Sebelum menutup khutbahnya pada Jum’at itu, sang khatib menyampaikan sepotong wasiat singkat, “jama’ah Jum’at sekalian ketahuilah bahwa mimbar adalah godaan.”

Ya, di sanalah, ayat-ayat Tuhan dilantunkan, hujjah-hujjah kebenaran digaungkan, bahasa kasih sayang diutarakan. Kadang, demikian menggodanya mimbar, sang juru dakwah yang seharusnya menyeru kedamaian, bisa saja silap, lalu mengundang kemurkaan, menebar ketakutan, bahkan merenggang persaudaraan.  

Nada-nada kebencian sudah teramat populer akhir-akhir ini digaungkan. Hampir setiap menit bahkan, ragam bentuk kebencian dikampanyekan, dan media sosial adalah ruang terfavorit yang mewadahi perdebatan perkara-perkara khilafiyyah tersebut. Saling umpat dan hardik itu sudah pasti.

Meski para pelakunya selalu berujar atas nama Tuhan dan agama, pilunya, tindak tanduk mereka sedikitpun tak menunjukkan ciri-ciri dari seorang agamawan yang disebut dalam al-Qur’an sebagai rahmatan li al-‘ālamīn. Bila hal ini diteruskan, maka tak mengejutkan bila bangsa kita akan dirundung bencana dehumanisasi, kemudian berujung pada rusaknya moralitas dan solidaritas bangsa.  

Mirisnya, nada kebencian tersebut disutradarai oleh mereka yang mengerti hukum dan dalil-dalil agama. Seharusnya berperan sebagai agen damai, tapi malah menuai permusuhan.  Kebenaran dilontarkan bukan dengan pekerti, namun lebih kepada menonjolkan nafsu destruktif.

Pernah suatu ketika Pak Kuntowijoyo menulis dalam bukunya, “kalau nafsu mengalahkan akal budi, orang tidak akan mendapatkan ketenangan jiwa.” Demikian, bahwa kesalihan ritual takkan pernah cukup,  tanpa ditopang kesalihan sosial.

Klaim-klaim sepihak atas kebenaran hanya akan menimbulkan keriuhan dan anti-pati bagi banyak orang. Esensi dari kebenaran menjadi semakin kabur dan profan. Umat pun terdidik menjadi kaum yang berwatak keras dan ekstrem. Tentunya, bahasa-bahasa takfiri kemudian hadir sebagai slogan yang menakutkan.

Sungguh, tak terbayangkan oleh kita sebelumnya bahwa pada saat kita memeluk dan menjalankan apa yang disebut agama, ada kondisi tertentu di mana kita sangat dihantui oleh perasaan takut. Takut keluar dari rel agama itu sendiri.

Sehingga, muncul desakan agar kita berupaya seketat-ketatnya untuk tidak melenceng dari doktrin agama. Tetapi, secara negatif obsesi ini bisa menimbulkan sikap fanatisme agama, lalu kemudian menyeret kita kepada perbuatan menyalahkan atau mengkafirkan orang lain. Sikap mengkafirkan orang lain itulah yang kini populer disebut sebagai takfiri.

Sangat wajar bila dikatakan takfiri sebagai bentuk refleksi dari kecemasan moral (moral panic). Kecemasan yang lahir dari obsesi eksploitatif terhadap nilai-nilai agama. Kemudian, memarkirkan kesantunan sebagai bagian penting dari entitas kemanusiaan.

Ketika manusia menghiraukan aspek humanis, maka patut dipertanyakan keabsahannya sebagai manusia. Maka tak heran jika Gus Mus jauh-jauh hari telah mewanti-wanti, “bila engkau berbicara kepada manusia, maka perhatikan juga perasaannya.”

Bukankah hidup adalah rangkaian dari sekelumit perjalanan untuk mempertahankan kemanusiaan? Lantas, wajar saja bila sikap takfiri dianggap sebagai tindakan yang menentang nilai-nilai kemanusiaan. Seorang penyair mengatakan, “apalah arti menjadi manusia, bila renggang dari kemanusiaan.”

Kita sama-sama sepakat bahwa ritus takfiri ini tidaklah membudaya dengan sendiri tanpa ada intrik-intrik yang memobilisasinya. Ada aroma kuat, kedangkalan berpikir adalah penyebab utamanya. “Jama’ah tekstualis,” demikian sebagian orang melaqabnya.

Paradigma mereka yang menolak cara-cara inklusif dan kontekstual menyebabkan lahirnya fundamentalisme agama. Kekakuan dan memutus mata rantai tradisi (baca: local wisdom) adalah karakter dari jama’ah tersebut. Karenanya, Emha Ainun Najib meyakinkan kita semua bahwa “kedangkalan berpikir sebagai musuh besar umat manusia.”

Sangking dangkalnya cara berpikir masyarakat kita, tak jarang kita temui peristiwa menggelikan terjadi; anak sama bapak cekcok disulut perkara jenggot dan celana cingkrang. Adik beradik bermusuhan disebabkan soal tahlilan, dzikir bersama, dan sebagainya.

Tentunya, hal-hal semacam itu sangat disayangkan terjadi. Namun apa boleh buat, nurani sudah terlanjur dinonaktifkan sehingga sulit berpikir jernih. Implikasinya, lahirlah pemeluk Islam yang menuhankan simbol atau atribut ketimbang substansi, sehingga berimbas tergerusnya moral dan etika.

Dan tak jarang, pola asuh yang keliru juga diinisiasi sebagai biang menjamurnya budaya takfiri. Kita tidak bisa menutup mata, betapa hari ini pendidikan agama yang disuguhkan dan dikenyam oleh generasi muda telah menyortir budaya nusantara sebagai katalisator dakwah dan tarbiyyah. Lalu, mengadopsi budaya masyarakat “padang pasir” untuk dikonsumsi oleh “masyarakat maritim.” 

Padahal, Arab untuk konteks sekarang telah diragukan sebagai kiblat atau barometer dalam beragama. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Buya Syafi’i Ma’arif dengan istilah misguided Arabism. Benturan budaya pun tak terelakkan, dan selanjutnya hadirlah mazhab-mazhab yang berwajah ekstremisme.

Selain itu, selera beragama yang cenderung tergiur pada skema dakwah cepat saji alias instan juga menjadi puncanya, secara otomatis akan terciptalah model gerakan keislaman yang konservatif lagi destruktif, melenceng dari esensi yang dikehendaki Islam.

Sikap intoleran, anti-system, revolutionary, bahkan tindakan represif adalah warna yang direfleksikan dari sikap beragama yang menganut prinsip ekstremisme. Alih-alih, mengkampanyekan untuk kembali kepada al-Qur’an dan sunnah namun melupakan harmonisasi spritualitas dan instutionalization of knowledge.

Meski perilaku takfiri ini tidak jatuh ke ranah terorisme, tapi sangat besar potensi memperdalam jurang intoleransi.  Walhasil, kesatuan dan keutuhan bangsa menjadi terancam.

Sangat dimungkinkan, virus takfiri yang dikomandoi oleh gerakan dari luar ini adalah cara bagi musuh untuk mengobrak-abrik negeri ini. Apalagi dengan status di negeri kita yang sangat heterogen dan beragam, baik dari sisi kultur maupun sosial.

Sejarah membuktikan bahwa cara paling ampuh menggoyahkan kemajemukan suatu bangsa adalah lewat praktek adu domba. Maka sudah seharusnya kita sigap mengantisipasi serangan framing dari luar tersebut. Sadar bahwa kita sedang dibenturkan, diadu, dan dirusakkan.    

Kemudian, perhatian kita juga tak boleh lalai dari pergerakan-pergerakan di internal Islam yang cenderung konfrontatif terhadap sistem sosial dan budaya. Pengaruh yang paling nyata, adanya upaya memformalisasikan karakter Islam yang “bukan Indonesia” dan hal ini secara jelas lagi-lagi akan mengusik keutuhan NKRI.

Dengan maraknya fenomena ini, bisa dimaklumi kenapa ujaran kebencian dengan mudah menjalar ke setiap individu atau komunitas masyarakat. Agama tidak dipandang lagi sebagai corong yang melantangkan pesan-pesan damai, menyebarkan bahasa-bahasa cinta, dan memurnikan nilai-nilai kemanusiaan.

Padahal, sebagaimana disebutkan oleh ‘Ali Syari’ati, “kebenaran selalu bersemayam di dalam nurani, tapi karena alasan tertentu kebenaran ditutupi oleh tirai kebodohan, permusuhan, obsesi kepentingan pribadi, atau kedunguan yang absolut.” Akhirnya, kebenaran agama tertutupi oleh cara pandang yang miskin alias jongkok.

Terakhir, saya pikir sekafir-kafirnya perbuatan seseorang, mari tak menghukumi orangnya, kemudian mengumbar kesalahannya. Kita masih memiliki banyak perbendaharaan bahasa kasih sayang untuk menunjukkan bahwa kita bersaudara.

“Tidak bersaudara dalam iman, bukan berarti tak bersaudara dalam kemanusiaan,” demikian wasiat dari Imam Ali Karamallah. Sebab, orang yang mengerti kedalaman hati saudaranya adalah mereka yang terlatih menjaga perasaan manusia.

Oleh karena itu, mari kita menjenguk perasaan kita masing-masing. Sudah sejauh mana kemesraan kita dengan sang Khaliq terbangun? Lantas, kebaikan apa yang telah kita lakukan untuk menjaga perasaan-Nya?

AwApakah kita sudah kehabisan kata hingga harus melantangkan bahasa “kafir?” Bila budaya takfiri selalu dikedepankan, apakah mungkin wacana “afalā ta’qilūn” bisa digaungkan?