Pendidikan menurut perspektif filsafat kritis adalah alat terbaik dan cara paling ampuh dalam proses menguasai manusia. Pendidikan dapat menjadi medium penjinakan manusia yang efektif demi dapat mengontrol dan menggerakkannya untuk tujuan tertentu. Sehingga sebenarnya, pendidikan dapat digunakan sebagai senjata ideologi apa pun, baik senjata revolusioner maupun senjata legitimatif status quo.

Tentu ini tergantung pada siapa dan bagaimana sistem pendidikan itu didesain. Kurikulum atau sistem pendidikan menjadi kunci ke mana pendidikan diarahkan. 

Misalnya, ketika pendidikan sepenuhnya dikendalikan oleh penguasa, maka pendidikan dapat digunakan sebagai alat penjinakkan. Murid sengaja dididik untuk menjadi pribadi yang taat dan pasif agar tidak melawan penguasa. Ibarat sebuah sekolah sirkus, para binatang yang awalnya liar dan mandiri dapat dikontrol oleh guru (baca: pawang) melalui proses pendidikan (training). 

Melalui kurikulum atau sistemlah pendidikan dikendalikan. Kurikulum kemudian diturunkan kepada guru sebagai eksekutor lapangan dalam membentuk murid sesuai dengan pesanan.

Secara terstruktur, sistematis, dan masif, pendidikan dikemas dan dijadikan sebagai alat di luar kesadaran peserta didik demi mencapai kepentingan politik tertentu. Seperti itulah pendidikan berjalan. Sehingga format atau model pendidikan yang diselenggarakan dapat menentukan output dan outcome bagi pembangunan manusia pada sebuah negara dan peradaban.

Membaca Realitas Pendidikan Kita

Selama ini, sebagian besar model pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada sistem sekolah (the schooling society) daripada model pendidikan yang berorientasi pada pembentukan lingkungan sosial pembelajaran (the social life learning).

Dampaknya adalah pengetahuan-pengetahuan yang diajarkan di sekolah hanya terwujud sebagai basis pengetahuan saja, belum mencapai pada tahapan internalisasi praksis sebagai basis penghayatan yang menumbuhkan etos dan etik sosial.

Model pendidikan semacam ini menimbulkan problem, yaitu menciptakan jurang yang lebar antara kegiatan pembelajaran di sekolah dengan realitas dunia kerja. Situasi pendidikan ini menyebabkan kaum terdidik seakan gagap terhadap realitas kehidupan karena mereka tidak memiliki cukup keterampilan untuk menguasai akses dunia kerja.

Padahal akan ada proses transisi setiap waktu dalam suatu struktur nilai dan norma kehidupan masyarakat. Mengakibatkan kaum terdidik terkadang tidak siap dan tidak memiliki cukup kecakapan dalam menghadapi perubahan tersebut. 

Ini kemudian menciptakan suatu kondisi kevakuman (kekosongan) dan keterasingan sosial yang membuat mereka dihinggapi semacam anomi. Mereka menjadi sosok-sosok yang mengambang secara sosial meski dengan tingkat intelektualitas normatif yang dalam.

Pendidikan yang notabene lebih mengajarkan hal-hal yang bersifat normatif membentuk peserta didik kehilangan kemampuannya untuk menerjemahkan pengetahuan ke dalam realitas kerja. Ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang statis dan cenderung imitatif atas pengetahuan serta pengalaman guru. 

Karena dalam sistem pendidikan seperti ini, guru ditempatkan sebagai satu-satunya subjek yang Mahatahu sehingga wajib menjadi corong pengetahuan dan segala pengetahuannya harus dijiplak.

Peserta didik lantas ditempatkan sebagai objek (penerima) dan guru adalah mutlak subjek (pemberi). Guru menjadi semacam penabung ilmu pengetahuan yang setiap harinya menanamkan saham kepada peserta didik. Guru pun akhirnya sangat ambisius dalam menghasilkan kaum terdidik yang serba tahu, paripurna, tetapi justru terjebak pada absennya keahlian tertentu yang dikuasai secara mendalam.

Kebanyakan dari para guru hanya menyajikan pengetahuan dalam bentuk “produk jadi” terlepas dari cara-cara metodologis yang kreatif dan inovatif dalam memproduksi pengetahuan baru. Sementara realitas pengalaman guru yang menopang pengetahuannya tentu akan berbeda dengan realitas kehidupan yang akan dijalani oleh peserta didik nantinya.

Inilah yang disebut sebagai pendidikan reproduktif. Sistem pendidikan yang hanya menyediakan pengetahuan secara berulang-ulang tanpa ada proses dialog-kritis dan penyesuaian terhadap realitas kontemporer. 

Imbasnya, kaum terdidik akan mengalami sindrom anomali ilmu pengetahuan, yakni suatu kondisi di mana mereka telah mengalami kedewasaan intelektual, tetapi belum dewasa secara sosial dan emosional.

Pendidikan Konsumtif

Sangat disayangkan memang ketika mengetahui bahwa sistem pendidikan kita lebih bersifat konsumtif. Dalam artian, peserta didik dipaksa untuk menyantap semua pengetahuan yang telah dihidangkan oleh kurikulum. 

Bahkan mereka dipaksa dan dijejali pengetahuan “asing” yang tidak berkaitan dengan kepentingan diri, lingkungan alam dan budaya, serta kebutuhan hidupnya sebagai manusia. Mereka (di)tenggelam(kan) dalam kubangan kebisuan dan kesunyian realitas.

Pendidikan konsumtif difungsionalkan sebagai cara untuk membentuk manusia sebagai mesin-mesin baru yang bernyawa. Menjadikan mereka lebih menyukai menerima daripada memproduksi, lebih gemar meniru daripada berinovasi, dan lebih percaya diri “membebek” daripada berinisiatif.

Sialnya, pola-pola pendidikan konsumtif ini memberikan dampak yang tidak kecil bagi generasi terdidik. Mulai dari matinya daya kreativitas dalam mengonsepsi realitas kerja, semangat petualangan diri yang sempit, hingga keberanian bereksplorasi dan daya juang yang menjadi sangat lemah.

Inilah kemudian yang menyebabkan terbentuknya jiwa-jiwa pasif yang memiliki daya saing rendah. Mereka tidak cukup memiliki mentalitas yang tinggi bertarung dalam persaingan global. Cenderung berputus asa dalam melawan tantangan dan hambatan. Serta mengalami ketumpulan naluri dalam berinovasi kerja.

Gambaran ini menjadi tamparan bersama bagi kita dalam mengelola dan menyelenggarakan sistem pendidikan di Indonesia. Maka kita membutuhkan tangan-tangan kreatif dan berani dalam menggalang kerjasama untuk memperbaiki sistem pendidikan kita.

Artinya, menyelesaikan problem pendidikan tidak bisa hanya dilakukan secara individual maupun institusional. Dibutuhkan bentuk-bentuk kerjasama dialogis dan kritis, terutama dengan masyarakat sebagai subjek pendidikan. Penyelesaian problem pendidikan pada akhirnya tetap harus diberangkatkan dari realitas kebutuhan masyarakat kontemporer.