Dikabarkan bahwa Bambang Widjojanto, mantan wakil pimpinan KPK akan menjadi dewan pakar dan juru bicara tim pemenangan dari Anies Baswedan- Sandiaga Uno, dalam perhelatan pilgub DKI 2017 mendatang.

Termasuk mantan Komisaris KPK, Adnan Pandu Praja menjadi tim pakar dan juru bicara, pemenangan Anies-Uno, juga beberapa nama lain dikabarkan ikut dalam pemenangan Anies-Uno 2017 mendatang.

Benar bahwa, politik memang seni mendapatkan kekuasaan. Tidak ada sesuatu yang mustahil dalam politik. Begitu juga, Bambang Widjajanto di kenal banyak kalangan publik selama memimpin Lembaga Antirasuah itu.

Nama Abraham Samad (mantan ketua KPK) dan Bambang Widjajanto (mantan wakil ketua KPK), itu merupakan nama hangat diperbincangkan banyak kalangan, pasca ditangkap Bareskrim beberapa waktu lalu.

Banyak publik seluruh Indonesia, mengapreasi kinerja KPK dibawah kepemimpinan Abraham Samad dan Bambang Widjajanto ini, membongkar skandal korupsi yang dilakukan penguasa di republik ini.

Pasca ditangkap Bareskrim, Abraham Samad dan Bambang Widjajanto, publik merasa geram terhadap Kepolisian karena dianggap "adanya kriminalisasi terhadap KPK" (kata kriminalisasi pinjam kata Jokowi, waktu itu). Dan banyak publik dan aliansi tertentu membuat petisi dengan kalimat #SAVEKPK. Publik marah, karena lembaga KPK dianggap ada yang memperlemahnya, pasca Abraham Samad dan Bambang Widjajanto terseret dalam skandal tersebut.

Kita tau bahwa, Abraham Samad diketahui memalsukan dokumen kependudukan yang dilaporkan Charil Chaidar Said, Ketua LSM Lembaga Peduli KPK-Polri, ke Bareskrim Polri awal Januari 2015. Dan kasus tersebut dilimpahkan ke Polda dan menyeret Abraham Samad dan Feriyani Lim sebagai tersangka, karena Abraham Samad waktu itu dituduh membantu Feriyani Lim memalsukan dokumen kependudukan dan mengurus perpanjangan paspor di Makasar tahun 2007.

Sedangkan Bambang Widjajanto ditangkap pihak kepolisian, karena menuduh mengarah saksi agar memberi keterangan palsu ketika menjadi pengacara dalam sengketa pemilihan Kepala Daerah di Makamah Konstitusi tahun 2010.

Dan pada waktu itu, kita tau bahwa hubungan Kapolri-KPK kurang akur, pasca penetapan tersangka oleh KPK calon Kapolri, Budi Gunawan dalam kasus suap dan gratifikasi.

Inilah kalau kita lihat, adanya konspirasi yang tidak bagus dipertontonkan dua Lembaga Hukum ini kepada publik. Dan banyak kalangan publik mendukung KPK dan "mencaci" pihak Kepolisian (baca: SAVE KPK)

Ketika Bambang Widjajanto Berpolitik

Setiap orang punya hak politik. Hak politik tidak saja sekadar membicarakan persoalan politik tetapi juga terlibat dalam aktivitas politik. Dalam tingkatan diskursus, tema politik selalu menarik.

Ketertarikan politik ada karena politik merupakan ekspresi natural manusia (nature). Politik juga keaslian sebab dipegaruhi oleh pangalaman sosialnya. Boleh jadi, politik adalah "belalang" yang memilik watak yang berbeda sesuai dengan karakter ladangnya.

Begitu juga Bambang Widjajanto, sehingga nimbrung dalam politik praktis. Meskipun, kita menilai bahwa, "Bambang seharusnya jangan cepat terseret oleh arus politik Ibu Kota". "Apalagi beliau seorang akademisi hukum yang berkibar". Itulah politik, memberi ruang kepada siapa saja.

Dan tentu, publik dalam melihat ini, jangan pernah kaitkan KPK, pasca Abraham Samad dan Bambang Widjajanto memimpin KPK. Karena, Bambang Widjajanto punya alasan tertentu menjadi juru bicara Anis- Sandiaga Uno.

Berdasarkan antesenden-antesenden itu, maka makhluk politik, zoon politikon, mendefenisikan politik secara berbeda-beda. Machiavelli hidup di zaman renaissace yang penuh konflik dan kecurigaan. Hobbes dilahirkan secara prematur saat armada laut Spanyol siap menggempur London yang tidak jauh dari kota kelahirnnya; hidup dalam ketakutan peristiwa berbarah. Schmit hidup di masa akhir Republik Weimar dan era totalitarianisme NAZI Jerman. Habermars, Laclau, Mouffe, Arendt dan Rawls menyaksikan puing-puing peperangan (Perang Dunia II, Perang Vietnam) saat fajar demokrasi telah menyingsing dan jargon globalisasi telah kian akrab.

Beberapa contoh kurikulum intelektual politik di atas menyakinan kita akan akan perbedaan defenisi politik yang pernah mereka deskripsikan berdasarkan keaslian mereka masing-masing.

Kita yang hidup di abad XXI dan anak emas teknologi atau lebih khusus lagi fecebookers dan bloggers mampu mendefensikan politik dan menceburkan diri dalam realitas politik an sich.

Bukankah politik bergentayangan dimana-mana? Jika politik itu seni, maka kita pun mampu memainkannya. Defenisi politik pun melahirkan atribut moralitas. Politik yang berarti positif (baik) dan negatif (buruk). Kembali lagi, penalaran melingkar, semua itu tergantung pada subjek yang bercerita tentang politik yakni subjek yang ingin menimba kata Hannah Arendt, "kekuatan emansipatoris dari bercerita".