1 tahun lalu · 799 view · 6 min baca menit baca · Politik 26792_19302.jpg
Kartun Majalah Tempo Edisi 26 Februari 2018

Bang Habib yang Tak Pulang-Pulang

Tak ada penggambaran paling pas untuk Rizieq Shihab selain menyamakan dirinya dengan Bang Toyib. Pentolan Front Pembela Islam (FPI) dan tokoh rekaan Gebby Vesta itu punya kesamaan laku yang beda-beda tipis: tak pulang-pulang. Karena kesamaan inilah maka saya gabungkan mereka saja jadi Bang Habib (Bang Toyib dan Habib Rizieq).

Bang Toyib mungkin sedikit lebih baik. Meski sudah 3 kali puasa dan lebaran tak pulang-pulang temui anak-istrinya, setidaknya ia tak pernah memberi harapan palsu untuk mereka yang menunggui kepulangannya. Beda dengan Rizieq Shihab, walau belum sampai selama itu, tetapi menyisakan sakit teramat dalam—kata anak zaman sekarang, Rizieq itu PHP (Pemberi Harapan Palsu); tidak jelas.

Terhitung sejak 27 April 2017, Rizieq pergi tinggalkan Indonesia, mungkin dengan segala kenangan pahit-manisnya sekaligus. Katanya sih untuk umrah. Tetapi, sampai hari ini, hanya gelegar suaranya saja yang bisa orang dengar. Batang hidungnya tak pernah nongol walau secuil.

Alasan pasti di balik ke-tak-pulang-pulang-an Rizieq tiada yang tahu. Orang hanya bisa sekadar menerka, bahwa itu ada hubungannya dengan konten blog baladacintarizieq yang tersebar hebat sejak 28 Januari 2017 silam.

Ya, baladacintarizieq yang berisi screenshot percakapan WhatsApp bernuansa mesum antara “Rizieq Shihab” dan “Firza Husein” itulah yang jadi pemantik awal. Oleh karena dinilai sebagai konten bermuatan pornografi, Polda Metro Jaya lalu memanggil Rizieq Shihab sebagai saksi.

Sayang, meski Firza Husein sudah memenuhi panggilan sebagai pihak yang sama, tetapi sang orator “Pembela Islam” itu lebih memilih untuk mangkir. Pemanggilan dirinya pada 25 April 2017 tidak Rizieq indahkan. Hingga dua hari setelahnya, ia pun pergi tinggalkan Indonesia. Wajar belaka kalau orang lalu mengaitkan kasus itu dengan kepergiannya.

Belum cukup sebulan, kabar kedatangannya pun menggema. Rizieq digadang kembali ke Indonesia usai menempuh ujian doktoralnya di Malaysia. Dari tanggal 11-15 Mei 2017, ia berada di Negeri Jiran. Kepolisian pun sudah bersiap-siap lagi. Namun nahas, harapan itu pupus. Alih-alih sejenak mampir, Rizieq memilih untuk kembali ke tanah leluhurnya saja. Umrah lagi?

Karena mangkir dan tidak pulang-pulang itulah lalu Polda Metro Jaya umumkan Rizieq Shihab sebagai tersangka di kasus “chat mesum” pada 29 Mei 2017. Walau banyak pendukungnya yang menyesalkan, tetapi pentersangkaan itu punya dasar sendiri. Kata polisi, meski pihaknya belum pernah memeriksa Rizieq, bukti pelanggarannya atas pasal tentang pornografi di media sosial sudah memadai. Itu bisa jadi alasan. Hukumnya begitu.

Adapun bukti-bukti jelasnya akan disampaikan penuh dalam persidangan. Masalahnya adalah Rizieq tak pulang-pulang. Sidang jadi tak bisa dilakukan. Bukti-bukti pun, karena tak pulang-pulang itu, terhambat untuk publik ketahui secara jelas.

Pemberi Harapan Palsu

Kala FPI akan rayakan Hari Jadi pada 15 Agustus 2017, polisi kembali bersiap-siap. Sebab, sebagai pentolan FPI, kemungkinan besar Rizieq pulang untuk menghadiri. Para pengikutnya sendiri menggadang hal yang sama, setidaknya Imam Besar itu datang beri sambutan, motivasi, atau apalah demi perjuangan.

Sial, harapan itu juga tak kesampaian. Hanya rekaman sambutannya saja yang bisa orang dengar. Suara itu menggelegar nyaring meski tanpa wujud sang penyampai. Nyaris seperti hantu.

Usai musim haji 1438 hijriah pada 22 Agustus 2017, Rizieq toh tetap tak pulang-pulang juga. Bukan karena hendak memperpanjang masa haji—tentu saja, melainkan beralasan bahwa suasana di negeri ini belum kondusif. Ia enggan bikin gaduh lagi saat tiba di Indonesia katanya, selain beralasan bahwa masih ada yang harus dirinya kerjakan di sana.

Lalu, pada 2 Desember 2017, ketidakhadiran Rizieq Shihab kembali muncul dalam Reuni Alumni 212 di Monumen Nasional, Jakarta. Padahal, sebagai bagian inti dari kelompok anti-Ahok ini, sudah semestinya Rizieq ada, setidaknya memberi sambutan. Apa daya, kembali tangan tak sampai. Hanya rekaman suaranya melulu yang terdengar berapi-api.

Dan yang terbaru, ke-tak-pulang-pulang-an Rizieq kembali nyata pada 21 Februari 2018. Panitia penyambutan sudah terbentuk. Massa pendukung pun sudah berkumpul-ria akan menyambut bersama. Apa yang didapat? Seperti yang sudah-sudah, hanya suara saja yang bisa terdengar, yang lagi-lagi tanpa sosok sang penyampai.

Ya, terhitung sudah 5 (lima) kali kabar kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia. Tak satu pun ada yang terealisasi. Tiap rencana melulu nihil. Batal, batal, batal, batal, dan batal. Begitu terus. Tidak ada selesai-selesainya.

Maka, ketika Majalah Tempo mempublikasikan karikatur Edisi 26 Februari 2018, saya kira itu sudah jadi penggambaran yang benar. Tak ada yang bisa sangkal, laku Rizieq yang tak pulang-pulang memang “jahat”. Jangankan kepada pendukungnya, para penentang Rizieq Shihab saja merasa kecewa.

“Maaf, saya tidak jadi PULANG.”

“Yang kamu lakukan itu JAHAT.”

Bukan apa-apa. Rizieq warga Indonesia, punya kewajiban yang sama dengan warga lainnya. Ia, mau tak mau, harus pula ikut mempertanggungjawabkan segala tindakannya di depan hukum.

Ada banyak pelanggaran yang dirinya buat sebelum akhirnya tinggalkan tanah lahirnya. Itu bukan melulu soal pornografi saja, melainkan juga tentang penodaan Pancasila, pelecehan umat Kristen, ujaran kebencian benuansa SARA, tudingan logo “Palu-Arit” di pecahan rupiah, plesetan sampurasun jadi campur racun. Semua, tanpa kecuali, harus Rizieq Shihab tanggung akibatnya.

Meniru Ahok

Saya kira ada benarnya pernyataan salah satu pendiri Presidium Alumni 212 Faizal Assegaf. Dalam diskusi bertajuk Isu Kedatangan Rizieq dan Potensi Gaduh di Tahun Politik di Jakarta beberapa waktu lalu, ia meminta agar Rizieq mampu meniru cara Ahok dalam menghadapi kasus hukum.

Ada sejumlah sikap Ahok yang memang Rizieq pantas teladani. Dalam mencari keadilan hukum, misalnya, kita tahu, Ahok mampu berjiwa kesatria. Walau terbilang sendiri jika dibanding lawan-lawannya yang berjumlah 7 juta orang, sikapnya jelas: melawan dengan menghadapi.

Teladan lain yang layak ditiru dari sosok pelayan rakyat itu adalah ketabahan serta ketaatannya di depan hukum. Sungguh, tak pernah sekalipun Ahok mangkir dari pemanggilan. Bahkan sekadar telat datang pun tidak.

Bandingkan saja dengan sejumlah pejabat di negeri ini. Ketika dipanggil pihak berwenang untuk diperiksa, alasannya macam-macam. Ada yang tiba-tiba sakit, benjol segede bakpao, sibuk urusan kantor dan keluarga, sampai-sampai ada yang diancam akan dijemput paksa karena mangkir-mangkir melulu.

Ahok, terlepas salah-tidaknya, tak pernah bersikap begitu. Pelajaran dari sikapnya inilah yang paling utama: apa pun masalahnya, terlebih saat merasa diri tak bersalah, maka orang tak perlu takut untuk menghadapi. Kalau kata lirik lagu Dewa 19, hadapi itu dengan senyuman.

Kemudian, ketika Ahok ditetapkan bersalah, kalah dalam perlawanan, ia mampu menerima, legawa. Tak samalah dengan sikap Buni Yani dan Jonru. Ahok menerima kesalahannya dengan lapang dan menundukkan kepala kepada hakim. Sementara Buni Yani dan Jonru, alih-alih menyesal, mereka tampak mengepalkan tangan ke atas sembari teriak “takbir”, tanda tak mau menerima.

Yang terakhir, dan ini jauh lebih penting, kepasrahan diri Ahok pada Tuhan. Ketika semua ikhtiar sudah diupayakan, sikap pasrah adalah jalan satu-satunya. Itu terekam jelas dalam suratnya untuk Ahokers di bawah ini, sekaligus jadi penutup tulisan.

Rumah Tahanan Depok, Minggu 21 Mei 2017

Kepada relawan dan pendukung Ahok yang saya cintai, semua yang telah menjalani proses demokrasi di mana pun berada.

Saya telah banyak berpikir tentang kejadian yang saya alami. Saya mau berterima kasih kepada saudara-saudara yang terus mendukung saya dalam doa, kiriman bunga, makanan, kartu ucapan, surat, buku-buku, bahkan dengan berkumpul dengan menyalakan lilin.

Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima kenyataan seperti ini. Apalagi saya.

Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara, alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang menganggu lalu lintas.

Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan berunjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.

Terima kasih telah melakukan unjuk rasa yang taat aturan dan menyalakan lilin perjuangan, konstitusi ditegakkan di NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

Mari kita tunjukkan bahwa Tuhan tetap berdaulat dan memegang kendali sejarah setiap bangsa. Kita tunjukkan bahwa kita orang yang beriman kepada Tuhan Yang Masa Esa pasti mengasihi sesama manusia, pasti menegakkan kebenaran dan keadilan bagi sesama manusia.

Gusti ora sare..

Put your hope in the Lord now and always (Mazmur 131 ayat 3).

Kalau dalam iman saya, saya katakan: The Lord will work out his plans for my life (Mazmur 138 ayat 8a).

Ahok BTP

Artikel Terkait