif demikian mesti ditolak. Faktanya, yang disebut habaib, juga tidak berbeda dengan muslim pada umumnya. Ada yang baik ada yang buruk. Ada yang bukan muslim dan bahkan komunis.

Jelaslah, kecaman atau pujian dalam Al Qur’an atas sebuah bangsa, kaum dstnya, berhubungan dengan tingkah laku amal perbuatannya. Nama-nama bangsa, suku, nasab dan bahasa, manusia juga yang memilih dan menetapkannya.

Sekedar nama. Ibarat label kemasan dari sebuah produk. Baik buruk tergantung pada isinya.

“What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet."

“Apakah arti sebuah nama ?

Mawar, kita beri nama apa saja,

akan tetap harum” (Shakespeare).

Seorang Kiyai Mbeling, punya ungkapan tuntas, sederhana, yang tidak kalah memicu berpikir akal sehat.

Sang kiyai berseloroh, bertanya pada santrinya : ”Pilih kutang atau isinya!?”

===dari catatan hy january 2022===