45862_76760.jpg
Liputan6.com
Ekonomi · 3 menit baca

Bang Sandi, Tempe Belum Setipis ATM, Kok !

Entah majas apa yang digunakan Sandiaga Uno, hingga menyebut bahwa tempe saat ini sudah setipis kartu ATM, menyikapi tentang kondisi rupiah yang semakin melemah kepada dollar Amerika.

Ok, kita sebagai kumpulan manusia sadar dan waras, tentu paham bahwa maksud dari kata-kata bang Sandi tersebut hanyalah candaan saja. Sama seperti ketika beliau sebut "Bi Narti" atau "Bu Lia" yang sampai bertengkar dengan suami akibat uang 100 ribu hanya bisa beli bawang dan cabai.

Entah itu Bu Lia yang kurang piknik atau suaminya yang ke ibu-ibuan. Uang 100 ribu hanya beli bawang dan cabai, bisa jadi benar kalau Bu Lia beli Bawang 3 kilo, cabai merah 5 kilo. Habis deh uangnya.

Tapi, sekali lagi, kita yang waras dan sadar, harus paham, bahwa ungkapan bang Sandi itu hanya sebuah majas agar kata-katanya terdengar seksi di telinga.

Tapi, mendengar ungkapan beliau kenapa tempe saat ini setipis kartu ATM, membuat saya sedikit mengernyitkan dahi. Apalagi ini dikaitkan dengan melemahnya rupiah terhadap USD. Saya sampai berpikir, "sekelas cawapres, kok hanya sedangkal itu ya penjelasannya?"

Maaf, bukan bermaksud mem-bully, tapi saya rindu politisi bangsa ini yang benar-benar mendidik rakyatnya, untuk berpikir lebih jernih lagi, dan berlaku positif. Jadi, bukan hanya kejar kekuasaan saja. Jika hanya dengan 'manis-manis' ucapan saja, di mana daya tariknya? Toh, rakyat juga yang dibuai!

Bang Sandi mungkin tidak tahu, bahwa salah satu sebab akibat melemahnya rupiah terhadap mata uang asing adalah faktor ketergantungan impor bangsa kita. Kenapa? Karena Bang Sandi membahas soal tempe, maka erat kaitannya dengan kedelai. Kalau sudah bicara kedelai, yang kita bahas bukan hanya tempe, melainkan saudara kandung tidak seindung juga turut dibahas, yakni, tahu.

***

Jika rupiah melemah terhadap USD, berarti harga kedelai impor juga turut naik. Jelas, pengrajin tempe dan tahu akan mengeluh, karena kedelai impor itu yang dipakai sebagai bahan baku produknya. Karena ketergantungan akan kedelai impor, maka ada dua pilihan. 

Pertama, menaikkan harga tempe dan tahu, yang pastinya emak-emak yang demo di istana karena telor naik, akan lebih "ganas" demonya. Kalau saat itu emak-emak itu hanya demo dengan gelang emas, kali ini mereka akan demo dengan behel berlian. Ngeri, bukan? Celana legging pun, pasti akan bocor!

Kedua, mengurangi atau memperkecil ukuran dari biasanya. Karena dinilai lebih aman, maka hal ini yang dilakukan, tapi tidak setipis kartu ATM kok.

Nah, sebagai seorang politisi saat ini, Bang Sandi harusnya menawarkan program penghentian Impor tempe kepada rakyat. Ini solusi, bukan malah cari sensasi dengan bahasa ala Vicky Prasetyo.

Bang Sandi harus punya data, apa sebenarnya masalah bagi pengrajin tempe dan tahu, sehingga enggan menggunakan kedelai lokal, dan harus bergantung dengan kedelai impor. Ngumpulin data itu tidaklah mahal, bahkan tidak butuh uang sekardus.

Karena, jika rakyat Indonesia masih tergantung dengan Impor, sampai cucu saya (anak saya masih umur 18 bulan) jadi Presiden pun, rupiah akan tetap ditekan mata uang asing. Karena bangsa kita yang belum bisa mandiri terhadap ekonominya sendiri. Meski impor tetap harus ada, setidaknya dari segi ketahanan pangan, kita sudah mandiri.

***

Sebagai orang kampung, saya tahu sendiri permasalahan, kenapa para pengrajin tempe dan tahu itu lebih suka kedelai Impor, daripada kedelai lokal.

Saat ini, pemerintah sedang berupaya menggalakkan penanaman PAJALE kepada petani Indonesia, tujuannya, agar kita bisa surplus diketahui komoditi pangan tersebut.

Tahu singkatan dari PAJALE kan, Bang? Itu singkatan dari padi, jagung, dan kedelai.

Dan karena ini program nasional, desa kami juga dihibahkan dinas pertanian bibit kacang kedelai. Padahal, desa kami tidak pernah menanam tanaman seperti itu, dan di sinilah letak kritikan saya kepada pemerintah terkait, kenapa tidak meletakkan sesuatu itu pada tempatnya.

Warga desa saya kebingungan, mau ditanam, hasilnya akan dijual ke mana.

Maka, sebagian dari mereka menanam sedikit dari sekian banyak bibit yang diterima, sebagai uji coba. Pertumbuhannya tidak seperti pertumbuhan kacang buncis yang biasa mereka tanam. Tapi tetap mereka rawat dengan baik, berharap benar-benar bisa memberi hasil maksimal.

Dan singkat tulisan, kedelai tersebut panen. Mau dipasarkan ke mana?

Saya ikut mendampingi untuk menawarkan kepada pengrajin tahu tempe di kota terdekat. Dari sekian banyak tempat usaha yang kami sambangi, semuanya menolak kedelai lokal.

Alasannya sama, "susunya gak banyak," jelas mereka. Tahu dan tempe yang dihasilkan tidak enak, kata para pengrajin tersebut.

Sampai di sini, paham kan, Bang, kenapa pengrajin itu masih gemar pakai kedelai impor?

Akhirnya, kedelai tersebut hanya laku kepada kios eceran, dan dijual bagi mereka yang suka mengolahnya menjadi bahan baku susu bersama jenis kacang lainnya.

***

Dari data di atas, Bang Sandi sebenarnya dapat sedikit data dari saya, kenapa tempe itu akhirnya semakin mengecil ukurannya.

Pertanyaan saya, apakah ini tetap kesalahan dari pemerintah? 

Apakah kedelai lokal yang susunya kurang, merupakan kesalahan pemerintah dalam mengelola unsur hara tanah Indonesia?

Maaf saya bertanya demikian Bang Sandi, pemahaman saya akan 'susu' masih setipis ATM. #eh