Hari ini saya membaca kembali sebuah status di FB yang memperdebatkan mengenai bahasa yang islami. Masih banyak orang yang berpikir bahwa ucapan “Asalamualaikum” atau jawaban “Wa’alaikumsalam” itu milik agama Islam. Ada juga yang mengatakan ucapan “Syalom” itu milik agama Kristen. 

Statement itu dasarnya dari mana? Apa karena Islam muncul di Arab, lantas bahasa Arab jadi bahasa Islam? Kalau begitu, kasihan nonmuslim yang tinggal di jazirah Arab ya. Sama seperti bahasa Inggris atau bahasa Ibrani (bahasa Yahudi), apa lantas jadi bahasa Kristen? Ya tidak begitu juga, Ferguso.

Tahukah Anda bahwa nonmuslim yang ada di jazirah sejatinya juga menggunakan ungkapan-ungkapan sama seperti ungkapan yang oleh sebagian orang dikira islami tersebut. Mereka juga menggunakan frasa “Allahu Akbar”, “Insha Allah”, “Alhamduillah” dan sebagainya. Ya, tentu saja mereka menggunakannya, karena itu hanya Bahasa Arab saja dan bukan bahasa milik Islam.

Sebaliknya warga muslim yang tinggal di Israel atau tempat lain yang mayoritas penduduknya nonmuslim seperti di Amerika, tentu mereka juga akan menyesuaikan dengan bahasa setempat untuk berkomunikasi. Jadi Bahasa Ibrani yang merupakan bahasa resmi di Israel atau Bahasa Inggris yang merupakan bahasa resmi di Amerika tentu akan digunakan juga oleh orang muslim.

Saya sendiri pernah dikritik teman-temas sesama muslim. Mereka katakan, sebagai muslim saya harus lebih sering mengucapkan kata yang “islami”, seperti “barakallah fi umrik” untuk mengganti ucapan selamat ulang tahun, lalu “jazakallahu khairan katsir” untuk mengganti ucapan terima kasih, dan sebagainya. 

Saya katakan kepada mereka, siapa yang bilang kalimat-kalimat tersebut islami? Itu hanya bahasa Arab dan bukan representasi dari Islam. Teks itu tidak punya agama, yang punya agama, tentunya adalah pengucapnya, itu pun kalau dia tidak agnostik.

Kalau pun saya gunakan ucapan dalam bahasa Arab tersebut, itu bukan karena kalimat tersebut islami, tapi memang saya sedang ingin saja menggunakannya, seperti halnya saya terkadang mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Ucapan “barakallah fii umrik” adalah bahasa Arab dan itu setara dengan “happy birthday” dalam bahasa Inggris. Setara juga dengan “selamat ulang tahun” di bahasa Indonesia dan “o tanjyoubi omedeto gazaimasu” dalam bahasa Jepang. Demikian juga dengan ucapan-ucapan lainnya yang sering diklaim sebagai ungkapan yang islami. Semua itu hanyalah bahasa, dan sama sekali bukan milik orang Islam saja.

Pengucapan kalimat-kalimat tersebut tidak harus dikaitkan dengan agama atau kepercayaan tertentu, karena memang tidak ada hubungannya. Bagi saya mengucapkan sesuatu dalam bahasa apa pun tidak menjadi persoalan penting, bahkan saya sering sekali mengucapkan kata “syalom” atau “happy birthday”, bahkan terkadang saya kombinasikan dalam dua bahasa, seperti misalnya “happy milad ya”. Pahami bahwa bahasa itu tidak merepresentasikan agama atau keyakinan tertentu.

Saya tidak mengerti mengapa banyak orang sulit sekali membedakan antara Arab dan Islam. Memang Islam itu turun di Arab, tapi itu tidak menjadikan Arab itu identik dengan Islam. Belajar Bahasa Arab bagi seorang muslim tentu baik, karena memang kitab suci umat muslim, Alquran itu berbahasa Arab, itu akan memudahkannya memahami isi Alquran. 

Meskipun Alquran berbahasa Arab, itu tidak berarti Bahasa Arab milik orang Islam. Bagi nonmuslim seperti Nasrani atau yahudi dan tinggal di Arab, maka mereka tentu menggunakan Bahasa Arab juga. Mereka juga menggunakan ungkapan seperti yang kita sangka bahasa islami, seperti “Allahu Akbar”, “asalamualaikum”, “alhamdulillah” dan lain sebagainya. Kesimpulannya Bahasa arab adalah milik orang Arab, tidak peduli apa pun keyakinannya.

Seperti halnya dalam bahasa, hal tersebut juga berlaku dalam pakaian. Banyak sekali kalangan yang beranggapan gamis dan sorban itu adalah pakaian Islam. Apa benar gamis dan sorban itu pakaian Islam? tentu tidak, itu adalah pakaian Arab.

Nabi Muhammad saw. berpakaian gamis itu karena beliau adalah orang Arab, seperti juga Abu Jahal –musuh Nabi Muhammad saw. yang menentang Islam—juga berpakaian gamis dan sorban. Nabi mengenakan pakaian gamis dan sorban karena beliau menghargai pakaian nasionalnya.

Saya jadi ingat apa yang dulu pernah dikatakan Gusdur, beliau berkata, jika ingin mengikuti sunah Nabi, caranya tentu bukan lantas menjadi orang Arab dengan berbahasa Arab dan mengenakan gamis serta sorban, tapi hargai budaya sendiri dengan berbahasa nasional dan juga mengenakan pakaian nasional sendiri, jangan lantas jadi kearab-araban.

Beliau juga mengingatkan kita semua agar janganlah sok kearab-araban, karena itu bisa mencabut kita semua dari akar budaya kita sendiri. Banggalah berpakaian batik dan kebaya, karena itu adalah pakaian nasional kita. Sarung dan peci juga merupakan budaya Melayu yang perlu dilestarikan.

Jadi mulai sekarang jangan takut mengucapkan sesuatu dalam bahasa apa pun juga, karena sejatinya bahasa tidak memiliki agama, bahasa itu agnostik.