Lagi panas-panasnya berita pemaksaan penggunaan hijab bagi siswi non-Muslim di Padang, guru sosiologi saya memberikan tugas untuk mendiskusikan kasus ini. Beliau meminta kami mencari penyebab mengapa hal ini bisa terjadi.

Kami semua serentak menyalahkan Fauzi Bahar yang menjadi dalang di balik semua ini. Fauzi yang intoleran lah. Fauzi yang rendah kesadaran akan beragam budaya lah. Hingga Fauzi yang menjadi ancaman bagi Bhinneka Tunggal Ika.

Di tengah di diskusi ini, guru saya menginterupsi. Menurutnya, kasus serupa juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya Fauzi Bahar, berbagai sosok lain juga berpikiran untuk memaksakan budaya atau kepercayaannya kepada orang lain.

Guru saya lalu mengarahkan kami untuk mencari alasan mengapa sosok-sosok intoleran dan berpikiran sempit ini terus bermunculan. Berbagai jawaban dilontarkan, tapi ada 2 jawaban yang menarik perhatian saya.

Pertama, sosok intoleran muncul karena dendam masa lalu, misalnya dulu ia pernah diperlakukan intoleran oleh kaum lain. Pernyataan ini lalu ditambahkan oleh teman lain yang mengatakan selain dendam, perlakuan intoleran yang pernah dialami oleh sosok tersebut membuatnya memiliki persepsi yang salah.

Persepsi yang salah ini bisa berupa anggapan bahwa memaksakan kepercayaannya itu bukanlah tindakan intoleran. Sebaliknya, jika kaum yang dipaksakan menolak menganut kepercayaannya, inilah tindakan intoleran.

Kedua, sosok intoleran terus muncul karena rendahnya kesadaran korban untuk menolak atau melawan kepercayaan yang dipaksakan sosok ini. Sama halnya dengan kebanyakan siswi non-Muslim lain di Padang yang memilih diam dan menurut.

***

Kemarin malam, adik saya cerita tentang teman sekelasnya, sebut saja Lisa, yang hobinya mengikuti grup-grup Instagram kakak kelas toxic. Kata adik saya, di grup Lisa ini kalau ada salah satu anggota yang sedang sedih, anggota lain diwajibkan, ingat, diwajibkan, untuk menghibur.

“Lisa ini orangnya pendiam”, kata adik saya. “Dia kalau menghibur hanya mendengarkan curhatan saja, tidak sampai yang menasihati atau bergurau gitu.” Cara menghibur ala Lisa ini rupanya tidak cukup bagi para kakak kelas. Mereka menyudutkan Lisa dan protes kalau dia itu “tidak cukup” menghibur. 

Saya tanya, “Loh itu diiyain saja sama Lisa? Tidak dilawan?” “Iya, diiyain saja. Kan Lisa ini ingin masuknya grupnya. Tidak mungkin lah anggota yang sudah lama di situ dilawan. Gimana sih?” Ah, iya juga.

“Itu nanti biasanya kalo sudah diterima jadi anggota, terus ada anggota baru, nah anggota barunya ini dibully lagi. Berputar gitu terus pokoknya. Temenku yang lain ada kok yang begini. Awalnya baik, perhatian sama semuanya. Eh, tiba-tiba jadi suka bully karena ikutan geng beginian.”

Saya jadi berpikir nantinya kalau semua sudah “memenuhi standar” geng-geng ini dan menjadi anggotanya, akan hilang kali ya anak-anak yang masih punya perilaku toleran. Eh?

***

Alasan pertama yang dilontarkan teman saya mengenai terus timbulnya sosok-sosok intoleran serta cerita adik saya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya. Apa sebuah kelompok intoleran sungguh bisa merubah seseorang yang toleran menjadi intoleran?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba cari-cari artikel di Google. Dari yang saya baca, kelompok intoleran bukanlah penyebab utama lahirnya sosok-sosok intoleran baru. Saya ambil contoh artis komedi Amerika Serikat, Melissa McCarthy.

McCarthy banyak mendapat pandangan serta kritik negatif dari para kaum intoleran karena ukuran tubuhnya. McCarthy menanggapinya dengan mengatakan bahwa hanya dia yang berhak mengatur tubuhnya sendiri. Baginya, akan sangat membosankan bila semua tubuh seragam. (ConceptBeautiful.com, 2015)

Mendapat kritik-kritik pedas dari para intoleran tidak sedikitpun membuat McCarthy menjadi seperti mereka. Sebaliknya, ia melawan kaum intoleran ini dan terus menyebarkan kepada semua orang bahwa tipe tubuh macam apapun bukan menjadi masalah.

Lalu, jika bukan karena mendapat kritik pedas kaum intoleran, apa penyebab sosok intoleran terus bermunculan?

***

Satu-satunya perbedaan menonjol dari kisah McCarthy dengan alasan pertama yang dilontarkan teman saya mengenai terus timbulnya sosok-sosok intoleran terletak pada respon yang diberikan korban terhadap kaum intoleran.

McCarthy menolak dan melawan. Sedangkan yang lain mengiyakan dan menerima kaum intoleran. Bisa dibilang, McCarthy bersikap intoleran terhadap kaum intoleran. Sedangkan yang lain mentoleransi kaum intoleran.

Terus menerus mentoleransi atau menerima perilaku intoleran akan membuat seseorang kehilangan rasa toleransi dalam dirinya alias berubah menjadi sosok intoleran. Mengapa begitu?

Disinilah alasan pertama teman saya tentang mengapa sosok intoleran terus bermunculan bisa dipakai. Mendapat perlakuan intoleran terus menerus bisa menyebabkan rasa dendam. Misalnya saja seseorang tadi akan berpikir buat apa dia mentoleransi orang lain ketika ia sendiri terus mendapatkan perilaku intoleran.

Atau bisa pula seseorang yang menerima perlakuan intoleran ini membuatnya memiliki persepsi yang salah mengenai mana saja perilaku intoleran dan mana saja yang bukan.

Seseorang tidak bisa bersikap toleran seutuhnya. Toleransi tinggi bisa, tapi tidak boleh sepenuhnya. Ada batas-batas tertentu dimana suatu perilaku dinyatakan intoleran dan tidak boleh lagi ditoleransi. Hukumnya wajib bagi kita untuk menolak dan melawan atau bersikap intoleran terhadap kaum intoleran.

Saya jadi teringat paradoks toleransi milik Karl Popper yang mengatakan bahwa masyarakat yang bertoleransi dengan sempurna akan memicu hilangnya toleransi itu sendiri.

***

Untung saja di kasus pemaksaan hijab ini ada satu siswi yang berani melawan dan melapor. Untung saja ada satu yang sadar pentingnya intoleran terhadap kaum intoleran.

Sungguh disayangkan sikap toleransi sempurna yang cukup berbahaya ini jarang sekali dibicarakan. Para pendidik sibuk menanamkan rasa toleransi dan lupa bahwa beberapa hal tidak boleh ditoleran. Pentingnya sikap intoleran kepada kaum intoleran adalah salah satunya.

Dengan ini, masyarakat akan asing dengan prinsip intoleran terhadap kaum intoleran. Buktinya saja, hanya satu siswi dari sekian banyak yang sadar pentingnya hal ini dan berani mengambil langkah. Itupun hanya di bidang pendidikan, bagaimana dengan bidang-bidang lainnya?

Apa jangan-jangan mayoritas masyarakat telah menerima atau toleran dengan kaum intoleran? Kalau begini, apakah toleransi bisa hilang dalam diri masyarakat Indonesia?