Beberapa tahun yang lalu saya pernah menjadi korban gaslighting tanpa sadar yang mempengaruhi saya mengambil keputusan yang lumayan fatal. Kejadian ini berlangsung saat saya berada di masa percobaan pegawai baru. Setelah melakukan 3 bulan masa percobaan,  atasan menilai saya berhak atau tidak diangkat menjadi karyawan kontrak. Saat saya hampir menyelesaikan masa percobaan itu, saya mendapat pertanyaan yang membingungkan dari atasan saya.

“Nilai kamu di masa percobaan ini kurang memuaskan, mungkin kamu susah buat dijadikan karyawan kontrak, menurutmu kamu gimana? Mau meneruskan atau tidak?” Seketika itu saya menjadi bingung, ini sebenarnya saya mau diapakan? Saya ada di posisi mana? lulus atau tidak? Kenapa saya yang menentukan?

Terus saya jadi kepikiran, mungkin berhubung karena perusahaan tidak bisa mengeluarkan saya, mungkin ini trik agar saya mengundurkan diri. Karena merasa tidak terlalu percaya diri bisa menjadi karyawan yang lebih baik di mata mereka, saya pun bilang “saya mundur saja” eh tapi? Muka si bos sekilas langsung berubah cemas. Atasan saya langsung cepat menanggapi “saya bisa memberi kamu kesempatan lagi, yang penting kamu ikutin apa kata saya”.

Lah? Ini gimana? Sebenarnya saya mau dikeluarkan atau tidak? Saya masih dibutuhkan atau tidak? Di waktu singkat saya mengalami perang batin yang cukup intense mau mengambil keputusan apa. Tapi karena saya orangnya mudah ciut nyalinya, saya jadi memutuskan mundur saja. Walaupun dibujuk lagi dengan kata-kata “nanti saya ajari kamu supaya bisa lebih baik lagi” tidak bisa membuat mental saya yang hancur berdiri lagi.

Kasus di atas adalah salah satu contoh pengalaman saya saat mengalami gaslighting. Apa itu gaslighting? yaitu kekerasan psikologis yang membuat kita mempertanyakan pikiran dan cara pandang kita, bisa dibilang merupakan salah satu trik manipulasi. Siapa saja bisa mengalami gaslighting khususnya terjadi dalam hubungan di mana ada kekuasaan yang tidak seimbang bisa hubungan keluarga, percintaan, pertemanan, pekerjaan, dll.

Siapa saja bisa menjadi pelaku gaslighting tapi lebih khusus biasanya adalah abusers, narcissists, dictators, dan control freak. Sebenarnya apa motif pelaku gasligting ini? kenapa memanipulasi orang lain? Mungkin salah satu alasan mereka yaitu ingin menjadi orang yang berkuasa atas diri kita. Mereka ingin mengontrol kita dengan tujuan untuk membuat korban mempertanyakan realita mereka, mempengaruhi pendapat dan pikiran juga memanipulasi tindakan korban sesuai keinginan pelaku gaslighting. Juga menjadikan korban merasa lemah sehingga merasa bergantung kepada pelaku.

Biasanya yang melakukan gaslighting adalah orang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dari korbannya. Saya tidak tahu apakah orang yang memanipulasi itu sadar kalau dia itu sedang memanipulasi orang lain? dan apakah korban juga sadar kalau dia sedang dimanipulasi? saya jujur baru sadar sekarang ini padahal kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu lamanya.

Sebenarnya apa yang diinginkan atasan saya waktu itu? Apakah dia ingin memperlihatkan kekuasaannya bahwa dia sanggup memberikan saya kesempatan walaupun nilai review masa percobaan saya jelek? Sehingga dia gampang mengontrol saya sesudahnya jika saya jadi mengambil donasi kesempatan kedua dari dia.

Terus terang saya bingung sekali dengan permainan pikiran seperti ini apalagi melibatkan hal yang lumayan penting bagi saya waktu itu. Saya sesekali berpikir apa susahnya atasan saya berterus terang memberi tahu keinginannya waktu itu? Mungkin saya bisa mengambil keputusan yang berbeda juga. Dan jika memang saya mengambil keputusan yang sama pun, mungkin saya bisa menerima kekalahan lebih ikhlas daripada terus mempertanyakan kemampuan dan posisi saya disana, melemahkan mental saya.

Jika saja atasan saya mau berterus terang ingin membuat saya berkerja lebih baik lagi, saya mungkin akan mengambil kesempatan kedua itu dengan percaya diri juga. Seperti diberi semangat bahwa bos saya melihat potensi dan saya merasa dibutuhkan.

Ada perbedaan reaksi saat kita sedang dipermainkan dengan gaslighting ini yaitu keputusan kita tetap menuruti kemauan si manipulator atau kita menolak manipulasi mereka. Lalu apa yang membuat kamu menolak pelaku gaslighting? Apa karena kamu merasa tidak mampu lalu menyerah? Atau karena kamu merasa mereka membuatmu semakin tertekan jadi kamu melangkah pergi dari mereka?

Kalau dalam kasus saya yang paling atas yaitu karena saya merasa tidak mampu atau tidak merasa percaya diri sehingga memilih mundur daripada terus berusaha memberikan apa kemauan si pelaku gaslighting ini. Dan apa yang membuatmu menuruti kemauan pelaku gaslighting? Apa karena kamu tidak ingin kehilangan mereka? atau kamu takut dinilai rendah oleh mereka? atau kamu takut mereka mengumbar rahasiamu? atau takut mereka menjadi musuhmu?

Perilaku gaslighting ini susah dikenali dan yang paling penting susah dibuktikan. Itulah kenapa sering terjadi tanpa disadari. Sebagai orang yang lebih menjunjung tinggi kejujuran saya lebih berharap lingkungan kita dipenuhi dengan orang yang jujur dan berterus terang tanpa perilaku manipulasi. Sehingga tidak ada posisi yang lebih lemah bisa menjadi korban. Semoga harapan saya tidak kedengaran muluk.