'Tek! Tek! Tek! Tek! Tek!' Tanpa ampun saya rajang sejadi-jadinya. Saya perlakukan demikian, si Bawang merah diam saja. Melihat ketulusannya, membuat saya menitikkan air mata.


Malam ini hawa begitu gerah, sumuk. Hujan yang ditunggu tiba, enggan turun ke daratan. Mereka masih nyaman di atas awan, sambil bersantai jigrang menikmati manusia yang tengah berkipas-kipas kegerahan.

Menghadapi hawa begini, saya tak bisa diam, kudu ada kegiatan. Saya ke dapur buka lemari, nemu Spageti tapi tak ada saos pasta. Saya lalu punya ide, ini Spageti dimasak ala bakmi nyemek saja.

Nyemek, berarti kandungan airnya moderat, tak kering juga tak basah. Cocok dengan suasana cuaca.

Spageti saya rebus. Perlu waktu lebih lama daripada mematangkan mie biasa. Sementara membiarkan Spageti lunglai berjulur-julur, saya menyiapkan bumbu-bumbu yang ada.

Bawang putih sebanyak empat siung saya geprek, 'Prek!'. Terus saya cincang, 'Tak! Tak! Tak! Tak! Tak!' Bunyi pisau beradu kayu telenan. Dia diam saja, pasrah akan kodratnya.

Eh! Tiba-tiba saya dengar bisikan si Bawang merah. “Om, saya kok nggak diajak? Kok cuman si putih? Lupa sama warna bendera ya?” Ujar si Bawang merah merajuk.

Ya sudah dia saya jumput dua saja. Lalu saya perlakukan nasibnya sama dengan si Bawang putih. 'Prak!' Si Bawang merah penyek.

'Tek! Tek! Tek! Tek! Tek!' Tanpa ampun saya rajang sejadi-jadinya. Saya perlakukan demikian, si Bawang merah diam saja. Melihat ketulusannya, membuat saya menitikkan air mata.

Oh! Sekarang saya dengar siulan si Cabe merah. “Suit! Woi Om! Saya tau Om gak suka pedas. Tapi ya masak tega biarkan saya telentang begini saja?” Kata si Cabe merah memanja.

Oke, saya ambil si Cabe merah dua saja. Saya belah, biji-bijinya saya buang, biar kelak tumbuh di tempat entah di mana. Setelah itu dia saya rajang-rajang, tanpa mendengar keluhan.

Ah! Masih ada si Kemiri yang setengah berteriak mengingatkan saya. “Om, Om, mbok yao kalo mau masak bakmi godog, saya diikutkan. Kan saya pengen menyemarakkan suasana.” Bilang si Kemiri agak ketus.

“Sori ya Kem, malem ini saya malas nguleg, jadi, please stay.” Jawab saya kebarat-baratan. Si Kemiri cemberut, meski sudah saya elus-elus menghibur suasana hatinya.

'Coz!' Begitu suara geprekan rajang si Bawang putih, si Bawang merah dan si Cabe merah pas masuk ke dalam wajan berisi minyak yang telah panas. 

Saya gongso mereka di dalam Wajan. Saya aduk-aduk sedemikian rupa pakai Sutil di atas bara api sedang. Sutil terdiri dari dua suku kata. Su artinya baik. Til artinya dititil, mencicip. Jadi, Sutil bermakna alat memasak biar masakan layak cicip.

Aroma harum pun menyeruak, menunjukkan mereka, si Bawang merah dan putih juga si Cabe merah, begitu riang senang tak alang kepalang.

Spageti juga telah matang, melunglai, empuknya sedang. Dia lalu saya angkat, terus saya tiriskan.

“Om!” Satu teguran dari si Telor ayam yang dari tadi diam melihat teman-temannya riang di gongso. Saya juga tak banyak kata. Saya ambil si Telor. Saya ketuk dia di pinggir siku dinding penyangga kompor, kulitnya pecah, terus isinya saya tuang ke atas wajan.

'Sreng!' Duh, senengnya si Telor berjumpa teman-temannya. Begitu aroma gurih menampar syaraf indera penciuman pertanda si Telor telah matang, saya tuangkan air sedikit saja ke dalam Wajan.

'Cez!' Si Wajan agak kaget tiba-tiba tubuhnya tersiram air. Saya tabur garam sedikit, juga lada secukupnya. Lalu saya aduk lagi, sambil merasakan betapa Sutil dan Wajan begitu solid, kompak berkomitmen menjadikan setiap masakan benar-benar matang. 

Spageti saya masukkan wajan. Saya aduk sebentar biar rata dengan gongsoan bumbu dan telor.

Kecap Asin lalu saya tambahkan. Botol Kecap Asin saya pegang di atas pusar. Terus botol plastiknya saya tekan-tekan menuju wajan. 'Crit! Crit! Crit!' Biar rasa asin garam berhias gurih.

Sama dengan cara menembak Kecap Asin dari atas pusar mengarah Wajan, kali ini giliran Kecap Manis Sedang. 'Crut! Crut! Crut! Crut!' Biar ada rasa manis yang tipis.

Kemudian giliran Saos Tiram. Cara menembak ke dalam wajan masih sama. 'Crot! Crot!' Dua kali saja, biar ada sensasi rasa seafood meski tanpa seafood. Bingung kan?

Selanjutnya giliran Kecap Manis Kental. Saya coba menembaknya ke dalam wajan dengan cara yang sama dengan ketiga rekannya dalam botol plastik. 'Mak ndledeek, ndledek.' Halah, nggilani malah netes ke lantai. Saya lap sebentar tetesan kecap di lantai, terus task must be proceed ON

Kecap Manis Kental lalu saya tuang biasa ke atas Wajan. Syarat saja biar agak menutupi rasa asin, gurih dan pedas. Saya aduk lagi hingga Spageti dan bumbu serta kecap menyatu. Saya cicip kuah racikannya.

Wih! Saya tak bisa berkata-kata, cuman manggut-manggut kayak rocker dengar lagu Metallica

Saya pastikan, Spageti telah matang dengan kuah yang tak begitu banyak, nyemek saja. Pas saya tuang di atas piring, lha anak saya datang menyapa.

“Bapak masak apa?”

“Bakmi Django, Le.”

“Kok bisa? Ala koboi emang?”

“Iya Le, mienya Italia, bumbu ne Njawani.” Jawab saya lirih.

“Coba ngincip.” Tukasnya singkat ala anak milenial. Namanya diminta anak, ya saya serahkan. 

Wah! Ternyata anak saya suka, dapat angka 9 saya. Malam ini, saya namakan saja racikan ngawur ini bernama Bakmi Django.

Django diucapkan huruf D nya tipis, hingga terdengar Cjenggo. Sama, Cjenggo dilafalkan huruf C nya tipis, seolah terdengar Jenggo.

Bisa dicoba, lalu diinovasi sebagai peluang usaha. ‘Bakmi Jawa Sensasi Italia’ begitu semboyannya. Karena, Spageti ternyata tak hanya nikmat berbumbu saos tomat semata. 

Eh, siapa tau banyak yang suka.