Tour operator
3 minggu lalu · 2703 view · 4 min baca · Budaya 74966_86886.jpg
Tari Tua Retalou dari Maumere, Flores (Foto: Veronika Nainggolan/Kompasiana)

Bahasa Sanskerta dan Kesadaran Manusia

Yang khas dari pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dulu itu menghafal peribahasa. Setidaknya ini pengalaman kami di NTT. Salah satu ungkapan yang mudah diingat ialah “bahasa menunjukkan bangsa.” Artinya, tutur kata dan cara bahasa menunjukkan kualitas pikiran, budi pekerti, dan watak kita.

Saya suka belajar bahasa. Kesukaan yang bikin saya lumayan bisa berlisan dengan beberapa bahasa daerah di Flores selain bahasa ibu saya—bahasa Ende. Tentu, pertama-tama saya pakai bahasa Indonesia. Seiring waktu, saya mulai trial and error omong bahasa Lio, Manggarai, Bajawa, dan Maumere.

Bahasa Indonesia mengantar saya menyelami bahasa daerah lain. Di Flores, pulau yang panjangnya cuma sekitar 360 kilometer itu, ada banyak etnis dengan bahasa masing-masing. 

Menurut mendiang Piet Petu, SVD—pastor, penulis, etnolog dan kurator museum Ledalero di Maumere—di sini terdapat 11 bahasa daerah. Tiap etnis punya bahasa dan budaya khas, tergambar pada bentuk rumah adat dan motif tenunan.

Berkat para pemuda pemberani, cerdas lagi spiritual dari berbagai penjuru Nusantara, bahasa Indonesia jadi bahasa nasional. Tekad dan ikrar mereka pada tanggal 28 Oktober 1928 mempertemukan, merekatkan, dan meleburkan pelbagai perbedaan. Manusia beda suku, etnis, kepercayaan, agama dan bahasa mampu melihat kesatuan, esensi, di balik keberagaman.

Maka, jadilah sebuah nation state unik serentak bahasa bernama Indonesia. Sebagai bahasa, ia bukan saja dominan terbangun atas unsur-unsur Melayu, tapi juga Sansekerta. Selain Pancasila, bhineka tunggal ika, tidak terhitung kata Sansekerta yang akrab dalam percakapan dan literasi kita. Beberapa contoh dikemukakan di sini.


Mitra dari kata Sansekerta maitri atau maitreya, berarti sahabat alam semesta. Kita tidak hanya berkarib dengan sesama manusia, tapi juga bermitra dan mengasihi segenap warga kehidupan. 

Para mitra tak seenaknya merusak, tapi hidup harmoni, memperhatikan kesejahteraan sesama dan makhluk lain serta lingkungan dan alam sekitarnya. Menghormati budaya dan nilai-nilai yang membuatnya melihat kesatuan di balik banyak. Menerima nilai-nilai asing yang memperkaya dan memperkokoh, tapi tidak memaksakan budaya dan adat istiadat yang bisa mencabik-cabik harmoni.

Wisuda, etape kelima dalam ilmu yoga, yaitu vishudha chakra. Artinya, pembersihan. Seorang mahasiswa diwisuda dan dinyatakan sarjana sesungguhnya mengalami proses pembersihan. Pendidikan untuk membersihkan manusia dari naluri hewani. 

Wisuda bukan saja pernyataan “lulus” tapi juga “bersih”. Ini yang terlupakan dalam pendidikan, sehingga walau bergelar tinggi kita masih tidak beradab, buas, serakah. Tatanan alam lingkungan, masyarakat, dan negara kacau karena ulah kita.

Buku Wisdom of Sundaland (Anand Krishna, 2012) meluaskan pemahaman saya akan peribahasa tadi. Selanjutnya, untuk diskusi ini, saya kutip secuil isinya yang saya terjemahkan secara bebas. Bahwa bahasa menunjukan derajat peradaban dan kesadaran manusia. 

Buddha (bukan nama seseorang tapi tingkat kesadaran) adalah vibrasi tertinggi dalam kesadaran manusia. Amarah, sumpah serapah, iri, keangkuhan, keserakahan, dan sebagainya berada pada range vibrasi lebih rendah. Kebuddhaan merupakaan keadaan yang dicapai individu, juga kolektif.

Kesadaran atau kebuddhaan buah pencerahan, yang merupakan suatu proses rohani terus-menerus. Warga bumi terdiri dari manusia dengan berbagai tingkat kesadaran. Ini menjelaskan perbedaan sistem sosial, politik, ekonomi, norma, adat istiadat, dan kepercayaan.

Penyebab perbedaan adalah kesadaran mayoritas warganya. Masyarakat yang warganya mayoritas berada pada kesadaran rendah pasti berbeda dari yang mayoritas berkesadaran menengah, tinggi atau tertinggi. Alhasil, produk suatu masyarakat tergantung tingkat kesadarannya. Satu produk penting ini adalah bahasa.

Sansekerta adalah produk kesadaran tinggi masyarakat di wilayah peradaban Sindhu/Indo/Indies. Peradaban ini membentang dari Qandhar, anak benua India, Nusantara dan kini negara-negara ASEAN hingga Astralaya. 

Sir William Jones (1746-1794), filiolog Inggris, mengakui ketinggian nilai Sansekerta dalam pidatonya di Asiatic Society di Kalkuta, India, 2 Februari 1786: Sansekerta adalah bahasa kuno dengan struktur mengagumkan; lebih sempurna dari bahasa Yunani, lebih kaya dari bahasa Latin, dan jauh lebih halus dari keduanya.


Belakangan, peneliti NASA pun menemukan hal yang mengamini Sir Jones. Rick Briggs, sang peneliti, menulis di majalah Artificial Intelligence edisi musim semi tahun 1985:

Banyak waktu, tenaga dan uang yang dicurahkan selama duapuluh tahun terakhir untuk merancang bahasa yang  mewakili bahasa-bahasa alamiah yang unambiguous supaya dapat diakses untuk proses komputer. Ada keyakinan luas bahwa bahasa alamiah (lisan) tidak cocok untuk menyebarluaskan ide-ide seperti yang bisa dilakukan bahasa-bahasa buatan dengan ketepatan dan kepastian matematik. 

Namun, dikotomi yang melandasi kerja-kerja di bidang kebahasaan dan kecerdasan buatan selama ini salah kaprah. Setidaknya ada satu bahasa, yaitu Sansakerta, selama hampir 1000 tahun jadi bahasa lisan yang hidup, dengan banyak karya sastra. Selain itu ada pula tata bahasa dan filsafat yang kuat dan terus bertahan hingga kini.

Vyaas Houston, pendiri American Sanskrit Institute, menanggapi Briggs; 

Ini temuan penting. Mencengangkan, ada bahasa yang telah dilisankan selama 4000-7000 tahun, sempurna dalam berbagai aspek, dirancang untuk komunikasi masyarakat yang sudah tercerahkan. Tapi, yang paling mengagumkan dari temuan ini adalah: NASA, pusat penelitian terdepan di dunia untuk teknologi canggih, menemukan dan mengakui Sansakerta, bahasa spiritual tertua di dunia, satu-satunya bahasa tutur yang tidak ambigu di bumi.

NASA bisa punya penemuan di bidang bahasa? Bisa, karena bahasa, spiritualitas dan teknologi canggih punya kesamaan—yaitu, getaran. Kita hidup dalam semesta yang bergetar. Artificial intelligence dan pikiran, Sansekerta lisan, super komputer dan otak manusia—semua saling terhubung luar dalam. Ini menjelaskan pemakaian kata “web” (jaringan) untuk internet.

Ya, kita semua, warga bumi, saling terhubung. Namun, range getaran menentukan koneksi kita dengan tingkat kesadaran tertentu. Kita tidak bisa saling mempengaruhi bila tidak berada pada kisaran vibrasi yang sama. 

Saatnya menghidupkan kembali semangat dan kebanggaan kita akan budaya, nilai kesindhuan atau keindonesiaan kita. Bila tidak, meski orang Indonesia, kita merasa aneh dengan bahasa Sansekerta, karena tercabut dan terlempar ke getaran yang tidak mengandung DNA budaya dan nilai peradaban asal kita.

Artikel Terkait