“Kring! ... Kriing! ... Kriiingng!” Dentang bel sepeda berbunyi nyaring.

Ada Pertanyaan?

Semasa muda, Pak RT dikenal sebagai pria pendiam.

Tak banyak bicara, cara berjalannya tegap, pandangannya lurus ke depan jarang menoleh, dari belakang terlihat bagai Steven Seagal tanpa kuncir.

Bicaranya pelan cenderung lirih yang bagi lawan bicara terdengar kurang jelas, lalu sering kali ditanya balik; “He?” atau “Hah?” juga “Gimana? Gimana?”.

Jika sudah demikian, Pak RT muda jarang mengulangi ungkapan kata-katanya, membiarkan lawan bicaranya bingung sambil bilang dalam hati; “Tadi ngomong apaan si?”.

Saking irit bicaranya bahkan Pak RT muda mengungkap cinta pada wanita pilihannya dalam kalimat singkat;

Dek, aku cinta kamu. Ada pertanyaan?”.

Cinta memang penuh rahasia tak terduga. Gaya pendiam yang demikian justru membuat Bu RT muda merasa telah menemukan calon pendamping meniti bersama jalan menuju masa depan.

Dentang Tersayang

Sepanjang masa-masa indah merangkai dua hati yang berbeda, Bu RT muda selalu memahami ketulusan cinta pilihan hatinya. Sikap Pak RT muda yang unik, tak mudah dipahami banyak orang, justru meneduhkan.

Setiap malam akhir pekan, petang jelang pukul setengah tujuh saatnya apel malam mingguan. Pak RT muda selalu siap berdiri di depan halaman rumah menanti sang wanita pujaan.

Jaman itu, motor masih jarang. Banyak anak muda memilih mengayuh sepeda kumbang buat bergaya.

“Kring! ... Kriing! ... Kriiingng!” Dentang bel sepeda berbunyi nyaring.

Bu RT muda pun segera selesaikan merias bedak di wajahnya. Aroma harumnya klasik, memikat, Fanbo namanya.

Penuh suka cita, wanita periang ini membuka pintu rumah menyambut pria muda pendiam pengunci hatinya.

Oh! Sepeda kumbang tak dilihatnya. Dia sempat bingung karena tadi terdengar nyaring bunyi lonceng sepeda kumbang.

Pak RT muda hanya tersenyum memperlihatkan bel sepeda yang digenggamnya.

“Kring! ... Kring!” Pak RT muda menekan-nekan batang kenop lonceng sepeda kumbang.

Hanya bel sepeda dalam genggaman, tanpa sepeda kumbang.

Aneh memang gaya penampilan Pak RT muda, namun karena itu justru Bu RT muda kepiyer-piyer hatinya.

Kedua manusia muda dimabuk asmara pun lalu berjalan bergenggaman tangan, menyusuri sebuah jalan, menghabiskan petang menjadi sebuah kenangan tak terlupakan.

Bel sepeda tetap dalam saku celana Pak RT muda, di sebelah kanan.

Hanya Edi

Keduanya berjalan pelan menikmati suasana sehabis hujan, yang di sepanjang trotoar jalanan beraspal banyak pohon rindang.

Begitu sejuk dan nyaman, terkadang tercium aroma bunga-bunga yang di tanam pemilik rumah-rumah besar di tepi jalan.

Tak nampak segumpal awan mendung pun di atap langit, melainkan bayan rembulan.

Keduanya bercengkerama tentang banyak hal, merangkai kata ucapan dalam iringan jalan yang seolah setiap langkah adalah titian masa depan.

Rembulan malam begitu terbayan, merestui perjalanan cinta dua insan.

Edi, demikian nama yang diingat oleh Bu RT muda tentang pria muda yang menggenggam jemarinya. Entah Edi siapa kepanjangannya. Hanya Edi.

Agak lelah berjalan, keduanya lalu singgah di warung mie ayam yang telah menjadi langganan. Bakmi Mahkota namanya, di bilangan Kedungdoro Surabaya.

Dua mangkok mie ayam pesanan pun lalu diolah, aroma gurih adonan bumbu menyebar seisi warung tenda.

Tak lama, dua mangkok mie ayam bertabur suwiran ayam kampung yang melimpah hadir di depan mata.

Penampakan mie ayam Mahkota sungguh membuat isi hati setiap pemandangnya bakal mengungkap kata-kata;

“Ini pasti sangat melejatkan...”

Tak hanya bicara, namun ada sedikit sensasi kucuran cairan dalam rongga mulut yang lalu ditelan.

Penampilan dua porsi mie ayam Bakmi Mahkota Kedungdoro Surabaya.

“Dek...” Pak RT muda membuka kata, lalu sesumpit gulungan mie dikunyahnya.

“Ya, Kak Edi...” Jawab Bu RT muda, sama, mie ayam dari gulungan garpu dikunyahnya pelan.

Dek... Aku berniat mengedit kamu.” Sambung Pak RT muda.

“Maksud Kakak?” Tanya balik Bu RT. Olesan lipstik warna nude di bibirnya berminyak karena seruputan kuah mie ayam.

“Iya dek, ku mau mengedit kamu dari Nona jadi Nyonya...”

Bu RT hanya terdiam, tak berkata-kata. Terkejut, sekaligus bahagia karena tak pernah menyangka pujaan hatinya berkata-kata demikian. Dalam sebuah warung tenda idola pula.

“Baik Kak... Nanti saya matur ke orang tua.” Akhirnya terucap kata-kata yang sempat tercekat.

Pak RT muda mengangguk pelan, pentol bakso dalam mangkok berkuah diiris setengah, dioles saos sambal lalu digigitnya. Empuknya melegakan.

“Tapi Kak..” Sergah Bu RT muda. Es teh disedotnya pelan biar hatinya tenang sebelum menyampaikan pertanyaan.

“Iya kenapa Dek?”

“Satu saja aku minta jawaban. Selama ini aku selalu memendam..”

“Apa itu Dek?”

“Nama Kakak sebenarnya, Edi siapa?”

“Oh hanya itu?”

“Iya Kak...” Bu RT muda mulai mengimbangi sikap pria pengisi hatinya, irit berkata-kata.

“Nama lengkapku ... Editor.”

Lah, penyunting dong kak?...” Bu RT berbinar menemukan jawaban.

Lha kan seperti sekarang, menyunting kamu Dek...”

Wadaw! ... Mie Ayam dalam mangkok pun turut riang menyaksikan untaian tutur kata penuh gejolak cinta.

Pak Bayan

Sejak itu, mie ayam menjadi simbol cinta ketiga di antara kedua cinta Pak & Bu RT. Mengikat dua hati yang berbeda, menempuh jalan menuju masa depan bersama, beriring hati yang ayem tentrem.

Beberapa bulan kemudian, di halaman rumah Bu RT muda berkumandang irama lagu kondangan mantenan.

Beriring suara syahdu gamelan Kebo Giro yang seolah menyenandungkan syair lirik;

Neng nong neng gung, Pak BayaaneMie ayam, aku doyaan.”

Para hadirin undangan pun semua turut berbahagia. Tulus riang, memberi doa restu dan menyampaikan salam. Lalu singgah ke gubuk-gubuk sajian, mencicipi lezatnya aneka hidangan prasmanan.

Salah satu pilihan sajiannya, tiada lain, tiada bukan ialah; Mie Ayem.

Edi dan Istri tampak bahagia dalam kamar pengantin baru, menanti indahnya malam pertama.