"Seorang anak kecil akan butuh dua sampai tiga tahun untuk belajar berbicara. Namun, seorang manusia akan menggunakan seumur hidupnya untuk berbicara dengan baik."

Saya percaya, setiap orang atau setidaknya salah satu di antara kita yang sering berkumpul dengan orang-orang terdekat di suatu tempat, misalnya, sering dan tanpa sadar berbicara (lantas kemudian tertawa) dengan spontanitas seperti seorang balita yang sedang belajar menggunakan huruf-huruf dan kata-kata. Spontanitas ini mereduksi kehadiran subyek dalam tutur seperti yang diagung-agungkan oleh Ferdinand De Saussure, Bapak linguistik modern, sebagaimana juga Plato serta Socrates, yang kedua-duanya adalah filsuf raksasa di masa lalu.

Sebelum lebih lanjut, ada baiknya saya ceritakan sebentar kisah lain yang sebenarnya perlu saya sampaikan di sini.

Pertama, saya adalah anak yang lahir dan tumbuh dari keluarga yang cenderung konservatif, yang jujur saja tetap awet seperti itu hingga hari ini. Maka dari itu, saya nyaris asing dengan dialog-dialog terbuka antara ayah dan anak, ibu dan anak, atau sebaliknya, hubungan saling silang di dalamnya.

Sehingga jika Anda ada di posisi saya, bayangkanlah pertalian kisah antara seorang raja dan seorang pangeran serta seorang selir yang di tiap-tiap diri mereka terdapat masing-masing kepentingan terselubung, maka Anda akan mudah memasuki dimensi konservatif yang saya maskudkan tadi.

Saya tumbuh sebagai remaja yang nyaris tak banyak bicara pada siapa pun. Termasuk pada teman sejawat di sekitar tempat tinggal kami, termasuk juga di lingkungan tempat saya mengenyam pendidikan dasar hingga menengah atas. 

Meski nyaris tak banyak omong, namun saya adalah tipe pemuda yang sering tertawa, bahkan tawa saya termasuk satu dari dua tawa yang terburuk yang pernah saya dengar sendiri dengan telinga saya. Hal yang kemudian saya sadari sebagai upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa situasi seperti itu tak pernah saya dapatkan di dalam rumah, terutama di depan orang tua saya sendiri.  

Keadaan ini memaksa saya untuk melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan sebagai seorang anak kepada orang tuanya, termasuk mogok makan. Ini serius, meskipun sebelum hal nekat itu saya lakukan di tengah-tengah situasi yang membuat saya nyaris depresi, saya pernah melakukan kegilaan dengan mengirim surat permohonan pada tetangga saya sendiri, sambil berharap mereka bisa memberi pertolongan atas kedinginan suhu percakapan yang terbangun di dalam keluarga kecil kami waktu itu. 

Kedua, sebagai pimpinan organisasi mahasiswa, yang tanpa sengaja terpilih secara serampangan oleh orang-orang yang mungkin sudah menjebak saya sejak awal dalam forum pemilihan ketua, saya nyaris tak pernah melakukan hubungan timbal balik yang sehat dalam masa-masa kepemimpinan saya. 

Sebagaimana seorang pemimpin pada tiap-tiap pribadi yang ia pimpin. Hal ini memicu banyak sekali konflik, yang berakhir sebagai drama dimana saya menjadi musuh bersama orang-orang yang dulu pernah mempercayai saya bisa membawa mesin organisasi jadi lebih baik dari sebelumnya. 

Saya lebih banyak menghabiskan waktu-waktu dengan membaca buku, berdiskusi, membaca lagi, kemudian berdiskusi lagi. Bisa dibilang, dalam hal pertama saya aktif sebagai pembaca yang tidak bosan-bosannya menerapkan strategi membaca yang pernah ditawarkan oleh Kwik Kian Gie dalam tulisannya di salah satu bukunya -yang maaf saya lupa judulnya apa. 

Sementara pada bagian kedua, saya lebih banyak menjadi anggota pasif yang duduk manis di pojok ruangan sambil memegang pena dan selembar kertas, serta rajin mencatat tanpa sekalipun pernah bertanya. Bahkan untuk hal-hal yang tidak saya mengerti dalam diskusi-diskusi tersebut, yang kemudian menyeret saya kembali tenggelam dalam lembar demi lembar buku-buku bacaan, yang saya maksudkan untuk mengobati rasa penasaran saya tadi.

Ketiga, sebagai seorang kekasih bagi seorang perempuan yang menganggap saya lelaki paling tampan di negeri ini, bagi saya, kata-kata adalah kunci utama sebuah hubungan agar tidak lekas kandas ditengah laut. Cinta dan kasih sayang hanya soal yang berada di nomor ke-28, jika tidak ingin dibilang soal yang sama sekali tidak penting untuk disebutkan di sini.

Kata-kata adalah akar penghubung antara dunianya dan dunia saya. Setidaknya begitu hingga hari ini. Tanpa kata-kata, kami hanya sepasang 'kera' yang suka bercumbu dan sering kali tertawa bersama.

Namun, sebagaimana saya yang tumbuh sebagai pribadi yang nyaris tak pernah mendapat asupan untuk bisa berbicara dengan gaya retorik di depan umum, akhirnya hubungan kami berakhir mengerikan. Meski tidak benar-benar karam di tengah laut, namun kisah kami mandeg dengan frekuensi yang begitu-begitu saja. Hingga akhirnya saya dia sebut sebagai manusia paling tidak romantis dan kekurangan bahan sanjungan.   

Keempat, sebagai bagian dari masyarakat modern, saya sadar, saya adalah satu dari sekian ratus irisan kumpulan orang di luar sana yang kurang pandai berinteraksi dengan sesama warga. Namun, menjadi seorang yang pendiam di tengah ingar bingar dunia seperti sekarang ini, bisa saja menyeret saya dalam status sebagai warga yang perlu diwaspadai gerak-geriknya. 

Karena semakin ke sini, semakin saya yakin. Kita -khususnya di negeri ini- adalah jenis manusia yang lebih mudah tersinggung karena kata-kata daripada tindakan. Yang jangankan dengan kata-kata 'pelecehan' sebab dengan kita diam saja bisa membuat satu dua orang disekitar kita jadi merasa direndahkan, atau seolah-olah tak diindahkan kehadirannya.

Namun, sebagaimana dikatakan Jaques Derrida yang diartikan sebagai pesan sebelum kematiannya, "Aku-adalah-sebuah-problem-yang-belum-selesai"Setiap proses penciptaan kata-kata dalam tulisan adalah untuk mereduksi kehadiran sang penutur (subyek). 

Berbeda dengan Saussure yang mempertahankan enigmanya, bahwa setiap kata dalam aksara digunakan hanya sebagai media yang menjembatani makna antara yang menutur dan yang menangkap tuturan (mendengarkan). 

Sang penutur akan menyebar atau lebih tepatnya melebur ke dalam tulisan sebagai semesta tanda, dan tidak lagi menjadi kesatuan utuh sebagaimana yang dipegang erat namun cukup malu-malu oleh Saussure. Yang dengan begitu, maka indikasi untuk merenggut pribadi dalam kata-kata tulisan akan sangat sulit dilakukan oleh pembaca. 

Setiap penulis bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Melebur sebagai tanda di mana setiap seseorang yang hadir sebagai pembaca akan membayangkan banyak pribadi (bukan hanya satu) yang tidak terikat dalam satu makna tunggal. 

Di luar dari itu, kata-kata bagi saya sangat mempengaruhi setiap perubahan besar yang terjadi di dunia. Dahulu, dapat kita baca dari buku-buku sejarah, bahwa pidato tokoh-tokoh besar dunia seperti Soekarno, Napoleon Bonaparte, Abraham Lincoln, hingga Franklin De Roosevelt, mampu mengubah dunia dengan kata-katanya, dalam pidato-pidato mereka.

Namun kini, coba saksikan bagaimana setiap manusia menggunakan kata-katanya. Bagaimana kata-kata bekerja hari ini. Bukan lagi sekadar menyampaikan makna, tanda, ataupun -seperti kata Saussure- mempertegas kehadiran, melainkan berubah serupa pisau bahkan pedang yang mampu memicu perang di mana-mana.

Bisa dipastikan, andaipun terjadi, maka perang dunia ke-3 bakal dipicu oleh kata-kata, bukan lagi oleh sumber daya alam, manusia maupun tekhnologi. Dan bisa jadi demikian jika kita tak menjaga kata-kata sejak dini.