Rabu (19/02) lalu, beberapa Rayon PMII di kampus saya (UIN Sunan Ampel Surabaya) melangsungkan pelantikan pengurus baru. Salah satunya yang menarik adalah Rayon Ushuluddin dan Filsafat. Pasalnya, selain pelantikan mereka juga mengadakan bedah buku “Menjerat Gus Dur” dengan mendatangkan penulisnya sendiri—Mas Virdika—sebagai pembicara utama. Menarik.

Secara sengaja, saya men-screenshoot pamflet dari story WA salah satu kawan dan membagikan ulang di story WA saya sendiri. Biar lebih provokatif, saya sertakan pula caption yang berbunyi kurang lebih  begini: “Sangat berharap dalam forum ini Mas Virdika bakal blak-blakan bicara soal pembajakan bukunya oleh kader PMII UINSA.” 

Semula saya mengira bakal mendapat komentar pedas dari beberapa kader PMII yang entah sengaja atau tidak membuka story WA saya. Tapi tampaknya saya saja yang terlalu suuzon. Sebab ternyata yang saya temui justru keluguan dan kepolosan.

Tidak lama setelah story provokatif itu saya share, salah seorang kader yang kebetulan satu fakultas dengan saya memberi komentar dengan sebuah pertanyaan; “Loh, masa iya? Siapa yang ngebajak?” 

Dalam hati sebenarnya saya pengin ketawa. Tapi niat itu urung saya lakukan. Apakah informasi mengenai pembajakan buku itu sengaja ditutup-tutupi untuk menjaga citra PMII di hadapan kader-kadernya? Sebaris kalimat tanya saya layangkan untuk diri saya sendiri. Jika memang betul demikian, ironi memang. 

Sekarang, siapa coba yang tidak tahu soal pembajakan buku “Menjerat Gus Dur” yang dilakukan kader PMII itu? Sementara justru beberapa kadernya sendiri mengaku nggak tahu-menahu sama sekali.

Kalau Anda termasuk salah satu dari sekian orang yang belum tahu kabar tidak menyenangkan ini, coba luangkan barang sebentar saja buat ngecek akun FB Mas Virdika (Viridka Rizky Utama).

Dalam postingan yang tertanggal 08 dan 10 Februari, Mas Virdika mengungkapkan kekecewaannya dengan oknum yang membajak dan menjual buku “Menjerat Gus Dur” dengan harga jauh lebih rendah dari harga asli. Katakanlah oknum tersebut menjualnya dengan harga 45 ribu, sementara harga asli dari penerbit sekitar 99 ribu.

Ironisnya, si oknum pembajak ini mengaku telah mengantongi izin dari penulis dan pihak penerbit. Dalam unggahannya tersebut, Mas Virdika kemudian mengklarifikasi bahwa dia sama sekali nggak kenal dengan mbak-mbak pembajak buku ini.

Iya, yang ngebajak mbak-mbak. Dalam unggahan di FB-nya, Mas Virdika secara terang-terangan menyebut nama si oknum yang tertulis: Nova Nhdayani. 

Setelah saya cek akun tersebut, dalam bionya tertulis: Pengurus PMII Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya. Itu artinya Mbak Nova ini satu kampus dengan saya dan tentunya masih satu ormek dengan kawan saya yang tadi mengakui ketidaktahuannya perihal pembajakan buku “Menjerat Gus Dur”.

Fakta yang menyedihkan, di mana buku yang mengangkat salah satu tokoh besar NU, diterbitkan oleh penerbit NU, tapi dibajak oleh sayap organisasinya sendiri (PMII). Fakta yang memukul juga bagi kawan saya—kader PMII UINSA—karena bisa-bisanya yang membajak adalah komisariat mereka sendiri. 

“Nggak apa-apa, mengetahui komis kamu bermasalah dengan pembajakan buku dan digugat langsung oleh penulisnya memang berat,” kepada kawanku itu, saya ucapkan demikian.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah, bagaimana mungkin kader-kader mereka tidak tahu? Apakah komisariat sengaja menutup akses informasi untuk memproteksi kader mereka agar tidak lepas satu per satu? 

Padahal ya, kalau misalkan pengin memproteksi kader-kadernya, harusnya mereka berani secara dewasa mengakui kesalahan fatal tersebut. Akui saja di depan kader-kadernya, dan berilah mereka edukasi bahwa pembajakan buku—apapun motifnya—adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. 

Pengakuan dan kejujuran semacam itu lebih memungkinkan hal serupa tidak terulang lagi, tidak mencoreng wajah dan marwah organisasi lagi. Betul, tidak?

Usut punya usut sih, katanya membajak buku dan menjualnya dengan harga rendah agar masyarakat luas bisa turut menikmati. Karena dengan harga 99 ribu, banyak yang tidak mampu beli. 

Begini, Mbak, menumbuhkan kesadaran literasi kepada masyarakat kita tidak hanya berhenti pada kegiatan membaca saja. Kesadaran literasi juga mencakup proses panjang dari terciptanya sebuah buku.

Cobalah Anda bayangkan, di balik penerbitan dan penjualan buku, ada nasib penulis, editor, para karyawan percetakan, dan pihak-pihak bersangkutan yang dipertaruhkan. Membajak buku dan menjualnya dengan harga jauh lebih murah demi keuntungan pribadi sama dengan melakukan pembunuhan massal atas mereka yang bergiat di dunia perbukuan.

Berikutnya, yang membuat saya makin kasihan dengan kawan-kawan saya yang masih militan adalah seperti yang saya temui dalam unggahan FB kawan saya dari Rayon Ushuluddin dan Filsafat (selaku pelaksana acara bedah buku). 

Dalam unggahan foto yang berlatar belakang panggung diskusi, kawan saya itu memberi caption yang intinya menyindir habis HMI connection, kelompok ormek yang terindikasi menjadi dalang dalam pelengseran Gus Dur dari kusrsi kepresidenan. Topik yang dibahas dalam buku “Menjerat Gus Dur” yang mereka bedah Rabu itu

Menyedihkan, karena mereka begitu jeli melihat kebobrokan pihak lain, sementara terhadap balada pembajakan buku di kubunya sendiri saja dia buta. Kasarannya, bagaimana mungkin penjahat bisa lantang teriak penjahat?