Belakangan ini, sebuah fenomena revival/kebangkitan kembali sedang menerpa dunia hiburan. Kebangkitan itu dialami oleh seorang penyanyi Jawa. 

Sebenarnya, ia sudah berkiprah sejak tahun 1989. Namun, di tahun 2019, fenomena galau di antara kaum milenial membuat namanya kembali mencuat ke permukaan.

Penulis sendiri akrab dengan lagu-lagunya. Sejak kecil, ayah penulis sering menyetel lagu Sewu Kuto, Stasiun Balapan, Tanjung Mas Ninggal Janji, dan berbagai lagu Campursari lainnya. 

Meski tidak mengerti Bahasa Jawa, penulis bisa merasakan kegetiran hati yang luka dari suaranya. Ditambah dengan irama yang asyik dijogeti menjadikan lagu-lagunya unik. Pantas saja kaum milenial menggandrunginya.

Bapak Patah Hati Nasional. The Godfather of Broken Heart. Lord Didi. Itulah gelar dari para milenial yang mengidolakan seorang Didi Kempot. 

Musisi kelahiran Solo ini menemukan audiens baru di tahun 2019. Banyak lagu-lagunya yang bertema patah hati berhasil menghipnotis para milenial. Sampai-sampai mereka berhimpun dalam perkumpulan Sad Bois, Sad Girls, Sobat Ambyar, dan lain sebagainya.

Lantas, bagaimana fandom ini terjadi? 

Bangkitnya Didi Kempot sendiri berawal dari media sosial, khususnya Twitter dan YouTube. Awalnya, Didi Kempot menjadi trending topic di Twitter berkat sebuah postingan video konsernya di Surakarta. Di sinilah awal julukan The Godfather of Broken Heart. Ternyata, trending topic tersebut menarik perhatian content creator bernama Gofar Hilman.

YouTuber ini pun mengadakan acara Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) offair pertama di Wedangan Gulo Klopo, Kartasura, Jawa Tengah. “Pas pertama, kayak ya udahlah yang dateng mungkin 50, 100. Tapi ternyata yang dateng itu 1.500,” tandas Gofar di Rosi

Lebih gilanya lagi, konten ini sudah ditonton 2,6 juta orang di YouTube. Maka, the rest is history.

Didi Kempot yang adalah seorang seniman tradisional meledak karena media sosial Twitter dan YouTube. Fenomena ini pasti mengagetkan kelompok anti-globalisasi. Buat mereka, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Mengapa? Sebab media sosial dipandang sebagai agen globalisasi yang menghancurkan budaya asli bangsa.

Media sosial dipandang sebagai corong masuknya budaya asing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, sebagai agen westernisasi yang memusnahkan kebudayaan asli suatu bangsa. Jadi, kalau mau melindungi kebudayaan asli bangsa, jangan mau menerima globalisasi di bidang budaya. Itulah premis yang berlaku bagi kelompok anti-globalisasi.

Mengapa demikian? Kaum anti-globalisasi menggunakan asal globalisasi sebagai legitimasi. Globalisasi itu berasal dari Barat. Ia menjadi alat penyebaran semua hal berbau Barat, termasuk budaya. Jadi, menerima globalisasi sama saja dengan cow into submission budaya asli bangsa kepada budaya barat. Maka, mereka beranggapan bahwa globalisasi adalah zero-sum game yang harus dihindari.

Apakah hal di atas bisa terjadi? Bisa. Tetapi dengan asumsi bahwa bangsa tersebut tidak memiliki identitas budaya yang kuat. Indonesia tidak termasuk dalam kategori tersebut. 

Kita adalah salah satu bangsa paling multikultural di dunia. Ada 1.340 suku bangsa di Indonesia (indonesia.go.id, 2017). Setiap suku bangsa tersebut mempunyai budaya yang unik dan menonjol.

Musik Campursari yang dibawakan Didi Kempot adalah salah satu produk budaya tersebut. Sama halnya seperti Musik Gambang Kromong yang dibawakan Benyamin Suaeb. Ia menjadi sebuah subkultur yang membumi di masyarakat. 

Ketika pembumian itu terjadi, ia menjadi sebuah identitas budaya yang dibawa oleh setiap anggota masyarakat. Di mana pun dan kapan pun.

Termasuk di media sosial. Milenial yang mengidentifikasi pengalaman hidup dengan lagu-lagu Campursari Didi Kempot pun menunjukkan identitas tersebut. Ini dibuktikan dengan berbagai postingan soal Didi Kempot di media sosial. Mulai dari ekspresi para Sad Bois ketika menonton Godfather mereka bernyanyi. Hingga berbagai meme plesetan lirik lagunya yang terkenal.

Ternyata, manifestasi budaya asli bangsa di antara kaum milenial menjadi kekuatan yang sangat besar. Ia menjadi bukti kekuatan mobilisasi di era post-modern ini. 

Berkat mobilisasi, corong media sosial berhasil dibalikkan oleh para Sobat Ambyar, Sad Bois, Sad Girls, dan Kempoters. Ia menjadi agen budaya asli bangsa untuk manggung di kancah nasional, bahkan internasional.

Dampaknya, Campursari berhasil menjadi hype di antara milenial. “Ternyata anak-anak muda di negeri ini masih sangat mencintai budaya,” tandas Lord Didi (wowkeren.com, 2019). 

Campursari tidak lagi dianggap menjadi musik kampungan, melainkan sebagai medium pelipur lara. Tempat melampiaskan semua nelangsa dalam hati, sambil berjoget menikmati irama musik Jawa. Patah hati mending dijogeti.

Kesimpulannya, kebangkitan Didi Kempot mematahkan argumen penyingkiran budaya anti-globalisasi. Justru, di era mobilisasi, corong globalisasi bisa dibalikkan. Lantas, ia menjadi perantara bagi budaya asli bangsa untuk bersinar kembali. Salam Ambyar!