Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah link berita yang isinya menyebut Denpasar, Ibu Kota Propinsi Bali merupakan kota paling Islami --bersama Jogjakarta dan Bandung. Saya langsung men-share postingan tersebut dengan menambahkan kalimat: Denpasar bukan kota paling Islami tapi kota paling Agamis.

Setelah saya baca isi beritanya, ada tiga indikator yang digunakan oleh peneliti yang berasal dari Ma'arif Institute ini sebagai kriteria untuk sebuah kota dikatakatan sebagai kota paling Islami yaitu Aman, Sejahtera dan Bahagia. Seluruh kota yang dijadikan objek penelitian adalah kota yang menjadi ibukota propinsi. Mungkin para penelitinya mengganggap bahwa ibukota propinsi bisa menjadi gambaran umum bagi seluruh wilayah di propinsi tersebut.

Jika melihat indikator yang digunakan (Aman, Sejahtera dan Bahagia) itu merupakan indikator universal yang juga diinginkan oleh pemeluk agama manapun.

Lalu saya bertanya dalam hati, Kenapa harus menggunakan Judul 'Islami' untuk sebuah penelitian yang bersifat univesal. Apakah karena yang melakukan penelitian adalah orang islam?

Denpasar adalah ibukota propinsi Bali. Apa yang terlihat di denpasar bisa menggambarkan kehidupan di Bali secara umum. Denpasar yang Mayoritas Hindu diberi 'penghargaan' sebagi kota Islami. Lalu bagaimana seandainya orang yang beragama kristen, hindu, budha atau yahudi melakukan penelitian yang sama di kota yang mayoritas Islam seperti di Aceh misalnya.

Dan karena kehidupan di Aceh sesuai dengan ajaran agama si peneliti, lalu mereka memberi Aceh 'penghargaan' sebagai kota paling Nasrani, Paling Hindu, Paling Budhis atau paling Yahudi. Apakah rakyat aceh akan terima? Tentu hal-hal seperti ini butuh kepakaan yang mendalam dari orang-orang yang melakukan penelitian. Jangan sampai hanya karena judul dari penelitian, membuat gaduh daerah tertentu.

Bagi saya yang seorang muslim, sah-sah saja jika penelitian itu diberi judul Islami. Bahkan itu sangat baik karena agama Islam yang saya anut adalah agama yang menginginkan semua kriteria itu. Namun karena objek yang dijadikan bahan penelitan bukan hanya umat islam maka dibutuhkan kepekaan yang sangat mendalam agar tidak terjadi hal yang tidak baik ditengah masyarakat. Apalagi Bali selama ini dikenal sebagai daerah yang sangat toleran antar umat beragama.

Untungnya, Masyarakat Bali adalah masyarakat yang tidak tertarik dengan isu-isu agama. Terutama isu-isu yang bisa memecah belah kerukunan antar umat beragama. Sejak tinggal di Bali pertengahan 2012 yang lalu, saya tidak pernah sekalipun melihat orang di Bali ribut karena masalah agama.

Memang ada sebagian kecil yang mengungkapkan ketidaksukaannya atas hasil penelitian tersebut yang saya lihat di media sosial. Terutama karena label yang di gunakan adalah agama Islam yang bukan agama mayoritas di Bali. Mereka yang kecewa mempertanyakan apakah ada tujuan terselubung dibalik penelitian itu. Kenapa harus nama agama yang digunakan untuk penelitian yang bersifat umum. Kanapa tidak memberi judul yang bersifat universal seperti Kota paling Sejahtera, paling aman atau paling toleran dan sebagainya.

Tetapi yang merespon dengan dengan dewasa juga ada, mereka menganggap bahwa indikator yang digunakan adalah indikator yang baik yang memang diinginkan semua agama. Apalagi lembaga yang melakukan penelitian adalah lembaga dari seorang tokoh Pluralisme. Namun lebih banyak masyarakat yang tidak peduli atau tidak tahu dengan hasil penelitian tersebut. Sekali lagi karena masyarakat tidak suka dengan isu-isu yang bisa memecah belah kehidupan umat beragama.

Melalui tulisan pendek ini, saya ingin bercerita tentang banyak hal yang saya lihat dan rasakan mengenai Bali.

Walaupun masyarakatnya tidak suka membahas isu agama, Bali bukan daerah yang tidak beragama. Justru Bali bagi saya adalah Propinsi paling Agamis di indonesia. Jika anda pernah berkunjung ke Bali menggunakan jalur darat dan masuk melalui penyebrangan Ketapang-Gilimanuk, anda akan melihat sebuah Pura yang sangat besar, lalu setelah itu anda akan melihat Vihara, Mesjid, Gereja dan tempat-tempat ibadah yang lain. Di depan rumah masyarakat Bali, selalu ada bangunan suci yang digunakan oleh umat Hindu untuk sembahyang setiap hari. Itu menunjukkan bahwa Bali memang sangat Agamis.

Umat Islam di bali adalah umat islam terbaik menurut saya. Mereka adalah umat islam yang tidak suka mengkafirkan orang lain. Umat islam yang tidak suka menyesatkan saudaranya sesama Muslim. Umat islam yang dewasa. Ummat islam yang hidup tenang, aman, tentram dan bahagia.

Umat islam yang mengamalkan ajaran Islam tidak seperti menjalankan sebuah mitos. Di daerah asal saya (Madura), saya jarang melihat melihat orang memakai Burqa (Cadar). Tapi di Bali saya beberapa kali melihatnya bahkan di tempat-tempat ramai seperti pasar dan terminal. Itu menunjukkan bahwa umat islam di bali adalah umat islam yang bisa leluasa mengamalkan agama sesuai cara yang diinginkannya.

Lalu, pernahkah anda mendengar Sebuah masjid yang selalu ramai setiap sholat shubuh di daerah Monang-Maning denpasar? Ya masjid tersebut sangat tersohor karena konon, setiap shubuh selalu ramai di penuhi oleh jamaah. Saya memang belum pernah berkunjung dan sholat di masjid tersebut tapi saya beberapa kali membacanya di media online dan media sosial yang membahas ramainya masjid itu saat shalat subuh.

Pemandangan seperti Itu pun terjadi di Bali. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu di daerah yang pernah saya tinggali yang mayoritas Muslim. Sedangkan di Masjid dekat tempat saya tinggal, Masjid Agung Tabanan, sholat subuh juga cukup ramai. Walaupun tidak penuh tapi hampir sama dengan jumlah jamaah saat sholat Magrib.

Indikator Aman yang digunakan oleh Ma'arif Institute terhadap Denpasar dan Bali secara keseluruhan memang benar adanya. Saya jarang sekali mendengar berita-berita kejahatan di Bali. Jikapun ada, sebagian besar pelakukan bukan orang Bali. Silahkan telusuri kasus-kasus besar yang pernah terjadi di Bali, lalu sebut pelakunya orang mana. Kasus Pembunuhan seorang anak bernama Engeline yang dilakukan oleh ibu angkatnya, kasus bom bali 1 dan bom bali 2. Semua dilakukan oleh orang luar bali.

Saya pernah membaca berita penemuan mayat perempuan yang disimpan dalam kardus di pingir jalan di daerah Bedugul. Setelah diungkap, pelakukanya orang luar Bali. Pernah juga terjadi perampokan disertai pembunuhan yang dilakukan seorang terhadap seseorang. Lalu mayat korban dikubur ditanah kosong di samping tempat kerja saya. Dan setelah diungkap oleh kepolisian, pelakunya juga orang luar bali.

Memang banyak pendatang yang kadang-kadang kurang ajar di Bali. Padahal masyarakat bali sudah menerima mereka dengan ramah. Seperti kasus terakhir yang ramai dibahas di media. Yaitu tentang penembakan yang dilakukan oleh jajaran kepolisian di Bali terhadap seorang warga asal prancis yang dikebal sebagai pegulat. Dia ditembak mati oleh petugas setelah sebelumnya membacok seorang petugas hingga tewas. Konon, bule prancis ini dikenal sebagai orang yang suka bikin ribut dan suka mengusik ketenangan warga disekitar tempat tinggalnya. Dia juga sering makan di restoran tapi tidak bayar.

Lalu, Apakah pernah mendengar kasus-kasus pemerkosaan, pembunuhan, begal dan lain sebagainya seperti yang sering terjadi di daerah lain terjadi di Bali? Jawabannya jarang sekali.

Untuk urusan toleransi, Bali adalah barometernya. Awal maret lalu saat perayaan hari raya Nyepi, kebetulan bertepatan dengan gerhana matahari total. Namun mesyarakat Bali dan pacalang (Polisi adat) dengan senang hati mempersilahkan ummat islam untuk melaksanakan sholat gerhana matahari di Masjid. Padahal sholat gerhana matahari adalah sholat sunnah dan tidak dosa jika tidak dikerjakan.

Nyepi adalah hari raya yang sangat sakral bagi pemeluk agama Hindu di Bali. Semua orang tidak boleh keluar rumah. Lampu harus dimatikan. Jalan-jalan sepi. Semua kegiatan pelayanan dan perekonomian tutup kecuali rumah sakit. Barangkali hanya Nyepi, perayaan atau tradisi keagamaan yang sampai menutup bandara dan pelabuhan.

Dan itu tidak pernah ada di belahan dunia lain selain bali. Hal itu menunjukkan betapa sakralnya tradisi nyepi bagi umat hindu di Bali. Namun karena rasa toleransi yang amat kuat, mereka umat Hindu tetap mempersilahkan ummat islam menjalankan ibadah sholat gerhana Matahari bagi umat muslim.

Jika bulan puasa, umat islam di Bali yang memiliki usaha warung nasi masih bisa membuka warungnya dengan tenang tanpa takut di sweeping oleh ormas tertentu. Karena palanggannya tidak hanya umat islam tapi juga umat agama lain yang tidak punya kewajiban untuk berpuasa.

Hal ini tidak mengganggu aktivitas perekonomian para pemilik warung. Saat lebaran tiba, pemilik warung makan tidak kesulitan untuk membeli perlengkapan lebaran. Dan mereka bisa pulang kampung dengan tenang dengan membawa banyak oleh-oleh ke kampung halaman.

Setiap bulan puasa, komplek pedagang kaki lima di sebelah masjid agung tabanan selalu ramai karena selalu mengadakan bazar ramadhan. Para pedagang menjual aneka makanan berbuka puasa. Tapi pedagang dan pembelinya bukan hanya ummat islam, umat non-muslim juga banyak. Namun jarang sekali saya melihat orang non-muslim yang makan langsung ditempat jajanan yang mereka beli. Mereka membawanya pulang dan dimakan dirumah karena menghormati umat islam yang sedang puasa.

Pernah saya melihat seorang bapak tua membeli es dawet disalah satu pedagang di bazar tersebut. Beliau seperti sangat kehausan dan ingin segera meminumnya. Si perjual yang muslim menyuruhnya agar langsung diminum saja. Tapi beliau bilang "Nanti saya minum dirumah, ndak enak saya sama orang yang puasa" katanya.

Di tempat saya bekerja, banyak teman-teman saya orang bali beragama hindu yang saya anggap saudara sendiri. Mereka adalah orang-orang baik. Bahkan sangat baik. Saat bekerja di jawa dulu saya sangat sulit akrab dengan teman kerja karena mereka biasanya ngobrol dengan menggunakan bahasa jawa. Sedangkan saya tidak bisa bahasa jawa. Tapi di Bali, saya mudah sekali akrab dengan teman kerja. Selain karena saat ngobrol menggunakan bahasa indonesia mereka juga rata-rata sangat ramah. Dan welcome kepada pendatang.

Di sebuah media online yang saya baca, Menteri Rizal Ramli pernah mengungkapkan keheranannya karena di Indonesia banyak sekali tempat-tempat dengan pemandangan yang bagus dan mempesona tapi yang terkenal hanya Bali.

Bagi saya hal itu tidak mengherankan, siapapun yang datang ke bali pasti akan senang karena keramahan masyarakatnya. Memang benar banyak daerah lain yang memiliki pesona alam seperti Bali. Bahkan ada yang lebih bagus dari bali. Tapi ada hal lain selain soal keindahan alam yang membuat orang tertarik untuk berkunjung ke Bali.

Banyak temen-teman saya yang Hindu menceritakan kekagumannya tentang sosok Gusdur yang mereka anggap sebagai panutan dan bapak Plurisme. Seorang teman malah pernah bercerita bahwa dia suka sekali saat nonton film Sang Pencerah, yaitu film yang menceritakan tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Mereka juga bilang bahwa mereka Tahu Ormas-ormas yang mengatasnamakan Islam tapi suka bikin rusuh sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Saat masih kerja shift dulu, saya sering dibangunkan saat adzan Shubuh oleh teman saya yang Hindu agar saya sholat. Hal-hal seperti itu kadang membuat saya terharu.

Setiap bulan puasa, tempat kerja saya selalu mengadakan buka bersama. Biasanya menjelang akhir bulan puasa. Menejemen mengundang Kiai atau ustadz untuk menjadi penceramah. Semua karyawan antusias mengikuti termasuk yang non-muslim.

Di akhir acara yang bersamaan dengan berkumandangnya adzan magrib, semua karyawan menyantap makanan yang disiapkan panitia. Semua berbaur menjadi satu menikmati makanan berbuka puasa tanpa melihat perbedaan agama. Yang non-muslim juga merasakan nikmatnya berbuka puasa.

Suatu ketika saya pernah menghadiri acara buka puasa yang diadakan oleh Polres Tabanan. Pada saat itu Kapolresnya adakah bapak Dekananto. Panitia acara tersebut adalah para anggota polres dan pegawai Mapolres. Tidak hanya yang muslim tapi juga yang non-muslim. Pak Kapolres berpesan kepada seluruh masyarakat yang hadir di acara tersebut agar ikut menjaga keamanan dan ketertiban serta kerukunan antar umat beragama di bali.

Beliau juga berpesan kepada para anggotanya agar ikut menjaga dan mengamankan tradisi mudik yang biasa dilakukan oleh masyarakat menjelang lebaran. Tak lupa beliau juga mempersilahkan umat islam yang ingin mudik menggunakan angkutan umum agar menitipkan kendaraanya di Polres Tabanan.

Para Bupati di propinsi bali juga rutin menyiapkan program mudik gratis kepada umat islam yang ada di daerahnya. Mereka juga rutin menyumbang hewan kurban saat hari raya kurban. Untuk masalah hewan kurban ini kadang saya tidak enak sendiri, karena di sosial media banyak yang bilang jika kepala daerah yang biasa nyumbang hewan kurban saat idul adha tidak melakukan hal yang sama saat perayaan-perayaan agama Hindu. Saya tidak tahu ini benar atau tidak, saya hanya membacanya melalui media sosial.

Para kiai dan ustadz di masjid-masjid juga selalu menghimbau kepada para jamaah agar selalu menghormati dan menghargai kurukunan antar umat beragama. Para jamaah selalu diimbau agar menjaga ketertiban terutama saat menjelang perayaan hari raya umat Hindu dan umat beragama lain.

Tak jarang juga, Kiai-kiai yang menjadi anggota FKUB (Forum Kerukunan Ummat Beragama) Bali, menyampaikan hasil pertemuannya dengan para anggota FKUB yang berasal dari umat bergama lain di masjid-majid saat khutbah Jum'at. Untuk urusan penyampaian kerukunan antar umat beragama, para kiai di bali adalah yang paling kekinian.

Salah satu tokoh Hindu yang paling saya kagumi adalah ketua FKUB Bali, Bapak Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet. Saya sering membaca berita tentang beliau di media online. Saya juga pernah melihat beliau di acara diskusi yang disiarkan oleh TV lokal bali. Salah satu pernyataanya yang membuat hati saya adem adalah tentang terorisme. Beliau selalu meyakinkan para peserta diskusi bahwa aksi terorisme tidak mewakili agama manapun.

Termasuk agama Islam yang selalu jadikan alasan oleh para teroris. Menunut beliau, semua umat beragama dirugikan oleh aksi teroris. Namun yang paling dirugikan adalah umat islam. Para Ulama moderat yang telah susah payah membangun citra islam dengan sangat baik seringkali dihancurkan seketika oleh aksi terorisme yang selalu mengatasnamakan Islam. Dan ketika mendengarkan pernyataan-pernyataannya saya sering dibuat merinding.

Kadang saya suka kesal sendiri saat melihat berita tentang pelarangan, perusakan dan pembakaran tempat-tempat ibadah yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok masyarakat terhadap pemeluk agama minoritas di daerah lain. Apalagi ada yang seolah dibiarkan oleh pemerintah setempat.

Sedangkan di Bali, saya tidak pernah menemukan hal seperti itu terjadi. Setidaknya sejak saya tinggal di Bali. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah terjadi. Namun saya perkirakan tidak pernah ada (Perusakan tempat ibadah) mengingat telorensi di bali sangat tinggi.

Rasanya banyak sekali hal yang ingin saya tulis tentang Bali. Namun tak cukup waktu untuk menulisnya dalam sebuah artikel. Saya berharap semoga tulisan singkat ini bisa menjelaskan kepada pembaca tentang kehidupan masyarakat di bali. Setidaknya seperti yang saya lihat dan saya rasakan.

Denpasar dan Bali pada umumnya memang memenuhi kriteria yang digunakan oleh Ma'arif Institute yaitu Aman, Sejahtera dan Bahagia. Namun masyarakat miskin juga masih ada di bali. Gangguan kamtibmas juga tidak hilang sama sekali.

Dan karena di Bali semua agama berjalan damai dan semua kriteria tersebut juga diinginkan oleh semua agama maka saya lebih suka menyebut Bali sebagai 'Daerah Paling Agamis'.

Di akhir tulisan ini saya ingin menulis beberapa kalimat untuk Bali: Saya muslim, saya pendatang, saya mencitai bali dan saya mencintai masyarakat bali. Terima kasih telah menerima saya dengan ramah.