Agaknya sudah cukup lama saya tidak mengulas buku. Bukan karena tak ada buku yang menarik untuk diulas, tapi terlalu banyak. Dan saya belum kuasa untuk mengulasnya satu per satu.

Namun, kali ini saya bakal membahas satu buku kecil, yang bagi saya isinya cukup padat. Judul buku kecil itu adalah Bahasa; Mengetuk dan Masuk.

Sebelum membahas isinya, saya bakal memberikan gambaran fisik dan identitas bukunya.

Buku ini bisa dikatakan buku yang mungil. Ukurannya kecil, 10,8 x 16,1 cm. Jumlah halamannya pun sangat tipis, hanya v + 53 (58) halaman. Sudah kecil, tipis lagi. Maka, memiliki buku semacam begini sangat rawan hilang, terselip, atau lenyap tertumpuk buku-buku lain yang umumnya berukuran A5 (14 x 21 cm).

Buku mungil ini mungkin bisa dibilang buku saku. Tapi, berbeda dengan buku saku pada umumnya. Buku saku pada umumnya berisi pedoman, aturan, atau informasi ringkas lainnya. Buku Bahasa; Mengetuk dan Masuk berisi pembahasan isu-isu kebahasaan yang cukup menarik dan aktual.

Di dalamnya hanya ada 9 judul esai atau artikel. Ya, hanya 9 judul. Penulisnya ada lima orang, yakni Udji Kayang, Mutimmatun Nadhifah, Bandung Mawardi, Tri Winarno, dan Setyaningsih. 

Sayangnya, di dalam buku ini tak ada informasi mengenai profil para penulisnya. Yang saya baca dari pemaparan para penulisnya dalam artikel, para penulisnya adalah editor. Entahlah, silakan cari saja di Google, siapa mereka sebenarnya.

Bagi saya, siapa pun mereka, apa pun profesinya, isu dan kegelisahan yang diungkapkan dalam esai-esai di buku ini patut kita hargai dan apresiasi. Pasalnya, yang mereka bahas dalam buku ini adalah persoalan bahasa Indonesia. Tentu saja, untuk pembahasan ini, nama-nama penulisnya itu kalah beken dengan pemengaruh (influencer) seperti Ivan Lanin atau munsyi Eko Endarmoko.

Namun, sekali lagi, karya mereka perlu kita apresiasi. Dan lagi, dalam perpektif akademis maupun sosiologis, bahasa adalah suatu hal yang dinamis. Tak ada satu pun sosok, tokoh, atau pekamus yang berhak merasa dirinya sebagai otoritas bahasa. Bahkan, lembaga resmi negara pun tak punya kewenangan untuk melarang siapa saja yang boleh membahas bahasa. Bukan begitu?

Lagi pula buku kecil terbitan Penerbit Garen (Boyolali) ini menghadirkan pembahasan yang tak kalah menarik dengan apa yang kerap dibahas oleh pemerhati bahasa lainnya. Coba kita tengok judul-judul esainya lebih dulu: 1) Editor, Kamus, dan Pengarang, 2) Menjadi Editor, 3) Editor: Kliping dan Mengingat Saja, 4) Kamus-Kamus di Saku Bahasa, 5) (Ber)belanja, 6) Langgas yang Nginggris, 7) Pembahas(an) Bahasa Indonesia, 8) Kekalahan Bahasa Indonesia, 9) Bahasa, Kamus, Puisi.

Saya akan mengulas beberapa saja di antaranya yang saya anggap menarik.

"Editor, Kamus, dan Pengarang" yang ditulis Udji Kayang adalah esai pertama. Dalam artikel itu, Kayang menceritakan bagaimana sebenarnya posisi editor dalam penerbitan suatu tulisan. "Persoalan utama editor sebetulnya bukan tulisan, tetapi justru pengarang. Itulah yang membedakan editor dengan proofreader, yang betul-betul hanya mengurusi tulisan."

Bagi Kayang, editor kerjanya bukan menjadi penulis kedua, melainkan memberikan catatan-catatan kepada penulis untuk kemudian penulisnya sendiri yang memperbaikinya. "Tujuannya apa lagi kalau bukan mempertahankan autentisitas bahasa pengarang."

Selain menyesuaikan dengan gaya bahasa pengarang, seorang editor juga mesti memahami kiblat gaya bahasa yang digunakan penerbit. Editor tidak melulu berpatokan pada KBBI. Kisah Mutimmatun dalam artikel "Menjadi Editor" memberikan gambaran itu. Ia menjadi editor buku-bukunya Prof Quraish Shihab, mufasir dan intelektual terkemuka, di penerbit Lentera Hati.

Meski berpedoman pada KBBI, kata Mutimmatun, tidak semua kata mengikuti KBBI. "Yang baku itu salah, tapi buku-buku terbitan Lentera Hati menggunakan versi tranliterasi: shalat," ujarnya.

Dia pun mengungkap bahwa penulisan transliterasi bukan tugas yang mengenakkan. Karena perlu belajar banyak mengenai bahasa Arab dan Indonesia, lebih lagi banyak simbol yang digunakan untuk membedakan harakat pada suatu kata.

Membaca pengalaman Mutimmatun, kita akan mengerti bahwa tugas sebagai editor bukanlah perkara gampang. Editor adalah pembaca kedua setelah penulis. Editor juga bertugas memberikan koreksi kepada penulisnya. Sebab itulah pandangan Bandung Mawardi mengenai pentingnya peran editor ada benarnya juga. 

Dalam artikel Editor: Kliping dan Mengingat Saja, Mawardi menyebutkan, peran editor penting tapi sering kalah oleh pengarang. Kalah dalam artian, kadang ada pengarang/penulis yang lebih punya kekuatan untuk mengatur tulisannya, meskipun tak sesuai kaidah berbahasa.

Selain membahas soal dunia editorial dan pengalaman seorang editor, dalam buku ini juga terdapat pembahasan menarik mengenai perkembangan bahasa, pemilihan kata, polemik pada suatu kata, kamus, dan penggunaan bahasa dalam puisi.

Tri Winarno dalam "Langgas yang Nginggris" menyajikan isu bahasa mutakhir mengenai masyarakat tutur yang lebih gemar pakai bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. "Kosakata dan peristilahan dalam bahasa kian melimpah. Mau tak mau bahasa Indonesia mesti menyerapnya sebagai wujud memperkaya perbendaharaan kata," kata Winarno.

Dia melihat perkembangan zaman dan tumbuhnya generasi langgas, membuat munculnya penutur nginggris kian menjamur. Winarno juga memberikan beberapa contoh kasus figur publik yang kerap genit dalam berbahasa. Baginya, nginggris adalah gejala sekaligus ancaman serius bagi bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

Generasi langgas mesti menjadi penutur yang bermutu, yang paham akan identitas bahasa dan jati diri bangsanya. Melalui sikap bermutu itulah bahasa Indonesia bisa menjadi tuan di rumahnya sendiri. "... di tangan generasi langgaslah kelak nasib bahasa Indonesia ditentukan," ujarnya.