Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasari oleh kebebasan dan upaya mencari eksistensi diri seorang perempuan untuk mendapatkan hak-haknya yang setara dengan laki-laki agar bebas dari bentuk diskriminasi, eksploitasi dan ketidakadilan dalam setiap bidang kehidupan.

Feminisme membawa tema kebebasan sebagai hak dasar yang dimiliki oleh semua manusia. Kebebasan yang dimiliki oleh perempuan mencakup dalam terlibat dalam segala bidang kehidupan, misalnya kebebasan dalam bidang Pendidikan, Politik, Ekonomi, dan Lembaga kemasyarakatan.

Dengan gerakan Feminisme, perempuan bisa mengakses pendidikan yang sama dengan laki-laki, perempuan aktif dalam politik baik di desa, kabupaten, provinsi atau pun dalam tingkat nasional; perempuan juga terlihat menempati posisi strategis dalam suatu kelembagaan. Intinya melalui feminisme perempuan telah dijamin hak-haknya yang setara dengan laki-laki.

Meskipun demikian Feminisme memiliki sisi negatif terselubung yang harus mendapatkan perhatian serius. Ada beberapa aliran Feminisme membawa tema kebebasan yang berbahaya bagi tatanan suatu masyarakat. Aliran Feminisme tersebut adalah penentang institusi keluarga, padahal keberlangsungan tatanan dalam suatu masyarakat sangat bergantung pada kekuatan suatu keluarga.

Misalnya Feminisme Sosialis yang mempunyai tujuan menghilangkan atau menghancurkan institusi keluarga dengan tujuan agar masyarakat eg aliter dapat tercipta. Juga ada feminisme radikal yang menentang adanya keluarga inti sebagai institusi yang mewajibkan Heteroseksual dan menganjurkan pilihan kebebasan akan Homoseksual. Selain itu, juga ada aliran feminisme kubu radikal libertarian yang mendukung pornografi dengan dalil bentuk kebebasan ekspresi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat perceraian di Indonesia terus meningkat. Pada 2015 angka pasangan suami istri bercerai (hidup) sebanyak 5,89 persen atau sekitar 3,9 juta dari total 67,2 juta rumah tangga. Sedangkan pada 2020 persentase perceraian meningkat menjadi 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

Data dan realitas menunjukan bahwa kasus keretakan keluarga dan perceraian meningkat. Hal ini menunjukan bahwa misi atau slogan yang digaungkan feminisme tidak memberikan dampak yang positif. Malah sebaliknya menciptakan masalah yang semakin kompleks yaitu anak yang menjadi korban penelantaran yang berimplikasi pada anak-anak yang terjerumus pada narkoba, hamil di luar nikah, aborsi, pergaulan bebas dan tindakan kriminalitas.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2020 menyebutkan ada dua juta kasus aborsi setiap tahunnya dan 30 persen dilakukan oleh kalangan remaja dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan kasus hamil di luar nikah (Viva.co.id, 2020). Sedangkan pada kasus penggunaan narkoba di kalangan remaja semakin meningkat sebesar 24 hingga 28 persen di tahun 2019 dimana pada tahun sebelumnya hanya sebesar 20 persen (PUSLITDATIN BNN, 2019).

Penghancuran atau penghapusan institusi keluarga adalah suatu langkah yang keliru dalam feminisme. Harus diketahui bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi moral bangsa. Gerakan Indonesia Beradab (GIB) dalam Nisa (2018: 408) mengemukakan bahwa salah satu faktor penyebab degradasi moral bangsa adalah rapuhnya ketahanan keluarga. Ketika ketahanan keluarga rapuh maka akan memperburuk perilaku atau moral anak.

Selain membawa misi penghancuran institusi keluarga, kebebasan yang menjadi dalil dalam feminisme, telah mempengaruhi perempuan dalam memanfaatkan dan dimanfaatkan bagian-bagian paling berharga untuk iklan dan pornografi dalam media yang kita lihat hari ini. Perempuan bukan lagi menjadi bagian yang setara dengan laki-laki tapi masih menjadi bagian yang terus dieksploitasi untuk benefit pihat tertentu.

Adanya kontes kecantikan adalah salah bentuk ekspolitasi tubuh perempuan. Menurut Naomi Wolf hadirnya kontes kecantikan ini tidak terlepas dari kebohongan vital dalam “ideologi kecantikan” yakni kecantikan dapat diperoleh oleh setiap perempuan melalui hiburan dan kerja keras. Melalui kontes kecantikan ini sebenarnya tubuh perempuan dijadikan komiditi yang diperjualbelikan seperti “benda”. Hal ini bertolak belakang dengan gagasan awal Feminisme sebagai perjuangan hak perempuan agar bebas dari segala bentuk diskriminasi dan eksploitasi.

Dr. Syarifah dalam Umar (2005: 208) menyatakan bahwa perempuan telah dijadikan alat kampanye untuk meningkatkan penjualan barang produksi dalam pemasaran. Ironisnya, posisi seperti ini dibanggakan sebagai lambang kebebasan dan kemodernan. Didasari dengan kebebasan yang keliru, perempuan menjadi bagian yang tidak bedanya dengan sebelum kesetaraan itu digaungkan dan perempuan tetap berada dalam posisi yang termarginalkan.

Belum lagi pornografi yang didukung oleh beberapa aliran feminisme sebagai bentuk ekspresi kebebasan perempuan. Pornografi bukan saja menurunkan derajat perempuan tetapi juga laki laki sebagai manusia yang terlibat didalamnya. Pornografi adalah suatu kebebasan yang kebablasan dalam feminisme.

Di lain sisi, keterlibatan dan pemenuhan hak perempuan dalam karier sebagai hasil dari feminisme telah menjadikan perempuan bahkan lebih fokus ke karier. Hal ini sebagai implikasi dari propaganda feminisme bahwa perempuan sukses adalah perempuan yang berkarier. Bahkan perempuan dengan dalil mengatakan bahwa mereka bisa membagi waktu namun kenyataannya karir telah membuat keluarga menjadi terbengkalai. Dalam artian kondisi ini telah menempatkan perempuan dalam konflik, yaitu antara karier dan peran keibuannya dalam keluarga.

Dari penjabaran di atas, feminisme harus didefinisikan kembali kepada tujuan awal sebagai upaya memperjuangkan hak perempuan yang harus diperlakukan layak, dijamin hak-haknya misalnya dihormati, dijaga, dilindungi dari bentuk diskriminasi dan eksploitasi apa pun tanpa merusak suatu tatanan masyarakat. Perempuan harus diakui sebagai bagian yang sangat sangat penting dalam tatanan masyarakat dan bangsa dengan memiliki peran sebagai ujung tombak dalam sebuah keluarga. Dimana keberhasilan revolusi mental suatu bangsa harus menempatkan perempuan sebagai ujung tombak dalam keluarga.

Oleh karena itu, propaganda bahwa perempuan sukses adalah perempuan karier harus dihilangkan. Dalam artian kesuksesan perempuan tidak terbatas pada hal karier tetapi sangat ditentukan pada tugas mulia di dalam keluarga. Peran perempuan harus kembali dimaknai yang sebenarnya dalam keluarga, dimana kualitas suatu masyarakat dan bangsa yang kuat ditentukan oleh peran yang kuat seorang ibu atau perempuan dalam keluarga. Perempuan dalam keluarga adalah tulang punggung moral suatu bangsa.

Mendefinisikan kembali feminisme seperti tujuan awalnya penting dilakukan agar perempuan tidak keliru menggunakan kebebasan untuk memilih antara karier atau menjadi ibu dalam keluarga. Kekeliruan perempuan dalam menyepelehkan tugas mulia yang utama dan mengagungkan “propaganda pihak-pihak tertentu” akan berdampak pada suatu masyarakat kehilangan keluarga dimana peran seorang ibu benar-benar ada di dalamnya. Perempuan dipropagandakan bahwa mereka “bukan apa-apa” ketika menjadi ibu rumah tangga. Padahal kualitas suatu masyarakat dan bangsa yang kuat ditentukan oleh peran yang kuat seorang ibu atau perempuan dalam keluarga.

Akhir kata penulis sepakat dengan seorang lulusan S2 yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga untuk mendidik anak-anaknya karena tidak ingin anaknya diasuh oleh mereka yang pendidikan dan pengetahuannya di bawahnya. Karena ia percaya bahwa kualitas seorang anak akan menjadi terbaik ketika mereka diasuh dan dididik oleh orang terbaik.