Peneliti
2 tahun lalu · 232 view · 3 menit baca · Lingkungan 79788.jpg
Foto: Facebook Subarman Salim

Bak Sampah Raksasa Diapit Rumah Kumuh

Botol-botol dan gelas plastik menyembul dalam genangan air hujan, terapung di antara sampah berjamur lainnya, pada sebuah petak berdiameter kurang-lebih 10x15 meter, yang pinggirannya telah dipagari fondasi. Genangan sampah itu dikelilingi rumah warga yang nyaris tanpa sekat. Atap rumah seperti luka-luka yang mengering bergelombang dan disusun tanpa pola.

Rumah-rumah di sini berhimpitan, seperti dijejal begitu saja tak beraturan. Mereka menancapkan tiang tiang menyangga papan-papan pipih yang tak dihaluskan. Beberapa rumah menggunakan ventilasi seadanya, dengan membuat celah diantara dinding papan yang memanjang hingga enam meter. Di sore hari, rumah-rumah tampak seperti kardus raksasa yang berlumut.

Ketika pasang tiba, sampah-sampah itu menari-nari diayun riak, bagai pemain ski. Sementara dari atas rumah, sampah-sampah dituang begitu saja, seperti membuang ludah. Arus air laut menghempas genangan sampah hingga meluber ke bawah kolong rumah. Jika air pasang bercampur hujan, maka genangan pun ikut meninggi menutupi jalanan gang setapak.

Rumah pesisir memunggungi laut

Bak sampah raksasa itu terlihat seperti lama tak terurus. Sementara, pemukiman di sekitarnya seperti tak peduli. Yang amat memprihatinkan adalah perilaku jorok sebagian penghuni rumah di sekita bak sampah raksasa itu. Karena tanpa fasilitas jamban, beberapa rumah hanya memanfaatkan ruas belakang di sisi dapur untuk aktivitas mandi dan buang air. Tanpa jamban rumah, kotoran manusia ikut tercampur dengan tumpukan sampah.

Rumah-rumah merangsek laut ini berdesakan memanjang sekira 5 km dari arah utara ke selatan melewati jalur jembatan pelabuhan feri. Dari arah dermaga, rumah-rumah di atas laut terlihat seperti lapak-lapak kios kaki lima yang usang.

Terlihat jelas struktur rumah tak lagi mengindahkan bagian penting yakni halaman dan saluran pembuangan. Hanya rumah dengan pengertian semata sebagai tempat mereka tidur, makan, mandi dan nonton televisi. Di luar rumah adalah ruang yang tak pernah mereka hitung sebagai bagian tak terpisahkan. Karenanya, udara pesing, bau busuk dan ancaman penyakit diare dan malaria adalah hal lain yang tak pernah mereka prediksi.

Bangunan-bangunan rumah yang pintunya menghadap ke arah barat dan bagian belakang yang memungguni laut, menunjukkan adanya hubungan yang tak lagi harmoni dengan laut. Kondisi yang telah lama dikeluhkan oleh nelayan tradisional. Nelayan yang berbekal kail tradisional kini harus mengayuh sampan jauh dari garus pantai, dengan hasil tangkapan yang hanya cukup untuk kebutuhan rumah.

Bom dan Rumpon Mengusir Tuna

Rumah-rumah yang mendesak laut adalah potret kusam betapa pemukiman telah menjadi ancaman serius dunia bahari kita. Ini adalah praktek reklamasi dalam skala yang kecil, namun dampaknya tak kalah dengan penimbunan laut untuk kepentingan wisata atau demi pembangunan apartemen-apartemen di kota-kota besar.

Rumah mendesak laut juga menjadi ancaman bagi habitat ikan. Ikan-ikan yang mulai langka sebenarnya telah terjadi sekitar awal tahun 2000, ketika beberapa orang mengujicoba meledakkan bom. Mungkin para pengebom ikan yang berkedok nelayan itu, tak pernah mereka perkirakan dampak buruk bagi reproduksi ikan dan biota laut lainnya. Namun cara keji itu praktis telah mengusir kawanan ikan Tuna yang dulu menjadi primadona di kawasan ini.     

Pengakuan beberapa nelayan Bajoe mengungkapkan kalau beberapa tahun terakhir ikan Tuna sudah tak pernah lagi diperoleh. Untuk menangkap Tuna, oleh beberapa nelayan diakui harus keluar makin menjauh dari perairan Bajoe. Kondisi yang diperparah dengan maraknya penggunaan Cantrang dan pola penangkapan dengan menggunakan Rumpon.

Cantrang dan rumpon bekerja dengan pola yang sama. Jika rumpon disimpan semi permanen di laut lepas dengan menggunakan batu-batu sebagai pemberat, sedangkan Cantrang penggunaannya lebih mobile. Kesamaan dari dua peralatan tangkap ikan ini adalah merusak ekosistem karena tangkapannya serampangan hingga ke jenis ikan yang masih tergolong kecil.  

Maraknya penggunaan Cantrang dan Rumpon, bahkan bom, menunjukkan bahwa orientasi melaut kini makin menunjukkan sikap abai terhadap kelangsungan ekosistem laut.  

Bak sampah raksasa dan riwayat rumah di atas laut 

Jika di laut, ikan-ikan terancam oleh Cantrang, Rumpon dan bom, di darat, rumah-rumah penduduk kian merangsek, menancap di atas permukaan air laut. Sebuah kondisi ironi negeri bahari namun tak cakap menjaga dan melestarikan wilayah pesisir.

Bak sampah raksasa itu adalah definisi sanitasi buruk yang sangat rentan dengan sumber penyakit. Ini hanya potret kecil dari kumuhnya kehidupan di pesisir timur kota. Alih-alih menemukan garis pantai, rumah-rumah warga sudah merengsek jauh ke atas permukaan air laut. Telah lama, rumah-rumah penduduk didirikan di atas permukaan air laut, bahkan dengan dalih telah mengantongi surat keterangan kepemilikan yang diperolehnya dari oknum aparat setempat.

Lumayan miris menyaksikan pantai Timur Bajoe, Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Tak ada lagi batas antara rumah warga dengan air laut. Pemukiman yang padat dan rendahnya kesadaran lingkungan membuat kondisi sanitasi makin buruk.

Orang luar mungkin tak ada yang tahu dengan keberadaan bak sampah raksasa itu. Karena, gang-gang sempit yang diakses warga untuk keluar menuju jalanan, hanya bisa dilalui dua orang dewasa. Tapi warga sekitar dan pemerintah setempat (Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulsel) tak boleh terlalu lama menutup mata. Sebab, kehidupan tidak hanya berlangsung hari ini dan tidak hanya terjadi di pinggir jalan-jalan protokol.

Mengabaikan bak sampah raksasa adalah mengabaikan kelangsungan kehidupan, yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Artikel Terkait