Kala itu, saat mengunjungi NUS (National University of Singapore), aroma frigid Saintek terasa kental saat memasuki laboratorium di negara yang super ketat pemerintahannya itu. Negara yang tak mungkin menerima model pendidikan Liberal Art yang bebas itu. 

Di sana, di ruang berornamen sains dengan centerpiece meja-meja eksperimen yang penuh model dan prototipe, berdiri seorang pengampu khas Kota Singa yang sedang mendemonstrasikan eksperimen.

Bab yang dibahas adalah daya dorong proyektil aluminium foil yang telah disuntik dengan cairan kimia dan sebuah lintasan logam berbentuk oval. Setelah beberapa saat, proyektil itu melesat hebat, tanpa menyentuh landasan berbentuk oval itu. 

Itulah salah satu embrio keberhasilan NUS dalam menghidupkan dan mengembangkan saintek berbasis muatan lokal yang akan memfasilitasi pengembangan investor multinasional sehingga nantinya, Singapura diyakini akan menjadi Lembah Silikon baru untuk Asia.

Tak disangka, Singapura yang ketat itu, pada 2011 telah memberikan kelonggaran kepada NUS (National University of Singapore) untuk bertransformasi hebat dengan menggandeng Yale University, New Haven, Connecticut, AS, untuk membuka program studi dan kurikulum Liberal Arts di sebuah negara yang tak liberal sama sekali. 

Dengan begitu, Yale University, secara resmi membuka perguruan tingginya yang mengkhususkan pada program studi  dan kurikulum Liberal Arts, sekaligus pembuka kebebasan di Singapura yang terkenal bengis pemerintahannya itu.  

Yale sebagai universitas bergengsi di Amerika Serikat berhasil menghidupkan arwah Liberal Arts di Asia, khususnya Asia Tenggara. Ekspansi prodi gaya “pemikiran kritis” ini siap menyebar ke penjuru Asia Tenggara. 

Diperkirakan hingga saat ini, hampir 40% institusi Liberal Arts non-AS di dunia kini berada di Asia dengan bentuk penampilan yang berbeda-beda. Namun tetap satu napas, liberal. 

Oleh karena itu, masuk akal jika Asia mulai menggeliat dan merefleksikan pertumbuhan prodi dan kurikulum Liberal Arts yang banyak dimusuhi dan dimatikan keberadaannya di kampus-kampus dunia itu. 

Sains andalan yang dikembangkan NUS dalam prodi dan kurikulum Liberal Arts adalah Geopolitik; Geographies of War and Peace yang mempelajari perang dan perdamaian dari segi geografi, serta isu-isu masa kini dan prediksi masa depan mengenai topik seperti terorisme, konflik dan perdamaian di dunia siber, dan sumber daya alam.

“Kami yakin lembaga ini memiliki potensi untuk menjadi model untuk yang lainnya, terutama di Asia,” ujar Presiden NUS Tan Chorh Chuan.

Singapura diakui sebagai salah satu negara dengan fokus standar kualitas pendidikan yang sangat ketat dan juga tinggi.

Dalam daftar pemeringkatan universitas dunia, World University Rankings (WUR), Negara Singapura berhasil menempatkan universitasnya dalam peringkat Asia: Nanyang Technological University (NTU) diperingkat pertama dan The National University of Singapore (NUS) peringkat kedua.

NTU dan NUS masuk dalam kategori terbaik untuk indikator reputasi unggul para lulusannya dan juga kutipan-kutipan jurnal ilmiah yang menunjukkan kedua universitas tersebut menghasilkan penelitian yang sangat berpengaruh.

Pendekatan progresif untuk internasionalisasi, mendorong kedua universitas tersebut sebagai titik temu pemikir terkemuka dari Timur dan Barat.

Dalam pidatonya, Dr. Trisha Craig, Wakil Presiden dari Yale-NUS College, mengatakan bahwa dia akan terus meninjau ulang kembali kemunculan pendidikan Liberal Arts di Asia dan membahas tantangan yang dihadapi lembaga-lembaga yang baru lahir ini.

NUS dan NTU telah meluncurkan kemitraan penelitian dengan lembaga internasional bergengsi termasuk Yale dan Duke University, Imperial College London dan Warwick University.

Kemitraan dan akulturasi Yale-NUS pada 2011 merupakan salah satu contoh utama eksperimen untuk melihat apakah model prodi dan kurikulum Liberal Arts ala Amerika dapat bertahan di luar negeri. 

Prodi dan kurikulum Liberal Arts menekankan pada pembelajaran multidisiplin ilmu pengetahuan dan teknologi ini, sempat dikritik oleh para petinggi Yale di AS karena pembatasan demonstrasi dan aktivitas politik mahasiswanya di Singapura.

Petinggi Yale University di AS, mengharapkan demokrasi juga bisa berkembang di sana bersama dengan kedalaman Liberal Arts yang akan membangun kepakaran seni, humaniora, ilmu sosial, ilmu alam dan fisik, dan matematika. 

“Warga Singapura, dan Asia secara umum, sangat haus akan pendidikan berkualitas yang mendorong pemikiran kritis dan model pendidikan Liberal Arts dan Sains yang diadaptasi untuk abad 21,” ujar Pericles Lewis, presiden institut tersebut dalam pidatonya.

Prodi dan kurikulum Liberal Arts memungkinkan mahasiswa untuk merancang kurikulum studi mereka sendiri, sehingga membangun pengetahuan mendasar yang komprehensif, atau multi dan interdisiplin.

Pelajaran-pelajaran yang termasuk dalam Liberal Arts adalah pelajaran-pelajaran ilmu budaya dasar/humanities (seni, bahasa, sejarah, filosofi), ilmu sosial (seperti sosiologi, geografi, komunikasi, politik, psikologi), dan ilmu sains (seperti fisika, biologi).

Konsep kebebasan pengembangan saintek pada prodi dan kurikulum Liberal Arts yang akan dikembangkan oleh Yale-NUS Singapura ini merupakan warisan kebebasan Abad Pertengahan dan banyak mengadopsi konsep Plato dan Aristoteles.

Saat itu dunia memiliki dua jenis pendidikan: pendidikan orang bebas (Liberal Arts) dan pendidikan terbelenggu (vocational). 

Terbelenggu, mempunyai pengertian yang dalam: bukan dalam negatif, namun, banyak terikat oleh kekuasaan dan konsensus rendahan, termasuk pengaruh penguasa tiran dan akal busuk. 

Semangat kebebasan saintek Asia ini juga pernah dirintis saat ratusan sarjana dari banyak negara berkumpul di Universitas Fulbright, univeristas Liberal Arts pertama di Vietnam, beberapa tahun yang lalu untuk membahas pendekatan baru dalam pendidikan universitas di Asia.

Pada dasarnya, prodi dan kurikulum Liberal Art menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir dan menalar, yakni pengolahan kompetensi untuk menemukan dasar rasional bagi suatu gagasan dan sikap, disamping juga mengolah kompetensi-kompetensi yang umum dan mendasar. 

Umum, dalam artinya tidak spesifik atau khusus; mendasar , esensial dan tidak pragmatis. 

Prodi dan kurikulum Liberal Art juga mencakup keseluruhan dimensi kemanusiaan secara utuh, yakni manusia sebagai makhluk yang bernalar, berinteraksi dan berkembang, dan menciptakan individu yang bebas, merdeka, mandiri, serta bertanggung jawab.

Selain di Singapura, prodi Liberal Arts juga mendapatkan napas segar saintek-nya di Vietnam.  

“Apa yang membuat Liberal Arts berbeda adalah ia tidak seperti perguruan tinggi pelatihan di sistem bekas Soviet atau Vietnam. Sebaliknya, pendidikan memberikan pengetahuan yang komprehensif," jelas Prof. Minh.

Profesor. Minh salah satu penggerak Liberal Arts Asia yang menjadi Visiting Fellow di beberapa universitas dan lembaga penelitian di seluruh dunia.

Visiting Fellow tersebut di antaranya, Waseda University, Tokyo, Jepang, Institut Sains Indonesia (LIPI), Jakarta, Indonesia, Asian Studies Institute, Chulalongkorn University, Thailand, Sciences Po Institute, Paris, Prancis.

Ada dua jenis tantangan yang dihadapi pengembangan saintek Liberal Arts, yaitu keberlanjutan dan hambatan politik. 

Liberal Arts mungkin juga kesulitan bersaing dengan sains dan kedokteran di ruang filantropi pendidikan yang lebih tradisional. Termasuk bersaing pula dengan karakter pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). 

Lain lagi di Filipina, pengembangan saintek yang menginduk pada gaya prodi Liberal Arts telah dilembagakan secara resmi oleh Komisi Pendidikan Tinggi Filipina yang mengamanatkan kurikulum Liberal Arts.

Kurikulum Liberal Arts disyaratkan oleh hampir semua lembaga pendidikan tinggi yang ada di Filipina. Banyak pendidikan tinggi di Filipina yang memiliki kurikulum inti Liberal Arts seperti Universitas Ateneo de Manila.

Pakistan juga ada Forman Christian College, sebuah perguruan tinggi Liberal Arts di Lahore. Ini adalah salah satu institusi tertua di anak benua India. Ada juga Habib University Karachi, Pakistan, yang mengembangkan pengalaman Liberal Arts holistik kepada mahasiswanya melalui program wajib untuk semua mahasiswanya. 

Kolese Internasional Underwood dari Universitas Yonsei, Korea, juga memiliki prodi dan kurikulum Liberal Arts yang wajib bagi mahasiswanya. Termasuk juga Universitas Lingnan dan Universitas Seni Liberal- Bangladesh (ULAB) juga merupakan beberapa perguruan tinggi Liberal Arts yang mulai menggeliat di Asia. 

Di Jepang ada Universitas Kristen Internasional di Tokyo yang merupakan perguruan tinggi Liberal Arts pertama. Bagaimana di Indonesia?

Walaupun tidak bisa dikatakan belum ada, paling tidak "baunya" sudah terasa. Seperti di Universitas Pelita Harapan yang diwakilkan pada program “Asian Thought”.

Napas Liberal Arts ala UPH ini mempelajari pemikiran-pemikiran filosofi dari India (Asia Selatan), Cina dan Jepang (Asia Timur). 

Juga mengeksplor pertanyaan-pertanyaan seperti: apa itu ultimate reality, bagaimana menciptakan personal freedom, bagaimana jalan untuk membuat seseorang etis.

Kemudian, ada juga Universitas Pembangunan Jaya yang mengembangkan napas Liberal Arts lewat program “Pengantar Ilmu Pengetahuan Alam” yang mempelajari dasar-dasar ilmu fisika, kimia, biologi, dan kebumian. Serta kemasan Liberal Arts pada program “Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial” yang mempelajari dasar-dasar psikologi, antropologi, sosiologi, dan ekonomi.

Untuk lebih profesional dan mendalam, sudah saatnya perguruan tinggi di atas ataupun yang lainnya untuk menggandeng atau bermitra dengan perguruan tinggi Liberal Arts kelas dunia.