Sebelumnya, saya harus akui, saya tak pernah membenci Bahasa Inggris. Saya, bahkan, pernah mengikuti kursus beberapa bulan di Kampung Inggris, lalu mengambil ujian TOEFL beberapa bulan kemudian. Iya, saya mengambil tes TOEFL ITP. 

Bagi pembaca yang belum mengetahui tentang TOEFL, jenis TOEFL ada banyak. Setahu saya, jika ingin melamar di salah satu universitas di Amerika atau negara tertentu, kita harus memilik TOEFL IBT.

Yang pasti, sederhananya, tes yang saya maksudkan di atas adalah tes yang akan mengukur sejauh mana kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris. Saya pikir, penjelasan itu sudah cukup.

Demi menghemat ruang, saya tak akan membahas secara rinci jenis TOEFL. Maafkan saya. Jika ingin mengetahui perbedaan dan jenis TOEFL, silakan cari saja informasinya menggunakan jasa Google.

Tes yang saya ikuti memang masih tergolong tes yang menguji kemampuan pasif seperti membaca, mendengarkan, dan penguasaan aturan penulisan, namun, cukuplah jika hanya sekadar dipakai melamar pekerjaan. Universitas tertentu, bahkan, masih ada yang mempertimbangkan untuk dijadikan sebagai bukti penguasaan Bahasa Inggris.

Setelah tes dilalui, bagi saya hidup sama saja. Saya tetap anak Suku Pamona yang, bangga dengan bahasa daerahku. Ya, meski di awal-awal setelah tes, terkadang saya sedikit bangga jika sudah bisa sedikit berbahasa Inggris. Beruntung, saya segera sadar diri.

Bagi saya, fungsi bahasa termasuk Bahasa Inggris, selalu sama. Bahasa dipakai untuk berkomunikasi, entah lisan atau tulisan. Tidak lebih. Kalau misalnya lawan bicara saya orang Amerika yang tak bisa berbahasa Indonesia, saya akan menggunakan Bahasa Inggris.

Demikian juga dengan membaca buku dan mendengar penjelasan seseorang. Jika buku tersebut ditulis oleh seorang penutur Bahasa Inggris, saya akan membaca buku tersebut. Sebaliknya, saya tak akan membaca tulisan Seno Gumira Ajiadarma, yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Sedang untuk menonton video-video di TED, saya menggunakan kemampuan mendengarkan dalam Bahasa Inggris.

Iya, saya memperlakukan dan menempatkan bahasa Inggris seperti itu.

Tetapi, saya melihat ada fenomena lain yang terjadi di Indonesia. Sebagian dari penduduk kita, cenderung memperlakukan Bahasa Inggris sebagai sesuatu yang “wah.” Hal ini, saya sadari dan jumpai, ketika beberapa bulan tinggal di Jakarta. Begini ceritanya.

Suatu sore, saya diajak oleh Om ke kedai kopi. Kami memesan minuman dan makanan, ya, sambil saya menemani Om saya yang  sedang mengerjakan tugasnya. Soal daftar menu, mungkin sebagian dari pembaca, sudah sering menjumpai daftar menu yang menggunakan Bahasa Inggris. Padahal, dari yang saya baca, hampir semua daftar menu tersebut bisa ditulis dalam Bahasa Indoenesia.

Mengapa harus menggunakan Bahasa Inggris? Apakah, akan menjadi kurang keren jika ditulis dalam Bahasa Indonesia? Bagaimana, jika yang masuk ke kedai tersebut, orang yang tak tahu Bahasa Inggris? Entahlah.

Cerita tak hanya berhenti di titik itu.

Saat sedang menyeruput minuman, di belakang tempat duduk saya yang memang diatur sangat berdekatan, ada dua orang perempuan yang sedang bercerita. Suaranya cukup keras, sehingga saya dengan jelas dapat mendengarnya. Sambil ya, saya sesekali melihat ke belakang.

“At least, dia harus mengerti aku juga, dong,” demikian kata seorang perempuan yang satu, sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya. Selanjutnya, kedua perempuan tersebut, saling melempar mendapat. Yang pasti, keduanya berbicara dengan mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Itu hanya sedikit contoh tentang Bahasa Inggris di Indonesia. Sebagian orang, bahkan tokoh publik yang sering muncul di televisi, begitu bangga menggunakan Bahasa Inggris saat sedang berbicara. Padahal, menurut saya, contohnya ketika seseorang mengatakan, “Budaya membaca kita perlu ditingkatkan,” informasinya tetap akan sama, dan mungkin akan dimengerti oleh banyak orang. Tetapi, kadang-kadang, beberapa orang akan menggunakan kata “reading” untuk kata membaca.

Alhasil, seperti beberapa waktu lalu, sempat heboh sebuah ajakan yang sebenarnya baik. Namun, menjadi lucu ketika ditulis “readingan bareng.” Sungguh, saya tidak tahu, istilah itu, entah kapan menjadi baku dan diakui secara luas. Tetapi, itu sudah cukup untuk membuat kita sedikit tertawa dalam situasi yang serba tegang seperti sekarang ini.

Hal yang saya tuliskan sebelumnya, mungkin belum menunjukan bahwa sebagian masyarakat kita, merasa dan memosisikan Bahasa Inggris lebih tinggi dari Bahasa Indonesia. Bahkan, sebagian masyarakat, merasa lebih berpendidikan jika menggunakan Bahasa Inggris.

Saya ingin katakan bahwa Bahasa Indonesia juga keren dan kaya. Coba bacalah beberapa karya sastra yang ditulis oleh penulis Indonesia. Terlalu banyak kekaguman, dan juga biasanya, ada beberapa kosakata yang belum kita jumpai sebelumnya.

Serius, Bahasa Inggris, tidak semewah seperti yang diduga sebagian orang. Jangan pernah malu menggunakan Bahasa Daerah, apalagi Bahasa Indonesia. Tetapi, jangan juga membenci Bahasa Inggris, pelajarilah bahasa tersebut, bila memang sekali waktu diperlukan dalam situasi tertentu. Tetapi, jangan paksa dan bergaya menggunakan Bahasa Inggris, jika pesan yang hendak disampaikan, ditujukan kepada masyarakat yang berbahasa Indonesia.

Terakhir, saya harus bilang, khususnya bagi para lelaki yang mungkin tergila-gila pada Maudy Ayunda. Maaf, Bahasa Inggris tak akan pernah bisa untuk membuatnya jatuh cinta padamu.

Percayalah.