Kemajuan teknologi dari masa ke masa tidak bisa dibendung dan hal tersebut memaksa semua hal harus bisa beradaptasi kalau tidak mau tertinggal. 

Banyak terjadi perubahan tatanan kehidupan di semua aspek akibat adaptasi dari kemajuan teknologi tersebut. Misalnya dulu kalau ingin membeli makanan, tentu harus pergi ke tempat penjual makanan itu berjualan, saat ini hal tersebut sudah bisa dilakukan pada aplikasi di gawai pintar yang kita miliki. 

Sebagai pedagang makanan, tentunya juga harus beradaptasi dengan teknologi tersebut, yaitu dengan memasukkan dagangannya dalam aplikasi tersebut jika tidak mau tertinggal atau kehilangan pelanggan.

Kemajuan teknologi juga ternyata berdampak dalam bidang agama. Dahulu untuk bisa membaca Alquran, tentu harus membuka mushaf Alquran secara fisik, saat ini mungkin hal tersebut sudah tidak perlu dilakukan lagi. Cukup mengunduh aplikasi Alquran, maka 30 juz mushaf Alquran sudah berada dalam genggaman. Kapan saja mau membacanya, tinggal tekan tombol, dan pilih apa yang mau dibaca.

Juga misalnya untuk mendengarkan ceramah para pemuka agama, mungkin dulu harus mendatangi tempat kajian keagamaan untuk bisa mendengar ceramah tersebut. Saat ini tidak perlu mendatangi tempat-tempat kajian tersebut untuk mendengar ceramah semacam itu, tinggal ambil gawai yang kita miliki, dan tekan tombolnya, maka bisa mendengarkan ceramah dari siapa pun tokoh agama yang ingin didengar ceramahnya.

Berkenaan dengan hal ini saya pernah berpikir apakah azan di masjid masih perlu dilakukan? Mengingat esensi dari azan sebenarnya adalah memberitahukan waktu salat atau mengingatkan waktu salat. Memberitahukan sejatinya dilakukan kepada yang belum tahu dan mengingatkan dilakukan kepada yang lupa. 

Kalau memberitahukan kepada yang sudah tahu dan mengingatkan kepada yang tidak lupa, maka sebenarnya itu tidak terlalu bermanfaat. Bagi saya mungkin azan di masjid sudah tidak terlalu bermanfaat, mengingat gawai pintar saya sudah mengumandangkan azan setiap masuk waktu salat.

Di zaman Rasulullah, Ketika hukum syariat azan diperintahkan oleh Allah, maka orang yang pertama kali diminta oleh Rasulullah untuk mengumandangkan azan adalah Bilal bin Rabah, ia dipilih karena suaranya sangat merdu dan lantang. Ia dikenal sebagai muazin pertama dalam Islam. Bilal mengumandangkan azan dari tempat yang tinggi karena memang saat itu tidak ada teknologi apa pun untuk memberitahukan waktu salat, selain meneriakkan dari tempat yang tinggi.

Seiring waktu berjalan dan ditemukan teknologi baru yaitu pelantang suara, maka tidak dipakai lagi muazin meneriakkan azan dari tempat tinggi secara langsung untuk mengingatkan atau memberitahukan waktu salat. Itu artinya teknologi ditemukannya pengeras suara menggeser kebiasaan mengumandangkan azan secara langsung dari tempat yang tinggi. 

Saat ini sudah ditemukan kembali teknologi untuk memberitahukan waktu salat melalui gawai pintar, apakah azan dengan pengeras suara masih diperlukan? Biar waktu nanti yang akan menjawabnya.

Di beberapa negara sekuler seperti Jerman, Spanyol, Perancis, dan lain-lain, azan memang dilarang untuk dikumandangkan, karena dianggap sebagai 'polusi' suara dan mengganggu. Saya bisa memaklumi hal tersebut karena memang sangat mungkin ada kalangan yang merasa terganggu dengan dikumandangkannya azan, apalagi bagi nonmuslim. 

Terkadang bagi umat muslim sendiri suara azan yang terdengar tidak merdu juga mengganggu, apalagi bagi nonmuslim yang tidak memiliki keterikatan apa pun dengan dikumandangkannya azan.

Menurut saya, sebagai umat muslim terkadang terlalu sensitif terhadap isu-isu “menjatuhkan atau mendiskreditkan Islam”. Misalnya pemerintah –dalam hal ini adalah Kementerian Agama—mengeluarkan aturan mengenai pengeras suara di masjid, dikatakan pemerintah anti Islam. 

Lalu ada lagi misalnya Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Republik Indonesia membawakan puisi yang berjudul “Ibu Indonesia” dianggap menyinggung syariat Islam. Padahal dalam puisi tersebut Sukmawati hanya ingin menyampaikan bahwa sebagai bangsa Indonesia jangan sampai kehilangan jati diri sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan sendiri. Masih banyak contoh-contoh lain yang memperlihatkan ke-lebay-an kita sebagai umat muslim.

Saya teringat apa yang dikatakan oleh Gusdur, beliau pernah mengatakan bahwa perilaku kearab-araban akan menjadi suatu yang berbahaya dan bisa mencabut Indonesia dari akar budayanya. Beliau menjelaskan kalau kita berpikir pakai gamis/sorban itu mencontoh atau menjalankan sunah Nabi, itu artinya ngaji kita kurang jauh.

Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad menggunakan gamis dan sorban itu karena beliau menghargai pakaian nasionalnya, yaitu pakaian Arab. Jadi gamis itu pakaian Arab, bukan pakaian Nabi Muhammad. Abu Jahal --orang yang memusuhi Islam di jaman Rasulullah--juga pakai gamis, karena Abu Jahal juga orang Arab. 

Kalau mau mencontoh Nabi Muhammad, kenakanlah batik atau kebaya, itu adalah pakaian nasional Indonesia, begitu Gusdur menjelaskan cara mencontoh Nabi Muhammad dalam hal berpakaian.

Jadi pada intinya Gusdur berpesan kepada kita semua, janganlah sok kearab-araban. Untuk menjalankan ajaran Islam dengan baik, tidak perlu menjadi orang arab. Menjalankan sunah Nabi Muhammad itu bukan menjalankan apa yang dilakukan Nabi 100%, tetapi teladanilah akhlaknya, pelajari budi pekertinya, terapkan esensi dari sikapnya.

Ayolah saudara-saudaraku sesama umat muslim, ubahlah cara pandang dan sikap kita terhadap isu-isu seperti itu. Mau sampai kapan kita begini? Ingat, Indonesia adalah negara muslim terbesar di seluruh dunia, tapi ternyata bukan negara yang islami—menerapkan kaidah atau nilai-nilai keislaman sesuai tuntunan Alquran. Kita masih kalah “Islami” dengan Selandia Baru yang justru 40% penduduknya tidak beragama.

Menurut artikel yang saya baca di Media Indonesia mengenai indeks negara islami tahun 2018, negara paling islami menurut penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari itu adalah Selandia Baru. Kedua peneliti tersebut mengganjar Selandia Baru dengan indeks tertinggi 9,20 setelah meneliti kondisi ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak asasi manusia dan politik, serta hubungan internasional di negara itu. 

Negara-negara Islam justru sebagian besar bertengger di urutan di atas urutan seratus. Iran berada di urutan ke-125, Mesir ke-137, Pakistan ke-140 dan Sudan ke-152. Indonesia sendiri berada di urutan ke-64 dari penelitian tersebut. Dan itu artinya kurang islami kalau dibandingkan dengan negara jiran kita, yaitu Malaysia yang berada di urutan ke-47 dan Singapura di urutan ke-22.

Dilihat dari indeks tingkat kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya, negara-negara Islam juga berada di urutan yang jauh di bawah negara-negara sekuler. Finlandia, Denmark, Selandia Baru, Norwegia, Israel, Swedia, Australia, Costa Rica, Iceland, dan Kanada adalah sepuluh negara dengan indeks kemakmuran dan kebahagiaan tertinggi, menurut laporan para peneliti independen yang saya kutip dari tautan https://worldhappiness.report/.

 Semua itu harusnya sudah cukup menyadarkan kita bahwa cara pandang dan tindakan yang kita lakukan selama ini kurang benar. Mari kita bangun dari keterlenaan panjang ini. Masa negara Islam kalah islami dibandingkan negara non-Islam. Fakta yang menyedihkan tentunya bagi kita semua.