Sebuah surat kabar bernama  De Locomotief bertanggal 19 Juni 1939 menurunkan judul berita dengan huruf besar di halaman 3 yaitu,  “Opening van de Zaadhoeve ‘Sri Wedono’ : De Landbouwvoorlichtingsdienst Opent nuttige Instelling in het Regentschap Keboemen” (Pembukaan Bale (penanaman) Benih "Sri Wedono": Layanan Informasi Pertanian membuka lembaga yang berguna di Kabupaten Keboemen). Sekalipun pada judul dituliskan “Sri Wedono” namun isi berita menyebutkan “Sri Madono”.

Dibentuknya Departemen Pertanian tidak bisa lepas dari program Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Rooseboom, yang terus mengkhawatirkan tentang penurunan produk-produk pertanian beserta implikasinya terhadap penurunan kesejahteraan penduduk.

Departemen Pertanian dipusatkan di kebun botani di Buitenzorg (Bogor) dengan direktur M. Treub yang diberi kesempatan untuk merealisasikan rencana jangka panjangnya dalam upaya meningkatkan hasil pertanian tanaman padi di sawah, peningkatan tanaman sekunder, serta penanaman untuk lahan kering

Pada tahun 1910, Dinas Pertanian diperluas dengan dikembangkannya Landbouw Voorlichtings Dienst. Setelah dikembangkan maka para pakar pertanian diijinkan berhubungan langsung dengan penduduk pribumi (Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Pertanian di Kulon Progo dalam Cengkeraman Kolonial (1900-1930), 2013:32-33)

Di manakah lokasi bale penanaman benih (zaadhoeve) yang diberitakan dalam harian tersebut? Desa Tersobo Kecamatan Prembun, sebuah kota kecamatan di ujung timur Kabupaten Kebumen. Kemeriahan pembukaan Sri Madono (Sri Medono) dilukiskan dalam surat kabar tersebut,

“Di desa ini, yang terletak di kabupaten Keboemen, sekitar 1 km dari pabrik gula terkenal Remboen, distrik Premboen, dua bangunan indah (tweetal fraaie gebouwtjes) telah didirikan selain pertanian benih yang disebutkan di atas

Bangunan utama (hoofdgebouw) berfungsi untuk penyimpanan benih yang diperoleh, dll., Dan bangunan yang lebih kecil (kleinere gebouw) yang terletak tidak jauh dari situ dimaksudkan sebagai rumah bagi mantri departemen pertanian (mantri van den landbouwkundigen dienst). Bangunan yang terakhir masih memiliki semacam garasi, yang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan pupuk. Kedua bangunan dilengkapi dengan sangat efisien dan juga sangat indah, sehingga para perancang layak mendapatkan pujian berlipat”, demikian tulis surat kabar tersebut.

Beberapa pejabat yang hadir saat itu dilaporkan al., Konsultan Pertanian Kedu Ir. A. Djikstra. Asisten Residenn Kebumen, Mr. Schreuder, perwakilan dari Asisten Residen Purworejo, Bupati Kebumen, R.A.A. Aroeng Binang, Bupati Purworejo, R. A. A. Hasan Danoeningrat, Dr. Levi, Konsultan Hortikultura (tuinbouwconsulent) dari Semarang, Konsultan Pertanian (andbouwconsulent), Pak Corts (pengganti ir. Dijkstra, yang akan pergi), Patih dari Temanggung, berbagai insinyur pengelolaan air, banyak pegawai negeri pribumi termasuk beberapa personil dari departemen pertanian. Demikian pula para petani dan pemilik sawah turut hadir meramaikan.

Tahun 1939 adalah era kepemimpinan Bupati Arungbinang VIII, adik dari Arungbinang VII pasca penghapusan status Karanganyar sebagai kabupaten dan digabungkan menjadi Kebumen baru yang diperluas sejak 1 Januari 1936 (Teguh Hindarto, Sociological Perspective on the Elimination of Karanganyar Regency as an Impact of the 1930s Economic Depression, 2020 - https://www.academia.edu/43380974/Perspektif_Sosiologis_Penghapusan_Kabupaten_Karanganyar_Sebagai_Dampak_Depresi_Ekonomi_1930-an_Sociological_Perspective_on_the_Elimination_of_Karanganyar_Regency_as_an_Impact_of_the_1930s_Economic_Depression_)

Sebagaimana sambutan yang diberikan oleh Konsutan Pertanian yaitu Ir. A. Djikstra bahwa maksud dan tujuan pendirian bale benih Sri Medono adalah untuk meningkatkan hasil panen pertanian dengan mengendalikan penyakit dan hama (ziekten en plagen) dengan menggunakan sejumlah metode langsung (directe methoden)

Selain produksi yang lebih tinggi dan ketahanan terhadap penyakit, pilihan varietas juga berfokus pada kualitas yang lebih baik (de variëteiten tevens gelet op betere  kwaliteit)

Deskripsi peristiwa dan berita peresmian di tahun 1939 tersebut masih dapat dilacak hingga hari ini dengan keberadaan gedung dan kefungsiannya dengan nama “BBP Sri Medono” di ruas jalan raya beberapa ratus meter sebelum Jembatan Gentan.

Bale Benih yang didirikan sejak era kolonial dengan luasan sekitar 2 hektar ini masih difungsikan sebagai penyedia benih varietas unggul di bawah naungan Dinas Pertanian dan Ketahanan  Pangan (Distapang) Kebumen. Adalah Bapak Bardi saat ini yang menjabat sebagai Kepala BBP Sri Madono.

Keberadaan dua bangunan yang disebutkan dalam surat kabar yaitu “bangunan utama” yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih dan “bangunan yang lebih kecil” yang berfungsi sebagai rumah dinas mantri masih berdiri hingga hari ini.

Namun jika melihat deskripsi dalam surat kabar bahwa bangunan utama berbentuk lebih besar nampaknya sudah banyak mengalami sejumlah perubahan bentuk dan warna bangunan yang dahulu disebutkan frissche groenversiering” (dihias dengan warna hijau) dan tulisan Sri Medono “In sierlijke letters (dihias dengan indah) saat ini sudah diwarnai putih dan tulisan “Sri Madono” dalam sebuah plang biasa.

Sesuai namanya, “Sri Medono’ (Sri Madono) surat kabar tersebut memberikan penjelasan megenai artinya yaitu “Berkat Dewi Sri”. Nama Dewi Sri lekat dalam alam pikir dan kebudayaan petani Jawa sejak sebelum pemerintahan kolonial menguasai Nusantara.

Seperti dijelaskan oleh Bapak Bardi bahwa bangunan memang sudah mengalami perombakkan. Hanya fundasi dan gawang atap yang masih dipertahankan sesuai aslinya saat dibangun. Selain kedua bangunan tersebut ada pula ruang untuk penggilingan beras sebagaimana gambaran yang dijelaskan dalam surat kabar mengenai keberadaan mesin tersebut.

Di belakang bangunan terhampar sawah luas dengan ditanami benih-benih padi menghijau dialiri air melalui saluran sungai kecil di sepanjang jalan setapak yang dilewati. Didampingi teman-teman dari Komunitas Pusaka Prembun (KUPU) yaitu komunitas pegiat pelestari bangunan heritage, penulis berkeliling ke sejumlah lokasi yang dilaporkan dalam surat kabar tahun De Locomotief 1939.

Kisah Bale Benih Sri Medono (Sri Madono) bukan sekedar kisah awal berdirinya sebuah bangunan pertanian di tahun tertentu. Lebih dari itu, sebuah wujud kepedulian melakukan inovasi dan modernisasi pertanian dengan melakukan sejumlah riset tertentu yang telah dimulai sejak tahun 1910-an.

Sebagai sebuah wilayah di mana sistem pertanian masih menjadi pekerjaan sebagian besar penduduknya. Inovasi dan teknologi harus menjadi garda depan untuk meningkatkan hasil pertanian bahkan para petani penyelenggara kebutuhan pokok tersebut.