1 tahun lalu · 1316 view · 4 menit baca · Budaya 75216.jpg
Afi Nihaya Faradisa saat mengisi talkshow "Saya Indonesia, Saya Pancasila" di UGM, Senin (29/5/2017)

Banalnya Afi Lovers

Afi Lovers (para pencinta, pembela, pemuja Afi Nihaya Faradisa) tampak banal pake sangat dalam membendung arus kritik yang tertuju pada sang idola. Fenomena pesakitan ini menggelinding hebat pasca viralnya tulisan saya berjudul Maaf Afi dan Kesombongan Intelektual.

Sebelum berlanjut, pertama harus saya terangkan, Afi Lovers yang dimaksud adalah mereka yang membela Afi secara membabi-buta dari kritikan yang melayang ke sang pujaan hati. Mereka menilai saya iri-lah, dengki-lah, tak boleh menyerang Afi karena masih “kecil”-lah, semua pembelaan Afi Lovers model itu yang ingin saya tembak kali ini.

***

Segera setelah saya memberi secerca kritik atas penulis muda nan bertalenta bernama Afi, dalam konteks permintaan maafnya, ada banyak pihak yang mengapresiasi. Tentu saya bahagia. Tapi di sisi lain, cercaan, makian, hinaan yang tak sedikit deras menderu untuk saya dari Afi Lovers, mengubah kebahagiaan itu jadi suram.

Ya, suram! Suram karena terpaksa saya harus geram! Saya geram karena respons balik dari Afi Lovers sangat dangkal alias banal. Banalitas ini, jika terus dipelihara bak tetumbuhan produktif para petani, maka yang dipanen bukanlah kemakmuran, melainkan berujung pada satu kehancuran paling dahsyat.

Orang harus sadar, kondisi masyarakat tergantung kepada kondisi tiap-tiap individu di dalamnya. Jangankan tiap individu dalam suatu komunitas masyarakat punya kebanalan dalam berpikir (cermin dari tindakan), satu individu saja di mana ia berposisi sebagai public figure, bisa dipastikan, masyarakat yang lahir kelak adalah masyarakat banal.

Alih-alih memberi sumbangsih bagi kemajuan suatu bangsa, masyarakat banal hanya akan jadi penyakit yang tidak akan diduga-duga daya hancurnya bagi perkembangan kedewasaan masyarakat itu sendiri. Seperti ormas radikal FPI, HTI dan segala macamnya, yang banal ini akan menjelma menjadi pembunuh berdarah dingin. Obatnya? Mungkin tak ada pilihan lain kecuali dengan mengamputasinya.

***

“Yang bikin artikel ini ngiri (iri hati) sama Afi,” begitu satu contoh respons balik dari Afi Lovers.

Harus saya akui, saya memang iri sama Afi. Iri karena Afi mampu mempengaruhi publik lewat tulisannya. Sebagai yang juga gemar menulis, yang mau tulisannya memberi inspirasi ke publik luas, maka tak ada alasan untuk saya tidak beriri hati—iri yang membangkitkan.

Tapi, yang merespons itu harus mengakui pula, masalah utama saya bukan di sana. Melalui Maaf Afi dan Kesombongan Intelektual, tujuan saya hanya dua: mempengaruhi publik sekaligus memberi kritik atas maaf dari Afi.

Khusus untuk yang kedua, kritik atas maaf Afi, saya hanya hendak menunjukkan bahwa maaf Afi bukanlah maaf dalam arti pembebasan diri—ajaran yang saya dapat dari Hannah Arendt. Alih-alih mengakui kesalahan, yang tampak darinya justru penyombongan diri. “Saya tak plagiat lho,” kira-kira begitu yang hendak Afi sampaikan ke publik pembacanya.

Sampai di sini, tak perlu kiranya saya mengurai lebih jauh lagi soal penyombongan diri yang saya maksud di tulisan sebelumnya di laman Qureta ini. Yang terpenting dari itu adalah mengurai beberapa banalitas Afi Lovers yang sudah membuat kebahagiaan saya jadi suram.

“Anda dengan begitu mudahnya mengspekulasi kesalahan dari perkataan orang lain, sementara lontaran Anda sendiri sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Anda mengklaim kelemahan orang lain tanpa sadar cenderung menjatuhkan potensi anak tersebut.”

What? Menjatuhkan potensi? Kalau Afi down, atau siapa pun, hanya karena mendapat kritik di ruang publik, bukankah yang bersangkutan itu sendiri yang membuat dirinya terjatuh?

Apa bedanya sikap Afi Lovers ini dengan sang pujaan hatinya sendiri? Dalam maafnya, Afi memang mengaku salah. Tapi entah kenapa, secara tak diduga-duga, Afi justru menunjuk semua orang sebagai pihak yang pernah melakukan aksi plagiarisme. Alasan itulah yang jadi dasar mengapa Afi seolah membenarkan tindakan busuknya sendiri.

Tak habis pikir. Hanya karena mengklaim semua orang berlaku demikian, lalu itu jadi dalih pemakluman tindakan. Lagipula, kritik yang saya layangkan untuk Afi, diakui atau tidak, jika Afi mampu menyikapnya secara bijak, maka itu bisa Afi jadikan sebagai pendulang potensi-potensi dirinya untuk melakukan yang terbaik di kemudian hari.

Jadi, jangan pandang ini sebagai pembunuhan potensi untuk Afi. Jangan pula pandang ini sebagai pembunuhan karakter sebagaimana sikap Hidayat Nur Wahid atas KPK terkait kasus korupsi Amien Rais itu.

Sekarang saya tanya, dalam konteks kebangsaan Indonesia misalnya, mengkritik kebobrokan negeri ini, mengkritik realitas kebangsaan kita, bukankah itu adalah bagian dari nasionalisme? Ibarat mengkritik sang kekasih, kita mengkritiknya karena ingin melihat dirinya bisa tumbuh secara berkualitas.

Lebih lanjut, saya sempat juga geleng-geleng kepala karena Afi Lovers menilai bahwa saya tak boleh mengkritik Afi lantaran dia masih “anak kecil”.

“Bukan kesombongan! Tidak usah terlalu keras menghukum anak seusia Afi. Ia sedang belajar. Apa sih prestasi Anda di usia 19?”

Sekarang saya bertanya lagi, apa iya hanya karena Afi “anak kecil”, apalagi tolok-ukurnya hanya dari usia, lalu Afi tak boleh “dihukum”? Ajaran bijak darimana itu?

Sungguh, saya tidak pernah secuil pun memandang Afi sebagai “anak kecil”. Di mata saya, Afi adalah “orang besar”. Saya mengkritik Afi dalam tarafnya sebagai penulis hebat. Saya mengkritiknya karena ia public figure yang sikap dan tindakannya pasti banyak diikuti orang.

Tentu kita tak mau bukan jika seorang inspirator publik justru memberi contoh yang buruk? Mau seperti apa bangsa ini kelak jika sikap dan tindakan saja harus mengikut pada yang demikian? Bayangkanlah, sebab saya tak bisa membayangkannya lagi.

Terkait popularitas yang Afi Lovers juga tudingkan bahwa tujuan itu yang hendak saya capai dengan mengkritik sosok yang kini viral dan tenar karena cacatan Facebook-nya, saya hanya ingin tegaskan, pinjam kata dari George Orwell, saya menulis karena begitu banyak dusta yang ingin saya ungkap.

Menambahnya karya, terdulangnya popularitas, saya anggap itu hanya konsekuensi logis belaka. Itu akibat lanjutannya, bukan tujuan yang ingin saya raih. Sekali lagi, saya menulis karena ingin mengungkap dusta. Sebab, kata yang bijak, membiarkan kesalahan adalah juga kesalahan.

Sebagai ujung dari tulisan ini, satu hal yang juga utama untuk saya suarakan adalah mari bersama merefleksikan hidup yang sudah-sudah. Sebab, kata Socrates, hidup yang tak pernah terperiksa secara filosofis adalah hidup yang tak layak untuk dijalani.

Artinya, merefleksikan hidup berarti menjadikannya pantas untuk dijalani. Karena kalau hidup sekadar hidup, kerja sekadar kerja, kutip Hamka, apa bedanya kita dengan babi dan kera di hutan sana?