Suku Tolaki adalah etnis terbesar yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Suku ini merupakan etnis yang berdiam di jazirah tenggara pulau Sulawesi. 

Suku Tolaki merupakan suku asli daerah Kota Kendari, dan Kabupaten Kolaka. Suku Tolaki tersebar di 7 kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur.

Jati diri—atau yang lazim juga disebut identitas—merupakan ciri khas yang menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu suku bangsa. Jika ciri khas itu menjadi milik bersama suatu suku bangsa, hal itu tentu menjadi penanda jati diri daerah tersebut. 

Seperti halnya suku lain di Indonesia, Suku Tolaki juga memiliki jati diri yang membedakannya dari suku yang lain di Indonesia. Jati diri itu sekaligus juga menunjukkan keberadaan Masyarakat Tolaki di antara Masyarakat lain. Salah satu simbol jati diri orang, atau suku Tolaki adalah bahasa, dalam hal ini tentu bahasa Tolaki.

Setiap bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Tolaki juga merupakan simbol jati diri kelompok, masyarakat atau orang tolaki. Oleh karena itu, bahasa Tolaki harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan, dan secara terus-menerus harus kita bina dan kita kembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan suku dan budaya kita dari berbagai suku budaya di Indonesia. 

Lebih-lebih dalam era global seperti sekarang ini, jati diri suatu kelompok masyarakat ataupun suku bangsa menjadi suatu hal yang amat penting untuk dipertahankan agar kita tetap dapat menunjukkan keberadaan kita di antara suku dan budaya lain di Indonesia. Namun, bagaimana kondisi kebahasaan kita sebagai jati diri kita saat ini?

Kalau kita lihat secara cermat, kondisi kebahasaan, khususnya Bahasa Tolaki saat ini, cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa tolaki di kalangan masyarakat kita sendiri. Anak-anak dan generasi muda kita sudah jarang berbahasa tolaki dalam kesehariannya, bahkan tidak tahu sama sekali berbahasa tolaki padahal mereka terlahir dari ibu-bapak orang tolaki dan besar di lingkungan masyarakat yang mayoritas suku Tolaki. 

Begitu pula penggunaan bahasa tolaki di tempat umum, seperti pada nama bangunan, dan lain sebagainya. Itu mulai banyak yang menggunakan bahasa yang tidak lagi menunjukkan jati diri kedaerahan. Akibatnya, wajah Tolaki sebagai sebuah suku dan budaya menjadi tampak asing di mata masyarakatnya sendiri. Kondisi seperti itu harus kita sikapi dengan bijak agar kita tidak menjadi asing di daerah sendiri.

Di sisi lain, kita juga melihat sikap sebagian masyarakat yang tampaknya merasa lebih hebat, lebih bergengsi, jika dapat menyelipkan beberapa "kata asing" dalam berbahasa Tolaki, padahal kosakata asing yang digunakannya itu ada padanannya dalam bahasa Tolaki. Sikap yang tidak “menjunjung bahasa Tolaki harus kita kikis karena kita harus mengutamakan penggunaan bahasa Tolaki sebagai simbol jati diri kita sebagai orang Tolaki.

Tidak seharusnya kita membiarkan bahasa Tolaki larut dalam arus komunikasi global yang sehingga redup, hilang dan asing bagi orang Tolaki. Jika hal seperti itu kita biarkan, tidak tertutup kemungkinan jati diri ketolakian kita sebagai suatu suku bangsa akan pudar, bahkan tidak tertutup kemungkinan terancam larut dalam arus budaya global. 

Jika hal itu terjadi, jangankan berperan di tengah kehidupan global, menunjukkan jati diri kedaerahan kita sebagai suatu suku bangsa pun kita tidak mampu. Kondisi seperti itu tentu tidak akan kita biarkan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya agar jati diri suku dan budaya kita tetap hidup di antara suku dan budaya lain di Indonesia.

Dalam konteks kehidupan global seperti itu, bahasa Tolaki sesungguhnya selain merupakan jati diri, sekaligus juga merupakan simbol kedaulatan adat istiadat, budaya dan daerah kita. 

Selain bahasa, sastra Tolaki juga merupakan bagian dari simbol jati diri kedaerahan. Hal itu karena sastra pada dasarnya merupakan pencerminan, ekspresi, dan media pengungkap tata nilai, pengalaman, dan penghayatan masyarakat terhadap kehidupan sebagai suatu suku bangsa. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terungkap dalam karya sastra Tolaki pada dasarnya juga merupakan pencerminan dari jati diri kedaerahan. 

Oleh karena itu, sebagai suatu simbol jati diri kedaerahan, bahasa dan sastra Tolaki juga harus kita jaga dan kita pelihara untuk menunjukkan jati diri dan kebanggaan kita sebagai suku tolaki.

Selain terungkap dalam simbol bahasa dan sastra, jati diri kita tercermin pula dari kekayaan seni budaya, adat istiadat atau tradisi, tata nilai, dan juga perilaku budaya masyarakat. 

Terkait dengan itu, budaya Tolaki amat kaya akan keragaman seni budaya, adat istiadat atau tradisi, dan juga tata nilai dan perilaku budaya. Tolaki sebagai unsur kekayaan budaya bangsa, seni budaya, adat istiadat, tradisi, tata nilai, dan perilaku budaya perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai simbol yang dapat mencerminkan jati diri kedaerahan, baik dalam kaitannya dengan jati diri lokal maupun jati diri nasional.

Satu hal lagi yang dapat menjadi simbol jati diri adalah kearifan lokal. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang merupakan pencerminan sikap, perilaku, dan tata nilai komunitas pendukungnya. Kearifan lokal itu dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat, yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah, tembang, permainan, syair, kata bijak, dan berbagai bentuk lain. 

Kearifan lokal itu sarat nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masa kini yang dapat memperkuat kepribadian dan karakter masyarakat, serta sekaligus sebagai penyaring pengaruh budaya dari luar.

Sebagai simbol jati diri kedaerahan, bahasa dan budaya Tolaki harus terus dikembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi resmi bagi Masyarakat Tolaki dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, mutu penggunaannya pun harus terus ditingkatkan agar bahasa Tolaki dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif dan efisien untuk berbagai keperluan. 

Upaya ke arah itu, perlu perangkat hukum berupa peraturan daerah dan bentuk peraturan lainnya guna memperoleh landasan hukum yang kuat dalam membangun, menjaga dan melestarikan budaya, adat istiadat dan bahasa Tolaki.

Hal ini sesuai amanat UUD 1945 Pasal 32 ayat 1 berbunyi: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” 

Dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan diundangkan di Jakarta pad 29 Mei 2017 dalam lembaran negara tahun 2017 nomor 104. Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menekankan pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh.

Kebudayaan merupakan investasi masa depan dalam membangun peradaban bangsa. Setiap daerah melalui pemerintahan daerahnya merumuskan pokok pikiran kebudayaan daerah secara lisan, manuskrip, hingga olahraga tradisional. Dalam penyusunan pokok pikiran kebudayaan daerah itu, para budayawan hingga pegiat budaya dan pemangku kepentingan berkumpul dalam rangka memajukan kebudayaan daerahnya.

Untuk itu, diperlukan langkah strategis berupa upaya Pemajuan Kebudayaan melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan guna mewujudkan masyarakat Indonesia sesuai dengan prinsip “Trisakti” yang disampaikan oleh Ir. Soekarno sebagai pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam pidato tanggal 17 Agustus 1964, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam Kebudayaan.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2007, pada Pasal 2 ayat (1) Pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat dimaksudkan untuk memperkokoh jati diri individu dan masyarakat dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. 

Ayat (2) Pelestarian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mendukung pengembangan budaya nasional dalam mencapai peningkatan kualitas ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada konteks Pasal 2 PERMENDAGRI No 52 Tahun 2007 inilah adanya korelasi antara pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat dengan negara, dalam hal ini mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Dalam menjalani kehidupan pada era global saat ini, jati diri lokal tetap merupakan suatu hal yang amat penting untuk dipertahankan agar kita tetap dapat menunjukkan keberadaan kita sebagai suatu bangsa. Jati diri itu sama pentingnya dengan harga diri. Jika tanpa jati diri, berarti kita tidak memiliki harga diri. 

Atas dasar itu, agar menjadi suatu kelompok masyarakatyang bermartabat, jati diri kedaerahan itu harus diperkuat, baik yang berupa bahasa dan sastra, seni budaya, adat istiadat, tata nilai, maupun perilaku budaya dan kearifan lokalnya.

Untuk memperkuat jati diri itu, diperlukan peran serta berbagai pihak dan dukungan aturan serta sumber daya yang memadai. Peran serta keluarga, masyarakat juga sangat diperlukan dalam memperkuat jati diri kedaerahan itu. 

Kita tidak boleh kehilangan jati diri ketolakian kita agar kita tidak tercerabut dari akar budayanya. Dengan jati diri yang kuat, masyarakat kita akan makin bermartabat sehingga mampu berperan—bahkan juga bersaing—dalam kancah kehidupan global.

Mari “Samaturu Mepekoasso” menjaga, melestarikan dan memperkuat jati diri Ketolakian kita Secara Kolektif sehingga adat istiadat dan budaya kita tetap lestari. Kebersamaan, kegotongroyongan, persatuan dalam masyarakat adat terus berkembang. 

Hal yang kecil dapat kita lakukan adalah membiasakan anak anak kita untuk terbiasa berbahasa tolaki serta mengajarkan mereka tentang nilai-nilai tradisi, adat, budaya suku Tolaki yang berlaku dan dipatuhi. Anak anak kita adalah generasi penerus sekaligus pewaris adat, tradisi dan budaya Tolaki di masa mendatang.