“Gak usah sok-sokanlah makan pakai daging sapi. Pengangguran kayak kita ini udah terbiasa makan tempe yang cuma dihuluk-huluk bumbu Royco. Ya udah itu gantinya daging. Kadang juga tewel direbus, terus taburi saja pake Royco. Udah, itu juga udah bisa jadi ganti gule.”

Obrolan kopi menohok dari temanku, yang sampai sekarang nasibnya masih gak jelas. Umur sudah 24 tahun tapi masih saja ngatung ke orang tua buat sekadar duit ngopi. Hari-hari ya cuma ngeluh gimana supaya nggak banyak gerak tapi gaji tetap ada. Eits terlalu jauh ngomongin gaji, kerjaan saja tidak ada.

Gini lo, sebenarnya temanku ya pengen balik kembali ke kota tempat dia mau kerja. Tapi kok makin hari keadaan makin runyam. Contohnya saja Kota Surabaya. Kok bisa sehari kasus nambah sampai 1000. Kan ya bikin hati deg-deg-ser kalau mau balik.

Sekarang saja sudah hampir 4 bulan dia di rumah. Baru saja lulus kuliah, diwisuda Februari lalu. Tapi kok bulan Maret muncul Covid. Bayangan dulu-dulu kalau sudah bertitel fresh graduate langsung kerja, ya harus ditunda dulu. Apalagi rencana janji nikah sama pacar. Buat makan sehari-hari saja masih numpang ke emak. Apalagi mau hidupin anak orang. Mimpinya sudah terjungkir tragis.

Lain lagi nasib temanku lainnya. Masih berumur 23 tahun. Lulus setahun yang lalu, sehabis lulus langsung diterima salah satu start up penyelenggara ojek online ter-oke di Indonesia.

Pekerjaan sebagai Data Analyst cukup menguntungkan. Terhitung sudah 3 bulan dipulangkan buat kerja di rumah. Ya enak toh nggak perlu ke kantor, kerjaan cukup diselesaikan dua sampai tiga jam perhari. Makan juga enggak usah bayar karena sudah numpang emak. Gaji pun sudah dua digit. Kurang enak apa coba?

Tiba-tiba aku dibentak: “Enak wae kowe. Gini-gini aku juga dirundung waswas. Siapa tahu besok atau lusa aku didepak dari kantor.”

Setelah dia nge-gas, ditunjukanlah padaku database orang-orang yang dipecat dari start up-nya masing-masing. Bukan main, nggak hanya dari nama-nama start up yang aku tidak familiar saja isinya. Bahkan start up yang sudah punya nama pun juga banyak yang mecat pegawainya.

Apalagi aku, umur 23 tahun. Kuliah masih tahap pendidikan profesi. Tiap bulan juga masih ada ujian. Gara-gara kuliah dari rumah masa studi juga terancam molor. Otomatis harapan bisa kerja sesuai target juga bakal molor. Ya terpaksa harus siap-siap pasang muka tebel lebih lama buat minta duit ke emak-bapak. Tragis. 

Makin lama makin serem kalau dibayangin. Berapa banyak orang yang berharap dapat pekerjaan tapi malah terjebak tersungkur di rumah saja. Orang-orang seperti kami, maksudku pengangguran angkatan baru, akhirnya lebih memilih menjadi pasukan yang patuh perintah pemerintah untuk diam saja di rumah. Padahal sebenarnya sudah tidak ada ide lagi mau pergi ke mana. 

Lha memang minim lowongan pekerjaan. Lebih baik diam di rumah saja. Makanan dijamin, tidak perlu bayar sewa kos-kosan. Hati pun tenang karena terhindar dari risiko terkena penyakit.

Akhirnya ya pelampiasan kami ke hal-hal yang menjadi komoditas tren hiburan kekinian sekarang. Macam YouTube, Twitter, Facebook, WA, Line, dan semua hal yang basisnya medsos.

Lalu setelah lihat YouTube, timbullah omelan-omelan iri dan dengki. Beberapa kali terpikir, enak ya jadi Om Deddy Corbuzier, Mbak Nana, atau artis yang hijrah ke Yutub. Sudah punya nama. Sudah dikenal publik. Sudah tampil di macam-macam stasiun televisi. Buat channel Youtube lagi. Tentunya cukup gampang dapetin uang. Ya walaupun kontennya cuma  muter-muter perkara prank, ngomongin orang, atau hal-hal saling imitatif antar yutuber lain.

Ups, pernyataan terakhir tidak berlaku untuk Om Dedi sama Mbak Nana ya. Tapi ya lebih dari cukup dong kalau cuma buat sekadar mengisi perut. Kok cuma isi perut, beli rumah seperabotnya juga oke punya.

Ya jelas iri. Mereka nggak perlu repot-repot ke luar rumah. Cukup buat video di rumah saja. Cuan sudah nyantol di kantong. Kalaupun mereka harus ke luar rumah, masyarakat juga sudah memaklumi kalau itu risiko pekerjaan. Sampai sekarang nggak ada toh youtuber yang dihujat rame-rame gara-gara kebanyakan syuting di luar rumah.

Bukan cuma artis lo. Bapak Ibu para pejabat kan juga oke-oke saja. Pergi ke luar daerah, masuk ke dalam daerah. Gaji juga sudah rutin masuk tiap bulannya, belum lagi ditambah penunjang. Tapi tenang, semua termaafkan. Memang seperti itu pekerjaan mereka. Tapi mohon kesampingkan dulu ya, pejabat-pejabat yang ngeyel tidak mau pakai masker. Atau justru malah yang suka bersilat lidah sama petugas kesehatan. 

Model-model kayak gini sudahlah biarkan saja. Percuma kalau yang nasihatin cuma rakyat biasa, malah kitanya nanti yang jadi bulan-bulanan. Toh yang buat aturan juga mereka. Bisa apa kita? Bahasa kerennya ya cuma bisa mangkel dalam diam!

Kalau kayak gini terus dunianya. Gimana ya nasibku? Oh maaf, aku tambah teman-temanku deh. Sudah dari awal pengangguran emang banyak, lulusan anyar pada nunggu dapat kerjaan, ditambah orang-orang hasil pemecatan akbar. Nanti ketika pandeminya berakhir, atau kita sebut saja aturannya sudah mulai longgar. Berapa orang yang saling seruduk cari pekerjaan?

Aduh. Orang sepertiku yang diterima pekerjaan saja belum pernah. Apa daya kalau harus bersaing melawan orang-orang yang pernah bekerja, udah punya portofolio sama pengalaman. Halah, lha lawan orang yang sama-sama lulusan baru saja aku sudah gemeter. 

Hal-hal kayak gini nih yang semakin membulatkan tekadku buat tidur saja dulu menguat. Supaya pikiran-pikiran negatif ini sementara hilang dulu. Besok baru dipikir lagi.