Karyawan Swasta
7 bulan lalu · 418 view · 5 min baca menit baca · Budaya 61938_77304.jpg
i.dawn.com

Balada Orang-Orang Kalah

Beragama kok Jadi Pemarah?

Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya. ~ Gus Dur

Ketika mimbar-mimbar masjid, ceramah, dan khotbah diisi dengan caci-maki, hinaan, dan luapan emosi disertai kata-kata kasar, maka mereka tidak sedang membela agama. Yang mereka bela adalah ego mereka sendiri. Terasing di belantara teknologi, tertinggal dalam segi politik, budaya, dan ekonomi, membuat mereka berpegang pada satu-satunya yang mereka miliki, yaitu agama.

Sayangnya, agama hanya menjadi sarana katarsis belaka. Katarsis adalah salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau pelepasan kecemasan dan ketengangan yang ada dalam diri seseorang. 

Dengan kata lain, agama jadi alat pelampiasan atas kekalahan bertubi-tubi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Jadinya, pesan mulia agama yang seharusnya menebar perdamaian, cinta, dan kasih sayang justru hilang tenggelam tergantikan dengan emosi meluap-luap untuk melawan apa pun yang dianggap sedang melawan dirinya.

Bagaimana kita bisa mengidentifikasi perasaan kalah itu? Mari kita lihat cirinya satu per satu. 

Pertama, mereka selalu melawan hampir apa pun yang datang dari Barat. Karena sistem demokrasi, pemilihan umum, beserta perangkat lainnya datang dari Barat, maka mereka menolaknya. Mereka kemudian melabeli demokrasi dengan sebutan “sistem kafir” yang tidak Islami atau tidak sesuai syariat Islam.


Uniknya, mereka tidak menolak teknologi Barat. Bahkan mereka memanfaatkannya dengan suka cita. Betapapun kolotnya perlakuan rezim Taliban terhadap kaum perempuan, namun mereka tidak pernah menolak menggunakan senjata-senjata canggih peninggalan tuannya, Amerika.

Kedua, pada gilirannya mereka menolak pemerintah yang sah hasil pemilihan umum karena beranggapan pemerintah tersebut merupakan hasil atau “output” dari sistem kafir. Mereka kemudian menggelari para pemimpin beserta jajaran ke bawahnya ini sebagai “thogut” dzalim, penindas serta sebutan jelek lainnya.

Ketiga, mereka gemar mencaci-maki pemerintah atau penguasa. Mereka seakan-akan selalu menjadi korban (playing victim) dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Perasaan selalu menjadi korban ini menyebabkan mereka tak pernah mengapresiasi apa pun kerja pemerintahan. 

Kemudahan seperti sarana transportasi, infrastruktur yang semakin membaik, harga BBM yang merata di antero negeri dan fasilitas kesehatan seperti BPJS tidak dianggap sebagai perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Rasa kurang bersyukur ini, jika kita kaitkan dengan ajaran Islam, sangat jauh dari tuntunan Rasul. Padahal, umat Islam diajarkan untuk selalu bersyukur. Sebaliknya, kurang bersyukur dapat menuntun pada sikap kufur nikmat.

Keempat, seperti demokrasi, nasionalisme pun mereka tanggalkan. Salah seorang ustaz kenamaan bahkan menyebut bahwa nasionalisme tidak ada anjurannya dari nabi; tidak ada dalilnya. Padahal, dalam berbagai kesempatan, justru nabi mencontohkan sikap mencintai tanah kelahirannya, Mekkah. 

Penulis coba mengutip salah satu hadis Rasul SAW. Diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban: 

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).

Kelima, kerap menyalahkan pihak luar untuk segala persoalan yang menimpa umat Islam. Dalam hal ini, yang menjadi enemy number one selalu Yahudi. Barat yang direpresentasikan oleh Amerika dan sekutunya tidak lepas dari pengaruh Yahudi. Yahudi-lah yang membuat umat Islam terpuruk. Maka tak berlebihan kiranya, dalam benak mereka, Yahudi-lah yang menjadi sumber kehancuran dunia.

Keenam, terhadap saudara sesama muslim lain, mereka tak kalah garangnya. Siapa pun yang tidak sejalan, tidak sependapat, dan tidak mau menjalankan agenda mereka, maka kelompok ini tak segan menjuluki saudara sesama muslim lainnya sebagai munafik. 

Pilkada DKI 2017 lalu adalah contoh paling vulgar, di mana status kemusliman orang-orang yang memilih pasangan Ahok-Djarot dipertanyakan. Pertanyaan sejenis “Anda Muslim?” atau tuduhan “Anda seorang munafik” melekat pada orang-orang yang pro-Ahok.


Ketujuh, memonopoli kebenaran. Masih berkaitan dengan ciri keenam, mereka mengklaim kebenaran sebagai milik kelompoknya sendiri. 

Dus, meski Anda seorang muslim, tapi jika tidak sepakat dengan pemikiran mereka, maka cap kafir, munafik atau sesat otomatis tertempel di dahi Anda. Apalagi kalau Anda berasal dari kelompok seperti Syiah atau Ahmadiyah. Jangan harap mereka menganggap Anda sebagai muslim.

Kedelapan, menonjolkan identitas kulit ketimbang substansi agama sesungguhnya. Mereka melakukan counter hegemoni budaya. Mereka merasa dikungkung, dijajah oleh budaya Barat. Maka kemudian mereka membuat tandingan. 

Misal, dalam berpakaian, mereka menghukumi muslim lain yang tidak memakai pakaian Islami sebagai munafik. Di sebagian tempat, memakai celana jeans dilarang, pakaian perempuan selonggar mungkin, dan harus menutup wajahnya dengan cadar. Lelakinya membedakan diri dengan celana cingkrang, jenggot yang panjang, dan dahi yang hitam.

Kesembilan, glorifikasi masa lalu. Mereka selalu bernostalgia dengan masa lalu. Cerita mereka berkisar tentang masa kejayaan Islam, di mana banyak bermunculan cendekiawan dan ilmuan Islam. Mereka membanggakan kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam yang berhasil menguasai sebagian wilayah bumi. 

Mereka merindukan sistem khilafah, yang pada gilirannya mereka berusaha untuk mendirikannya lagi di masa kini. Sayangnya, apa yang mereka rujuk sebagai sistem khilafah, tak lain hanyalah kerajaan atau monarki belaka. Padahal seperti dikatakan Muhammad Iqbal, penyair serta sastrawan besar Pakistan, Sanjungan basa-basi terhadap sejarah silam dan upaya untuk kembali membangkitkannya, sama sekali tidak mengobati penyakit masyarakat.

Kesepuluh, mengedepankan emosi, atau bahkan menuhankan emosi? Seperti diungkap Nadirsyah Hosen, dosen tetap di fakultas hukum Monas University, Australia; yang juga Ra'is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru, menyebut ketertinggalan dalam bidang politik, eknomi, dan budaya membuat mereka kemudian berpegang kepada satu-satunya yang mereka miliki, yakni agama. 

Sayangnya, Islam yang autentik justru berbanding terbalik dengan apa yang mereka praktikkan hari ini. Jika Islam autentik mengajarkan cinta, perdamaian, kasih sayang. Sebaliknya, mereka mengedepankan pelototan, teriakan, caci maki hingga urat leher yang menegang.

Dari mulut mereka keluar sumpah serapah, caci maki dan hujatan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jadi kita mengerti, sejatinya, ulama atau ustaz semacam ini, begitu pula dengan umat pengikutnya, sedang mengalami apa yang dinamakan inferiority complex. Perasaan rendah diri karena tak sanggup menghadapi tantangan zaman yang berderap cepat.

Mereka gagap, takut kehilangan pengaruh dan kesempatan. Mereka mencoba bertahan, karena beranggapan pihak-pihak lain sedang mengincar apa yang mereka miliki. Dus, satu-satunya cara atau senjata untuk melawan pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka adalah melalui teriakan, cercaan, sumpah serapah, ancaman, dan kalau perlu pentungan.


Artikel Terkait