Saya ingin menceritakan tentang tautan psikis yang saya rasakan. Saya menerawang jauh tentang sebuah jalan yang hendak saya tempuh sebagai seorang mahasiswa yang maniak terhadap ilmu dan pengetahuan.

Mula-mula saya sadar, saya bukan aktivis sebagaimana senior-senior yang selalu saya banggakan. Tapi ketika saya bergabung dan menekuni aktivitas dalam sebuah organisasi kemahasiswaan seperti yang mereka lakukan, saya merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri saya. Berbagai macam pertanyaan menghampiri lubuk hati saya.

Apakah saya bagian dari orang-orang itu, orang-orang yang tengah berada dalam pusaran kalimat suci yang selalu mereka kumandangkan sebagai slogan di setiap langkahnya dan diiringi dengan keserentakan mengucap fastabikhul khairat?

Ah, tidak mungkin. Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah mahasiswa biasa yang dipercayai oleh keluarga untuk menuntut ilmu dan kelak pulang membanggakan mereka. Dan alangkah baiknya kepercayaan itu saya balas dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan selalu hadir di kelas kuliah tepat waktu.

Kalaupun saya ikut dalam pergerakan mereka, pasti konsekuensinya saya harus mengorbankan jam kuliah dan mengingkari komitmen terhadap kepercayaan keluarga yang sudah berusaha, bersusah payah untuk membiayai, dan mencukupi kebutuhan saya selama kuliah.

Tapi kenapa mereka melakukan itu? Bukankah mereka juga sama dengan saya, diberi kercayaan oleh orangtuanya untuk menuntut ilmu? Kenapa mereka mengorbankan kepercayaan itu dan ikut dalam pergerakannya sembari melafalkan kalimat yang tidak asing saya dengar tersebut?

Ada apa di balik pergerakan dan kalimat itu? Apa yang menjadi tujuan dari pergerakan orang-orang itu? Apakah mungkin mereka melakukan sebuah tindakan dengan dasar atau berlandaskan kalimat yang mereka ucapkan?

Ah, biarlah. Buat apa juga saya mengurusnya. Lagian saya punya urusan kuliah dan kenapa harus meninggalkannya hanya karena ingin memperhatikan pergerakan mereka. Sembari saya mengeluh, seketika itu saya pun tersadar dari renungan pergerakan tersebut.

Pandangan saya terfokuskan kepada gelas kopi yang ada di dekat ranjang tidur saya. Saya pun bangun dari rehat sejenak itu sambil menikmati kopi seteguk demi seteguk.

Tak terasa kopi yang saya minun sudah sampai di pertengahan gelas. Dengan pelan saya menaruh gelas yang ada di tangan saya, saya beranjak berdiri dengan niat merapikan dan membersihkan kamar. Secara tidak sengaja saya menarik selembar kertas putih yang dibawa oleh senior saya, Ketua Umum Komisariat Tamaddun, Bang Ijal akrab saya panggil.

Ketika saya menarik sembari melihat kertas tersebut, saya kaget melihat gambaran lelaki dan perempuan yang mengangkat tangan dengan mulut yang terbuka lebar, menandakan mereka sedang berjuang, membuat saya penasaran dan memerhatikannya secara detail.

Kaget bukan main yang saya rasakan ketika kalimat Aliansi Mahasiswa Bersatu menjadi kalimat pertama yang saya baca. Rasa penasaran dengan kalimat itu jadi pemicu utama dan membuat rasa penasaran saya semakin memuncak.

Kembali saya fokuskan pandangan. Kalimat per kalimat saya simak mengantarkan perhatian saya terhadap isi dan teks lanjutannya. Debaran perasaan sangat kuat meledak dan mendobrak akal dan perasaan saya.

Sejenak saya coba renungkan kembali. Oh Mungkinkah? Mungkinkah ini yang mereka perjuangkan dalam pergerakannya?

Aduhai sekiranya itu benar, sungguh buta kesadaran ini, sungguh dangkal pemikiran ini, bagaimana saya bisa menikmati nyamannya bangku kelas yang setiap harinya saya duduki dengan putaran kipas di atas kepala saya itu, sedangkan di sisi lain mereka sedang memperjuangkan apa yang saya nikmati.

Bagaimana bisa saya sandarkan badan saya di kursi kelas itu sementara mereka sedang menuntut kepuasan akan proses pendidikan yang kebijakannya masih menindas saudara saya sendiri? Oh merugilah saya, sungguh merugilah saya.

Ketika saya sadar dari renungan itu, dengan semangat saya memutuskan ikut-serta dalam pergarakan saudara-saudari saya. Karena saya tidak ingin kalimat mulia itu terlewatkan dengan percuma tanpa saya rasakan perjuangan dalam merealisasikannya.

Saya tidak ingin hanya orang lain saja yang memperjuangkan apa yang ingin saya rasakan. Saya harus bersama mereka, berjuang dengan mereka, bahu-membahu dalam menuntut kebijakan agar kelak dapat dirasakan bersama bagaimana pahitnya perjuangan dan manisnya hasil yang didapatkan.

Jika diam melihat keburukan tanpa melawannya dan diam ketika melihat kebaikan tanpa mengikutinya adalah bentuk pengkhianatan (Bang Nabil), maka saya sangat tidak rela apabila kata pengkhianatan itu disandangkan kepada saya, apalagi menjadi label yang harus tertempel di wajah saya.

Tidak terhenti sampai di situ, lagi-lagi saya tergoda dengan kalimat: Saya ada jam kuliah, saya ada keperluan lain tentang akademis. Saya sungkan jikalau saya harus bolos dan saya takut IP anjlok, saya takut dikenali sebagai mahasiswa yang suka mencetuskan aksi demonstrasi.

Dengan sendiri saya coba menjawab. Maka relakah kau yang dianggap saudara dan dipandang keluarga oleh mereka lalu menikmati apa yang saudara dan keluargamu perjuangkan dengan semena tanpa memberika motivasi dan membantunya?

Ataukah mungkin dirimu menjadi salah satu dari mereka yang mengutamakan sikap individual yang mengatasnamakan kebijakan membuat kau apatis dan diselimuti rasa tidak peduli sehingga engkau enggan untuk menyuarakan kebenaran?

Oh tidak, itu bukan kamu. Kamu jauh dari itu, dan itu adalah musuh kamu. Maka, sekali lagi kupertegas, saudaraku, mari bersama kita rapatkan barisan menyuarakan kebenaran, melepaskan beban saudara kita, dan menjadi bagian dari pusaran kalimat mulia. Yang kita bawa adalah nilai, yang melawan nilai adalah musuh, dan yang melawan musuh adalah jihad fii sabilillahil haq fastabikhul khairat.