Salah satu mufasir Indonesia yang menarik untuk dibicarakan adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang biasa dikenal dengan HAMKA, dengan karya tafsirnya yang monumetal berjudul Tafsir al-Azhar.

Di samping seorang ulama, HAMKA juga dikenal sebagai seorang sastrawan andal yang luar biasa. Hal ini bisa dilihat dengan karya-karya sastra beliau dalam bentuk roman yang dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebut saja seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan lain-lain.

Terkait dengan Tafsir al-Azhar, pada mulanya ia merupakan materi yang di sampaikan dalam acara kuliah subuh yang diberikan oleh HAMKA di Masjid Agung Kebayoran Baru, Jakarta, sejak tahun 1959. Ketika kunjungan Rektor al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut, nama masjid itu diubah menjadi Masjid al-Azhar. 

Penulisan tafsir al-Azhar oleh HAMKA hampir sama dengan Tafsir fi Zhilal al-Qur'an yang ditulis oleh Sayyid Qutb. Kedua tafsir itu sama-sama ditulis dan diselesaikan oleh penulisnya ketika mereka mendekam di penjara.

Hal lain yang menarik dari Tafsir al-Azhar adalah bahasa yang digunakan oleh HAMKA. Jika mufasir sebelum masa HAMKA menulis tafsir dengan aksara jawi atau menggunakan bahasa Arab, berbeda halnya dengan HAMKA yang sudah mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, HAMKA tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia asli dalam penafsirannya itu. Ada juga bahasa Minangkabau yang digunakan olehnya sebagai bahasa pelengkap dalam penafsirannya tersebut.

Salah satu contohnya adalah ketika menafsirkan ayat tentang qishash dalam surat al-Baqarah ayat 178 dan 179. Ketika menafsirkan firman Allah swt tersebut, HAMKA mengatakan:

"Dengan ajaran agama Islam, Nabi Muhammad saw telah mempersatukan bangsa Arab yang telah beratus tahun tidak mengenal persatuan, karena tidak ada suatu cita untuk mempersatukan. Agama pusaka Nabi Muhammad saw sudah tinggal hanya sebutan. Yang penting bagi mereka ialah kabilah sendiri.

Di antara kabilah dengan kabilah berperang. Bermusuh dan berebut tanah pengembalaan ternak atau berebut unta ternak itu sendiri.

Niscaya terjadi pembunuhan, maka timbullah cakak berbelah di antara suku dengan suku atau kabilah dengan kabilah. Merasailah suku yang lemah dan kecil, berleluasalah kabilah yang besar dan kuat."

Itulah sekilas penafsiran HAMKA terkait dengan firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 178 dan 179 yang membahas tentang hukum qishash dalam Islam.

Di sini penulis tidak akan mengomentari lebih lanjut terkait dengan qishash dan hal lain yang berkaitan dengannya dalam perspektif HAMKA, tetapi titik tekan penulis adalah terkait dengan penggunaan bahasa Minangkabau oleh HAMKA dalam penafsirannya di atas.

Pada penjelasan di atas, ada dua bahasa Minangkabau yang digunakan oleh HAMKA, yaitu cakak berbelah dan merasailah.

Cakak berbelah merupakan istilah yang digunakan oleh orang Minangkabau untuk menggambarkan akibat permusuhan yang sudah mengakar antara dua kelompok. Sehingga dengan permusuhan itu, kedua kelompok tidak mungkin bisa disatukan kembali.

Adapun kata merasailah, artinya adalah menderita. Dalam penjelasan HAMKA di atas, "Maka merasailah suku yang lemah dan kecil", maka artinya adalah "maka suku yang lemah dan kecil akan menderita".

Terkait dengan penggunaan bahasa Minangkabau oleh HAMKA dalam tafsirnya itu, setidaknya penulis memiliki tiga hipotesis terhadapnya. Pertama, penggunaan bahasa Minangkabau oleh HAMKA dalam Tafsir al-Azhar berfungsi sebagai penekanan atau penguatan.

Dalam tradisi Minangkabau, ketika seseorang berbicara dengan bahasa non-Minangkabau, namun ketika di tengah-tengah penjelasannya ia menggunakan bahasa Minangkabau, maka ini mengisyaratkan bahwa tujuan digunakannya bahasa Minangkabau itu adalah sebagai penguatan terhadap kata sebelumnya.

Seakan-akan maksud yang disampaikan oleh si pembicara dengan menggunakan bahasa non-Minangkabau itu belum tersampaikan kecuali hanya bisa dikuatkan dan ditekankan sekali lagi dengan menggunakan bahasa Minangkabau.

Oleh karena itu, penulis berkesimpulan bahwa penggunaan bahasa Minangkabau oleh HAMKA dalam Tafsir al-Azhar adalah sebagai penguatan dan penekanan.

Kedua, sebagai identitas diri. Kita sama-sama tahu bahwa HAMKA merupakan orang Minangkabau yang lahir di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam. Kendati sudah lama menetap di luar daerah Minangkabau, ternyata,sebagai seorang Minangkabau tulen, HAMKA tidak pernah menghilangkan identitasnya.

Hal ini bisa dilihat dengan bahasa yang digunakannya ketika menjelaskan ayat suci Alquran yang tertuang dalam Tafsir al-Azhar. Di samping bahasa Indonesia, ternyata ia juga menyelipkan bahasa Minangkabau sebagai bahasa pelengkap dalam tafsirnya tersebut.

Maka penggunaan bahasa Minangkabau dalam Tafsir al-Azhar oleh HAMKA adalah untuk menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang orang Minangkabau asli. Seakan-akan dalam tafsirnya itu terselip kata yang mengatakan bahwa "saya adalah orang Minangkabau".

Ketiga, untuk memperkenalkan bahasa Minangkabau. Melalui karyanya tersebut, HAMKA ingin mengatakan bahwa Indonesia ini kaya akan budaya dan bahasa. Salah satu di antara bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia itu adalah bahasa Minangkabau.

Maka dengan Tafsir al-Azhar ini HAMKA ingin memperkenalkan bahasa Minangkabau sebagai sebuah khazanah bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Terlepas dari itu semua, ini hanyalah hipotesis dan pendapat pribadi dari penulis yang boleh disetujui dan boleh tidak. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menambah dan memperkaya wawasan kita semua.