Arjuna dengan berat hati bertanya kepada Shri Krisna sebagai perwujudan Tuhan. Tatkala dialognya memasuki wilayah-wilayah persembahan, dengan tersenyum indah Shri Krisna menjawab: “asal seseorang melakukannya secara tulus dan halus, maka persembahan air dan bunga saja sudah lebih dari cukup.”

Siapa yang tidak mengetahui pulau bali, pulau yang sangat indah kaya akan budaya yang terletak di kepulauan nusa tenggara?

Di awal kemerdekaan Indonesia, pulau ini termasuk dalam Provinsi Sunda Kecil yang beribu kota di Singaraja, dan kini terbagi menjadi 3 provinsi: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Bali adalah primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di seluruh dunia. Selain terkenal dengan keindahan alam, terutama pantainya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang unik dan menarik, yang mampu menghipnotis wisatawan yang datang, dan memberikan virus untuk datang lagi ke pulau ini.

Provinsi yang berpunduduk 4 juta lebih yang mendiami 8 kabupaten dan 1 kota madya, dari yang mulai Kabupaten Jembrana yang paling barat dan yang paling timur Kabupaten Klungkung. 

Banyak julukan yang disematkan kepada pulau ini, seperti Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura. Namun penulis lebih menyukai sebutan Bali, Pulau Persembahan.

Bali, dalam bahasa Pali (bahasa teks asli agama Buddha), artinya persembahan”. Eksotisnya laut, uniknya karya seni, hijaunya alam, meriahnya tarian yang ada di Pulau Bali. 

Selain itu, Pura menjadi tempat ibadah penganut agama Hindu yang banyak dijumpai di Bali. Tempat ibadah yang diyakini sebagai tempat tinggal para dewa ini bukan hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi wisatawan juga diizinkan untuk memasukinya agar lebih mengetahui kegiatan keagamaan di dalamnya dan sekaligus menikmati keindahan arsitektur Pura itu sendiri. 

Berbicara tentang kegiatan ibadah umat Hindu, ada salah satu pelengkap ibadah yang sering dijumpai di setiap sudut Pura, yaitu Canang Sari. Canang sari adalah suatu sesajen atau persembahan yang digunakan sebagai pelengkap persembahyangan sehari-hari umat Hindu Bali kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Canang Sari ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur atas kedamaian yang telah diberikan kepada dunia dan merupakan persembahan rumah tangga yang paling sederhana. 

Bentuk dari Canang sari ini berupa alas yang terbuat dari janur berbentuk segi empat yang di dalamnya terdapat beberapa sesajen atau persembahan. Canang sari tidak selalu diletakkan di pura, masyarakat Bali meletakkan sesajen ini di rumah-rumah mereka di persimpangan jalan, di depan toko, di pohon-pohon besar, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, setiap jengkal tanah di Bali terberkati.

Inti dari kepercayaan Orang Bali adalah berpikir dan berperilaku untuk keseimbangan alam dan kehidupan. Keseimbangan dalam kehidupan merupakan sebuah konsep yang sangat mendasar dalam kehidupan di Bali atau disebut Tri Hita Karana. 

Hindu Bali dengan Hindu di India sangatlah berbeda. Banyak yang berpendapat Hindu Bali dan Hindu India adalah agama yang berbeda, lantas mengapa kedua agama berbeda ini sama-sama menggunakan nama Hindu? 

Jawabannya adalah karena dahulu pemerintah Indonesia seakan-akan mengenal istilah agama resmi dan tidak resmi, agama yang diakui pemerintah dan yang tidak diakui. Agama yang diakui pemerintah memiliki hak lebih, difasilitasi oleh kementerian agama, hak-hak kewarganegaraannya dijamin, tidak didiskriminasi oleh mayoritas. 

Awalnya nama agama yang dipilih adalah “Agama Tirta”. Namun karena adanya aturan tidak tertulis tersebut, maka muncul polemik dalam pengajuan Agama Tirta. 

Agama di Bali pada dasarnya tidak memiliki kitab suci yang baku karena sebagian besar tradisi dilakukan secara turun-temurun atau berdasarkan lontar (tulisan pendeta Hindu zaman dulu yang ditulis di daun siwalan). 

Sayangnya, jumlah lontar itu ada banyak, belum dikompilasi. Tidak semua masyarakat Bali mengakuinya. Beberapa lontar bahkan ada yang kontradiktif. 

Agama di Bali juga pada dasarnya adalah politeis dengan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) sebagai Dewa Utama, serta memadukan ajaran Buddha dalam filsafat dan upacaranya. Agar bisa diakui sebagai agama, maka diputuskanlah bahwa nama agama di Bali adalah agama Hindu dengan Weda sebagai kitab sucinya.

Dalam sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Bali selalu melebihi pertumbuhan nasional. Tercatat pada tahun 2018, tumbuh 6,35 persen, meningkat dibanding pertumbuhan tahun 2017 yang tercatat sebesar 5,57 persen.

Pertumbuhan ekonomi Bali selalu di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Subsektor perekonomian Bali selama ini masih didominasi oleh sektor pariwisata sebesar 40%. 

Di sisi lain, potensi sektor industri kecil dan menengah serta sektor pertanian dalam arti luas di Bali belum optimal mengimbangi sektor pariwisata. Subsektor pariwisata adalah sektor alternatif yang cukup menjanjikan di dalam ketidakpastian global yang terjadi saat ini, mengingat negara yang mengandalkan sumber daya energi banyak yang mencatat pertumbuhan yang negatif seperti pada Negara Venezuela yang tengah terjadi krisis ekonomi sampai tingkat inflasinya tinggi. 

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia membuat gebrakan pariwisata dengan membuat 10 destinasi baru yang diberi nama “10 Bali Baru”, yaitu destinasi-destinasi yang diinovasi yang di antaranya di Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Pulau Seribu, Candi Borobudur, Mandalika, Gunung Bromo, Wakatobi, Labuan Bajo, hingga Morotai. Semuanya menawarkan keindahan. 

Penggunaan istilah 10 Bali Baru itu lebih untuk memberi tekanan agar performa masing-masing destinasi wisata itu seperti layaknya Bali, yang setahun mampu mendatangkan 4 juta wisatawan mancanegara dan dari tahun ke tahun naik signifikan

Terakhir, ada peneliti Belanda yang pernah bertutur tentang Bali tahun 1920-an yang pernah dikunjunginya. Masih menurut peneliti ini, orang Bali ketika itu tidak mengenal istilah kesenian. Kesenian hanyalah sebuah judul yang datang dari luar. 

Lantas, kalau bukan kesenian, apa yang dilakukan orang-orang Bali ketika itu yang suka menari, menyanyi, mengukir, melukis, dan sejenisnya?

Dengan terkagum-kagum peneliti ini mendengar jawaban orang Bali ketika itu: tidak semua kami mengerti, namun satu hal jelas, semuanya dilakukan sebagai rangkaian persembahan.

Pulau yang indah kaya akan budaya, cantik gadisnya, pulau toleransi. Saya selalu percaya bali tidak dibuat dalam sehari.