Mulan, sebut saja begitu. Dia begitu takjub melihat lemari-lemari dan rak-rak yang berisi buku di rumah kami. Lemari dan rak buku itu tidak hanya terpajang di ruang tamu tapi sampai di ruang tengah, ruang makan. Belum lagi yang lemari, rak, dan meja yang ada di kamar semuanya rata-rata berisi buku. 

Kata Mulan, biasanya ketika dia melihat pajangan lemari atau rak orang Sulawesi (Sulselbar) di ruang tamu itu bukan buku tetapi berupa pernak-pernik, guci-guci, hiasan dan lain sebagainya. 

Pada ruang tengah, biasanya pajangan berupa perabot-perabot rumah tangga seperti piring, gelas, mangkok, dan sebagainya di lemari atau raknya. Namun ini, lain daripada yang lain, yaitu buku.

LIKE FATHER LIKE SON & DAUGHTER

"Buku lagi, buku lagi." 

Itu kata ibuku. Sampai-sampai, ibu kami bilang, ayah kami adalah orang gila, 'gila buku'. Bagaimana tidak? Buku-buku ayahlah yang banyak memenuhi lemari-lemari, rak-rak, dan meja-meja. Dia suka sekali membeli buku. Kalau ada istilah "Pacar buku" dia mungkin "Suami buku." 

Ayah memang pendiam, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku yang dibelinya disela-sela waktu senggangnya.

Aku ingat ketika aku masih kecil dan bersekolah. Setiap keluar kota, terutama ke pulau Jawa untuk mengikuti pelatihan karena dia adalah seorang pendidik dan anggota suatu organisasi kepemudaan, dia pasti lebih mementingkan membawa oleh-oleh buku. 

Oleh-oleh makanan berupa kue dodol hanya satu sampai dua buah dus yang seukuran kotak pensil itu yang dibawahnya ke rumah. Itupun kadang disuguhkan pada teman-temannya yang datang berkunjung. 

Atau buah tangan seperti anggur dan apel. Anggur dibelinya hanya beberapa kilo, apel juga begitu. Atau kerupuk khas suatu daerah, hanya beberapa bungkus saja yang sampai ke rumah.

Tapi, jangan tanya, isi dusnya, tas pakaian atau dan kopernya. Jika dia membukanya, kami akan melihat buku-buku, bukan pakaian. Pakaian hanya beberapa lembar, namun buku, banyak bertumpuk-tumpuk. 

Dia memang lebih senang membeli buku untuk menjadi oleh-oleh tapi buat dirinya, buku itu belum menjadi bacaan bagi kami. Walau terkadang, beliau membeli majalah anak-anak Bobo yang sudah bekas atau dan majalah Aku Anak Saleh.

Saking sukanya membeli buku, sampai-sampai pernah ada kiriman paket yang berisi satu dus buku untuk ayah dari Jakarta. Pada zaman aku kecil, hal itu luar biasa sekali. Di tempat kami, belum banyak toko buku pada saat itu.

Bukan hanya buku, ayah yang senang membaca ini, juga seorang pembaca koran atau surat kabar. Dia telah berlangganan koran di Ujung Pandang (Makassar) sejak kami kecil. 

Aku ingat, dulu ada koran Pedoman Rakyat yang kini sudah tidak terbit lagi, dan Fajar yang berafialiasi dengan Jawapos tersedia di rumah kami, sampai pada surat kabar, Republika yang dicetak dan dikirim dari Jakarta.

Waktu itu ibuku sampai marah-marah, katanya, mendingan uang langganan koran dipakai untuk beli bumbu dapur. Bumbu dapur bisa menjadi tambahan pelezat makanan sedangkan koran untuk apa? Sudah dibaca (kalau dibaca) kertas-kertasnya hanya diam bertumpuk di ruangan, gudang. Tak ada guna, tak ada fungsi. 

Namun, ibu tidak (pernah) kesal atau marah kepada Aar, adikku tentang memiliki banyak buku. Mungkin, ibuku senang, anaknya jadi pintar. Like father like son, maka, seperti ayah, adik laki-lakiku yang satu-satunya ini (dulu) juga adalah seorang pecinta buku berat. 

Dia juga seperti ayah, ketika menjadi utusan organisasi mahasiswa pergerakannya, dia lebih suka membawa pulang oleh-oleh buku yang dibelinya dengan murah-meriah di kota-kota besar misalnya, ketika dari Jogja.

Aar juga senang membeli buku langsung pada penerbitnya secara partai besar dan menjualnya dengan eceran pada teman-temannya. Saat itu buku cerita-cerita Nusantara seperti Gadjah Mada dan Suluk yang berjilid-jilid menjadi favoritnya sampai dikirim ke rumah.

Jika ayah sampai sekarang masih suka membeli buku walau jarang melihat lagi koleksi bukunya di masa lalu sehingga buku-buku itu banyak yang tidak terawat dan dimakan anai-anai, rayap, atau dan kutu buku itu sendiri. Tapi, Aar sudah jarang sekali membeli buku. Mungkin, karena dia sudah masuk di dunia kerja, dia lebih banyak membeli pakaian sekarang.

Padahal, dulu Aar adalah seorang pembaca yang buku yang baik dan benar. Setelah membaca buku pasti dibedahnya dengan cara mendiskusikannya dengan teman-temannya atau sampai menceramahi kami saudari-saudarinya dengan isi buku tersebut.

Aar pun pernah membuang sekardus buku yang dibelinya, koleksinya ke tempat sampah karena menganggap buku-buku tersebut kurang bagus, jelek karena isi bukunya tidak bagus. Dan penulisannya masih kacau balau. Namun kami saudarinya menyarankannya untuk disumbangkan ke perpustakaan. 

Kemudian dengan frontal dia berkata, "Buku jelek kalian mau sumbangkan ke perpustakaan? Bagaimana nanti nasib atau pemikiran para pembaca buku itu? Bukannya tambah pintar tapi tambah bodoh."

Aku kemudian melihat koleksi buku-buku yang mau dibuang itu. Ada beberapa buku baru dan buku lama. Namun, disalah satu bukunya, ada yang pernah kubaca memang bukan buku yang memberikan pencerahan pada dunia pendidikan dan agama yang moderat.

Bukan hanya buku koleksi Aar yang pernah kami buang, karena alasan buku itu kurang bagus. Kami juga pernah membuang buku-buku paket pendidikan milik ayah. Pasalnya, buku-buku yang ayah dapatkan dari Dinas Pendidikan itu tidak terpakai lagi. 

Kurikulum yang beda berganti tema, isi, dan buku sehingga buku itu tidak dipakai lagi namun isinya sangat bagus untuk dibaca, banyak ilmu dan pengetahuan didalamnya. Kami menyimpannya di gudang karena tidak ada tempat lagi. Namun, ketika disimpan di sana karena saking banyaknya, eh, malah jadi santapan tikus. 

Begitupun dengan koran-koran yang bertumpuk di gudang menjadi istana bagi tikus. Kami pun membuangnya berkarung-karung karena jijik dan takut rumah kami jadi sarang tikus. 

Like father, like daughter (too), aku dan kakak perempuanku yang dulu kuliah di Jogja juga suka dan senang sekali membeli buku. Alasannya, bukan karna kami pembaca buku berat atau gila baca, tapi lebih kepada kami membeli buku untuk mencari referensi: tugas, mata kuliah, dan bahan untuk tesis.

Ketika pulang ke Sulawesi, kami pun mengirim buku-buku itu. Buku-buku itu ada sebanyak dua puluh dua (22) kardus besar tempat rokok. Kami menggunakan paket pengiriman barang ekspedisi. 

Akhirnya, setelah menunggu kurang lebih sebulan, dus yang berisi buku-buku dan materi-materi kuliah sampai di Makassar. Semuanya kertas-kertas, buku-buku, bukan baju-baju keren atau oleh-oleh khas Jogja.

Menurutku, bahan buku yaitu kertas tetap menjadi alat yang paling keren untuk dijadikan buku. Dan buku tetaplah menjadi sesuatu yang paling keren ketika dimiliki. Namun, yang paling keren adalah pembaca buku itu sendiri, orang yang mau membaca buku. 

Seperti kata ibuku, "ayahmu memang keren, punya segudang buku. Tapi lebih keren lagi jika dia membaca semua bukunya itu, sehingga dia menjadi gudang ilmu."

Iya, betul juga kata ibu. Jangan sampai selama ini, kami hanya bangga membeli, memiliki, atau dan memajang buku-buku di lemari, rak, dan meja. Apalagi, merasa menjadi paling keren tanpa membacanya.

KERTAS ATAU BUKU HARI INI DI KEHIDUPANKU. 

Sebagai seorang pendidik, aku lebih suka menyuruh mahasiswa membawa bahan atau tugas kuliah dari buku cetak bukan e-book walau kadang-kadang mereka juga harus mengirim tugasnya lewat e-mail, Whatsapp ketika aku tidak mengajar.

Masalahnya, walau sekarang adalah era digital, aku lebih senang membaca dari kertas, atau buku. Tugas-tugas bisa ditulis dengan tangan, jadi ketahuan siapa mahasiswa yang tulisannya bagus sampai yang paling terbagus. Terus, buku-buku yang dibaca dan dibahas di kelas bisa terlihat jelas dan langsung dibaca walau tanpa paket data, wifi atau berbagi jaringan.

Namun semuanya itu karena alasan yang paling utama adalah, "Hayati lelah, bang." Eh "Mata ini lelah membaca di gawai."

Namun, aku tetap berusaha menyeimbangkan penggunaan kertas dengan tidak selalu juga menggunakannya karena ketika ujian aku lebih memilih dengan ujian lisan.

Aku tetap setia pada kertas-kertas, buku. Bagaimana denganmu? Apakah kamu tetap setia padaku? Ups...

LA, 150619