"I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think." ~Jalaluddin Rumi.

Bahasa selalu mengatakan sesuatu, sekaligus tentang sesuatu. Sesuatu yang disini terlepas daripada proses pengungkapannya, hanya ada apa yang dikatakannya, makna. Sehingga apa yang di sini bersandar tidak lagi terikat dengan kepada siapa ia pertama kali bersandar, penciptanya.

Penciptanya tak lagi diperlukan. Kematiannya? Bukan. Hanya ciptaan yang membaku. Lantas apa yang tersisa? Hanya dunia imajiner yang dibangun oleh ciptaan-ciptaannya, tak ada lagi konteks semula.

Kita adalah metafor kehidupan, warisan keniscayaan realitas tak bersyarat. Tugas kita adalah memahaminya lewat interpretasi, tapi metafor Tuhan tidak sesederhana itu, kita adalah metafor bersayap, multi-interpretable, dikotomi bersyarat.

Saat kita tidak memahaminya, kita terjebak dalam dimensi keterasingan, metafor hanya akan menjadi kiasan, nihil. Nihilisme dalam keterasingan hanya menciptakan keputusasaan, kebosanan, kemuakan, dan absurditas.

Untuk itu, kita akan mengutuk diri kita sendiri karena telah tercipta dan ada untuk diri kita sendiri, bebas dan bertanggung jawab.

Kita adalah aktor-aktor yang diseret ke atas panggung tanpa mengetahui peran kita, tanpa naskah dan tanpa juru bisik yang akan membisikkan kepada kita apa yang harus kita lakukan di atas panggung. Kita hanya akan memutuskan bagi diri kita sendiri dan untuk sementara kita adalah mikrokosmos untuk mengetahui hakikat kita adalah makrokosmos.