3 bulan lalu · 3406 view · 3 menit baca · Politik 84180_62610.jpg
Bahar Bin Smith | IG

Bahar bin Smith dan Ujaran Kebancian

“Kalau kamu ketemu Jokowi, ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu; jangan-jangan haid Jokowi itu; kayaknya banci itu.” ~ Bahar bin Smith

Katanya sih seorang habib, keturunan nabi. Banyak orang, juga tak sedikit media, membungkus apik namanya dengan lumuran Habib Bahar bin Smith—lengkapnya: Sayyid Bahar bin Ali bin Alwi bin Smith.

Pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara ini juga kerap dipanggil Habib Bule. Penampilannya memang mendukung untuk julukan itu. Rambut pirang gondrong dan berkulit putih kinclong sedikit memantaskan dirinya jika disebut demikian. Pokoknya, sangat beda dengan pribumi umumnya.

Itu selintas nama dan perawakannya. Tetapi apakah nama dan perawakannya saja adalah faktor utama keterkenalannya di ruang publik? Jelas bukan. Nama dan perawakan hanyalah penambal belaka. Tidak terlalu signifikan sebenarnya bagi orang yang pegang prinsip pada apa (yang disampaikan) bukan siapa (yang menyampaikan).

Umumnya ada 2 faktor kenapa seorang penceramah sangat dikenal luas. Jika bukan karena konten ceramah yang berkualitas (kaya wawasan atau mendamaikan/menyejukkan), maka itu berarti yang kontroversial (penuh tanda tanya atau provokatif). Dan Bahar bin Smith, saya kira, termasuk penceramah yang terkenal karena jenis konten yang kedua: kontroversial yang provokatif.

Bukan rahasia lagi jika Bahar bin Smith memang tergolong sebagai penyeru konten ceramah berbentuk demikian. Kasus demi kasus kerap menyeret dirinya. Bukan semata pelaporan orang karena ketidaksukaan, melainkan karena dipicu oleh ulah dirinya sendiri yang selalu tampil bak preman: memprovokasi umat, ngajak ribut dan perang ke pihak-pihak yang dinilainya berbeda.

Dan memang patut disesalkan. Kita tahu, seorang penceramah, minimal, sekadar memberi angin surga saja. Taraf tertingginya adalah memperkaya wawasan, menebar ilmu pengetahuan.

Tetapi yang mencolok dari Bahar bin Smith selaku golongan penceramah adalah percikan api neraka. Taraf terbrutalnya, yakni memprovokasi umat. Seolah perang, baginya, adalah solusi segala masalah. Ya, nyaris serupa dengan peran pegadaian: menyelesaikan masalah tanpa masalah (?).

Ujaran Kebancian

Mungkin saja ini kali pertama Bahar bin Smith menggunakan ujaran kebancian terhadap pihak yang ia benci, dalam hal ini kepada Jokowi. Sebelumnya, sosok pendiri sekaligus pemimpin Majelis Pembela Rasullullah ini terkenal gemar mengumpatkan ujaran kebencian, terbanyak melalui konten ceramah. Paslah jika ujaran (kebencian bukan kebancian) itu tertuju untuk mereka yang memang ia benci.

Seperti disebutkan di awal, Bahar bin Smith memang tergolong sebagai penceramah yang provokatif. Tercatat sudah kerap kali ia menuding Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai sarangnya orang-orang komunis, gerbongnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Berikut satu contoh ucapannya:

“Setiap ngomong PKI, PDI yang nongol. Berarti…. Sekarang saya tantang kalian, saya Bahar bin Smith mengatakan pada malam hari ini, PDI sarang PKI!”

Tak tanggung-tanggung, ia juga sempat menyebut pihak kepolisian sebagai “anjing”. Semua diseru dalam nada yang berapi-api dan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Selain ujaran kebencian, tak sekali-dua kali juga Bahar bin Smith, bersama pengikutnya, menggelar aksi-aksi agresif. Mereka sering melakukan razia dan penutupan paksa beberapa tempat hiburan.

Misalnya, di tahun 2012, ia dan pengikutnya pernah ditangkap Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan terkait kasus pengrusakan Cafe De Most di wilayahnya. “Sudah biasa dilakukan setiap bulan Ramadan saya dan pengikut sweeping ke tempat-tempat maksiat,” kilah Bahar.

Aksi brutal lainnya ternyata juga pernah terjadi di tahun 2010. Bahkan, dengan lantang dan gagah, ia membenarkan sendiri aksi dirinya menyerang Jemaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. “Iya, benar. Insyaallah itu saya.”

Sekali lagi, patut disesalkan. Sebagai penceramah, yang harusnya mencontohkan laku kebajikan, menyeru perdamaian, malah yang terasa dari Bahar bin Smith adalah ajakan perang. Agama dijadikan tameng untuk menghalalkan cara-cara biadab.

Jika dulu ujaran kebencian, semisal menyebut PDIP sebagai PKI, tuding polisi sebagai anjing-anjing PKI, maka yang mencolok dari kasus Bahar bin Smith hari ini adalah ujaran kebancian. Dan kali ini sangat terbilang berani, karena tertuju kepada sosok Kepala Negara, Presiden Jokowi.

“Kamu kalau ketemu Jokowi, kalau ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu; jangan-jangan haid Jokowi itu; kayaknya banci itu.”

Konten ujaran kebancian dan reaksi masyarakat terhadapnya kemudian memaksa Jokowi Mania dan Cyber Indonesia melaporkan Bahar bin Smith ke penegak hukum. Seperti diterangkan Ketum Cyber Indonesia Muannas Alaidid, ceramah Bahar sudah melampaui batas.

“Kegelisahan banyak orang, khusus di media sosial, mendesak saya untuk melaporkan. Polisi harus berani proses hukum. Polisi jangan gentar. Saya yakin masyarakat tidak mendukung praktik-praktik kebencian model begini, termasuk pendukung Pak Prabowo.”

***

Demi syiar Islam, apakah cara-cara brutal seperti sering ditunjukkan Bahar bin Smith selama ini mesti kita pantaskan? Bukankah Islam bertitik tumpu pada misi perdamaian?

Banyak riwayat menyebut, Islam adalah rahmah. Ajaran-ajaran yang dikandungnya adalah tentang kasih sayang, kepada siapa pun! Itulah yang mengokohkan eksistensinya dan tetap eksis sampai hari ini.

Akan tetapi, jika agama ini malah mengajarkan hal yang sebaliknya, maka mari kita tinggalkan saja. Sangat tidak baik bagi kesehatan.