Perdebatan tentang esensi musik folk tampaknya sungguh menjadi perdebatan yang tak kunjung henti. Apalagi di era sosial media yang makin masif ini, di mana makin banyak orang menafsirkan esensi dari musik folknya masing masing. 

Penafsiran khalayak ramai soal definisi musik folk sangat beragam, ada yang mengartikan musik folk adalah musik yang membahas isu-isu sosial politik, ada yang menganggap bahwa musik folk adalah musik etnis tradisional, atau bahkan ada yang berpendapat bahwa musik folk cukup bermodalkan gitar akustik dapat dikatakan musik folk.

Lalu apa sebenarnya musik folk itu?

Jika dilihat sejarahnya, folk berasal dari bahasa Jerman, yakni Volk, yang artinya adalah rakyat. Maka dari itu, menyebut musik etnis atau tradisional sebagai musik folk adalah hal yang relevan jika bicara dalam konteks arti Folk secara bahasa. 

Jika dipahami musik folk sebagai musik rakyat, tentu akan menjadi hal yang sangat sulit untuk mempertanyakan kapan munculnya musik folk mengingat lagu rakyat jawa yang berjudul Gundul-Gundul Pacul yang diyakini diciptakan oleh Sunan Kalijaga sudah ada sejak abad ke-15 Masehi, dan tembang-tembang rakyat lainnya.

Ada beberapa versi soal sejarah penggunaan kata folk itu sendiri. Dilansir dari djarumcoklat.com, bahwa istilah penggunaan folk mulai di cetuskan di pertengahan abad ke-19 M dan 20 M. Thomas William, seorang berkebangsaan Inggris (1846) disebutkan sebagai orang pertama yang menggunakan istilah folk untuk menggambarkan tradisi atau adat istiadat yang ada di tengah-tengah masyarakat. 

Versi lain menyebutkan bahwa musik folk secara terminologi diciptakan oleh seorang filusuf Jerman yang juga seorang penulis, yaitu Johann Gottfried Herder lewat artikelnya yang berjudul Stimmen der Völker in Liedern, Volkslieder (1778–9). Johann G. Herder melihat pada era itu, musik folk memiliki dua karakteristik utama, yakni diproduksi secara umum atau komunal dan bercerita tentang hal-hal yang bermartabat.

Kemudian muncul pertanyaan yang sekiranya seperti ini, apakah musik folk selalu musik etnis? Bisa saja, jika merujuk pada arti folk sebagai gambaran dari sebuah tradisi suatu masyarakat, suatu tradisi dapat muncul dari unsur apa pun, tidak harus muncul dengan sifat etnisitas atau tradisional.

Carole Pegg seorang Etnomusikolog asal Inggris mengungkapkan bahwa di abad ke-16, kata folk merujuk pada masyarakat pedesaan, kadang juga merujuk kepada para petani. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Britania Raya pada saat itu terbagi menjadi The Merrie England, The Irish dan The Scottish. Ketiga kelompok tersebut adalah sebuah kelompok pergerakan revolusi yang sama-sama memiliki tujuan untuk merdeka. 

Dari ketiga kelompok masyarakat ini, muncul berbagai macam kesenian, termasuk syair dan musik yang pada era tersebut masih banyak bertemakan tentang perjuangan dan kehidupan masyarakat petani. Hingga pada akhirnya, dampak dari revolusi industri mengakibatkan ribuan penghuni Eropa harus pergi ke penghujung dunia dan secara tidak sengaja menyebarkan musik folk modern tersebut.

Folk sebagaimana diartikan sebagai keadaan atau gambaran dari sebuah tradisi dalam masyarakat, ini mengindikasikan bahwa musik folk itu sendiri selalu dipengaruhi oleh keadaan zaman. 

Woody Guthrie misalnya, musisi folk asal Amerika era awal abad ke-20, lirik-liriknya selalu menggambarkan kondisi masyarakat Amerika pada masa itu. Dalam hal ini, Woody Guthrie mengambil tema sosial politik pada lirik-lirik musiknya, misalnya saja salah satu lagunya yang berjudul “Fascist Bound To Lose” atau “This Land is Your Land” bercerita tentang kondisi dimana perang sedang terjadi di mana mana. 

Masyarakat Amerika maupun dunia yang secara langsung mengalami kondisi peperangan era itu, tentu akan merasa pengalaman hidup mereka sangat relevan dengan lagu tersebut. 

Atau salah satu lagu dari Bob Dylan pada tahun 60an yang berjudul “Oxford Town” bercerita tentang kondisi kota Oxford di Inggris yang kental akan rasisme di tiap sudutnya. Dua musisi tersebut adalah beberapa dari sekian banyak musisi folk yang pada musiknya bercerita tentang kondisi atau gambaran dari apa yang terjadi didalam suatu kehidupan masyarakat.

Begitu pula di Indonesia, musik folk mengalami perkembangannya secara terus menerus. Di tahun 40an, almarhum Gesang menciptakan lagu keroncong berjudul “Bengawan Solo” yang menjadi sebuah lagu legenda bagi para masyarakat Solo hingga ke pelosok negeri. 

Pada tahun 60an musik bernuansa folk tampaknya telah memasuki ranah populer atau mainstream. Group Musik dari Jawa Timur yang besar di Jakarta yakni Koes Plus menjadi salah satu pelaku musik folk yang cukup populer pada saat itu. Sebut saja lagu-lagu mereka yang berjudul “Bujangan”, “Kolam Susu” dan “buat apa susah” menjadi folk tersendiri bagi masyarakat Indonesia. 

Selain karena memang ada pada media mainstream, lagu-lagu tersebut menjadi folk karena relevansi lirik dan apa yang terjadi dengan masyarakat Indonesia pada saat itu. 

Begitu pula Iwan Fals di tahun 80an dan 90an, Bagaimana album “celoteh-celoteh” menjadi sebuah gambaran keadaan masyarakat pada era itu, beberapa track dalam album tersebut seperti “Nak”, “Surat Buat Wakil Rakyat”, “Pesawat Tempurku” dan “Bongkar” yang menjadi lagu kebangsaan atau lagu pengiring zaman bagi para pelaku perubahan di tahun 98. 

Lagu-lagu tersebut sungguh sangat menjadi lagu sakral bagi masyarakat karena liriknya yang sungguh gamblang menceritakan apa yang terjadi di masyarakat, sehingga menjadikan lagu-lagu tersebut menjadi Folk tersendiri bagi masyarakat Indonesia pada saat itu.

Di era 2000an awal hingga hari akhir, folk kembali megalami perkembangan makna dan penafsiran. Musisi-musisi seperti Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Float dan masih banyak lagi. Mereka membawakan musik folk dengan lirik yang manis dan puitis. 

Pengalaman-pengalaman romansa manusia lebih ditekankan secara gamblang. Walaupun di era sebelum mereka ini, musisi-musisi folk juga menulis lagu romantis dan puitis, namun musisi folk era ini sungguh memperlihatkan sisi melankolis dalam penulisan lirik dan musik yang cenderung lembut serta kebanyakan dibalut dengan musik akustik.

Dan hari ini, tepatnya era 2010an, muncul musisi musisi yang bisa terbilang memainkan musik folk yang cukup memukau, sebut saja Jason Ranti, Sisir Tanah dan Iksan Skuter. 

Masing-masing memiliki ciri dan warnanya masing masing. Sisir Tanah dan Iksan Skuter dengan lirik-liriknya banyak bercerita soal Sosial-Politik khususnya pada banyak kasus penindasan atau perlawanan, salah satunya berjudul “Lagu Hidup” milik Sisir Tanah dan “Partai Anjing” milik Iksan Skuter. Sedangkan Jeje (Sapaan akrab Jason Ranti) tampaknya lebih sering menulis lirik satir puitis yang sarat akan kritik terhadap kehidupan sehari-hari.

Perkembangan tersebut sampai mengakibatkan banyak musik folk yang akhirnya kehilangan karakternya yang kuat, hanya bermodalkan gitar akustik dan lirik puitis “Senja dan Kopi” lalu mengklaim diri mereka sebagai musisi folk. Tak salah mengklaim seperti itu, namun sepertinya akan lebih menarik jika musik folk ini selalu di imbangi dengan inovasi yang baik dan keren, tentu akan lebih berwarna lagi dan tidak itu-itu saja. 

Setidaknya, nyawa atau jiwa dari musik folk itu sendiri dapat tersampaikan, sehingga akan selalu ada lagu-lagu pengiring zaman seperti yang sudah pernah diciptakan pendahulu musisi-musisi folk kita, baik Iwan Fals, Koes Plus, Gesang dan lainnya.